03 Januari 2009

Saatnya Rakyat Palestina Menyatukan Diri dalam Intifada ke-3

Zely Ariane *

Bulan Juli tahun 2008 lalu, Barrack Obama, Presiden baru AS berkata: “Jika seseorang meluncurkan roket ke rumah saya ketika kedua puteri saya sedang tidur, maka saya akan melakukan segala daya upaya untuk menghentikannya, dan saya harap rakyat Israel juga melakukan hal yang sama” (www.Solidarity-US.org). Pada tanggal 27 Desember 2008, harapan Obama itu terwujud lewat serangan udara Israel yang meluluhlantakkann Gaza, dan menewaskan tak kurang dari 280 orang. Tak berhenti, segala daya upaya yang dimaksudkan Obama terbukti dilakukan oleh tentara Israel, dengan buah kesuksesan sedikitnya 429 orang tewas dan 2.000 orang lainnya luka-luka. Perwakilan PBB menambahkan, lebih dari setengah yang terbunuh itu adalah warga sipil, sementara korban dari pihak Israel sedikitnya 4 orang meninggal (detik.com). Obama, hingga saat tulisan ini diangkat, tidak berujar sepatah katapun.

Sayang sekali, Tiffatul Sembiring (Ketua Umum PKS) malah melayangkan pengharapannya pada Obama, sambil mencerca George Bush, disela-sela aksi solidaritas PKS untuk Palestina beberapa waktu lalu di Jakarta. Benar-benar pengharapan yang salah alamat.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, tampak sumringah tampil di televisi baru-baru ini, berbagi tawa dengan Hosni Mubarak, pemimpin besar Mesir. Bahkan menurut New York Times, Menteri Luar Negeri Mesir, Ahmed Aboul Gheit, menanggapi serangan tersebut dengan menyerukan Hamas agar memperbaharui genjatan senjatanya dengan Israel (www.Solidarity-US.org). Tak jauh berbeda dengan Bush, yang menyatakan bahwa Hamaslah biang keladi semua persoalan yang menimpa Palestina saat ini, yang menyebabkan Israel menjatuhkan misil-misilnya (www.news.bbc.co.uk).

Tak heran jika Mesir dengan sengaja kemudian menutup perbatasannya dari gelombang para pengungsi Palestina dan bantuan internasional. Pantas pula kemudian pemerintahan Mubarak menjadi sasaran demonstrasi solidaritas rakyat Mesir terhadap Palestina, seperti pemerintah AS dan Israel yang menjadi sasaran kemarahan rakyat di negerinya sendiri dan di seluruh dunia, yang tidak terima atas serangan brutal Israel tersebut.

Mengapa Penyerangan Kembali?

Seorang wartawan Kompas dalam wawancaranya di Metro TV beberapa waktu lalu mengatakan, bahwa serangan Israel ini dibutuhkan oleh partai berkuasa, Kadima, dibawah kepemimpinan Tzipi Livni, untuk menaikkan popularitas mereka di dalam negeri yang terancam kalah dari Partai Likud pada Pemilu Februari 2009 mendatang. Menurut saya, serangan tersebut, cepat atau lambat, memang harus dilakukan Israel, karena Hamas tak juga sanggup mereka tundukkan. (Apakah serangan juga bisa bergulir menjadi salah satu jalan keluar terhadap krisis ekonomi melanda dunia saat ini? Tentu perlu analisa lebih lanjut menyangkut kesimpulan ini)

Serangan Israel ini tak bisa dilepaskan dari proses perdamaian Palestina (Hamas)-Israel yang alot selama lebih kurang 2,5 tahun ini (setelah serangan ‘terakhir’ Israel dalam operasi Hujan Musin Panas 28 Juni 2006 lalu—lihat artikel di bawah). Apalagi kelompok Fatah—adalah kelompok moderat yang kalah dalam pemilu Palestina 2006 dan sangat kompromis dengan Israel dan AS—terus menerus ‘mengganggu’ kekuasaan Hamas di dalam negeri.

Selama rakyat Palestina bisa dipecah belah; tidak menyatukan dirinya dalam gerakan perjuangan pembebasan dari pendudukan Israel dan imperialisme AS, maka selama itu pula intervensi Israel akan semakin dipermudah, termasuk mencaplok semakin banyak wilayah Palestina.

Bersatu, Lancarkan Gerakan Intifada ke-3

Tidak berkutiknya Dewan Keamanan PBB (Sekjend PBB, Ban Ki-Moon, hanya bisa menggerutu atas nama pribadinya saja) dan Liga Arab dihadapan penolakan damai dari raksasa modal Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, adalah bukti bahwa kedua alat diplomasi ini tidak bisa diandalkan lagi. Tidak mungkin DK PBB berseberangan dengan pemegang hak veto terkuatnya: AS.

Oleh karena itu, satu-satunya jalan bagi rakyat Palestina adalah menyatukan kekuatannya untuk melancarkan Gerakan Intifada ke-3. Gerakan Intifada ini bukan gerakan melawan kaum Yahudi. Karena jutaan rakyat pekerja Yahudi di Israel juga menjadi korban dari kebrutalan pemerintah Israel. Kaum pekerja Israel juga dipaksa membayar nyawanya atas perang yang tidak pernah mereka kehendaki.

Menurut situs WAC-MAAN, sebuah serikat buruh independen Israel, klaim Israel bahwa serangan ke wilayah Gaza adalah untuk melindungi penduduk wilayah Selatan tidaklah benar. Karena penduduk di wilayah ini mayoritas adalah kelas pekerja miskin, yang harus berjalan hingga 200 km hanya untuk mencari majikan mana yang mau mempekerjakan mereka. Akibat kebijakan diskriminasi pemerintah Israel, terdapat 1,2 juta penduduk Arab-Israel yang hidup di bawah garis kemiskinan tanpa pekerjaan. Kelompok-kelompok masyarakat inilah yang saat ini menolak penyerangan Israel terhadap Palestina; yang artinya adalah potensi sekutu bagi gerakan Intifada ke-3.

Gerakan Intifada ke-3 tetap bertujuan untuk pembebasan Palestina dari pendudukan Israel menjadi sebuah negara Merdeka (dengan luas wilayah perjuangan yang harus diputuskan melalui sebuah mekanisme demokratik yang melibatkan seluruh rakyat Palestina). Perjuangan ini sekaligus mesyaratkan perlawanan terhadap imperialisme AS, karena tidak akan ada negara Palestina merdeka tanpa perlawanan terhadap imperialisme AS di Timur Tengah termasuk sekutu-sekutu Arabnya.

Untuk itu, Hamas, dan rakyat Palestina, harus meluaskan sekutu perjuangannya bukan saja dikalangan pemeluk agama Islam, tapi juga seluruh rakyat yang menjadi korban dan yang sedang melawan imperialisme AS di dunia. Rakyat pekerja Israel, yang melawan kebijakan perang pemerintahnya, adalah sekutu rakyat Palestina. Rakyat Iran dan Lebanon yang menolak dominasi AS, adalah sekutu perjuangan, termasuk di bagian bumi sebelah selatan terdapat rakyat Venezuela dan Kuba, dua negara Sosialis yang secara terbuka menyatakan diri mendukung kemerdekaan Palestina, dan sedang memberikan alternatif diluar model imperialisme AS.

*Dept. Pendidikan dan Propaganda Dewan Harian Nasional – Persatuan Politik Rakyat Miskin

_____________

Untuk memberikan latar belakang terhadap analisa di atas, silahkan dibaca artikel di bawah ini (ditulis 2,5 tahun lalu):



Memerdekakan Palestina dengan Melawan Imperialisme AS

31 Juli 2006

Zely Ariane

Perang Israel terhadap Palestina dan Lebanon semakin brutal. Klaim Israel dalam menyerang Gaza lewat Operasi “Hujan Musim Panas” 28 Juni lalu adalah untuk membebaskan seorang tentaranya yang ditawan gerilyawan Palestina. Demikian halnya dengan penyerangan terhadap Lebanon sebagai pembalasan atas kematian delapan tentara Palestina yang memasuki wilayah itu sekaligus ‘membasmi’ Hisbullah. Kedua alasan ini sudah terbukti omong kosong.

Lebih dari seminggu ‘pembasmian’ dimulai, lima ratus ribu jiwa berhasil dipaksa mengungsi dari Lebanon dan 375 lainnya dibuat meninggal. Tak sebesar dan secanggih Israel [yang mampu membombardir dan memblokade Lebanon dari darat, laut dan udara dengan pesawat dan tank-tank modern sumbangan AS], pembalasan yang dilancarkan Hizbullah dengan tak kurang 1000 roket berjarak luncur pendek ‘hanya’ mampu menewaskan 36 jiwa dan 300.000 lainnya mengungsi dari Israel Utara.

Sementara di Gaza, mulai dengan alasan pembebasan Gilad Shalit hingga pengamanan perbatasan Israel dari roket Qassam gerilyawan Palestina, di tiga minggu pertama penyerangannya, sudah lebih dari 120 kali Israel melakukan bombardir udara. Serangan itu menghancurkan stasiun listrik satu-satunya di kota itu, memblokade tiga jembatan utama dan jalan masuk menuju Gaza. Kota itu terisolasi hingga kini. Hampir mustahil manusia, bahan makanan, air dan obat-obatan mencapai wilayah itu. Lebih dari 3000 orang yang sangat membutuhkan pertolongan medis dilarang memasuki perbatasan Mesir.

Tentu saja perang ini bukan lagi perang untuk menuntut pembebasan Gilad Shalit dan tentara lainnya ataupun hanya menyangkut pertukaran ribuan tahanan Palestina di Israel dengan tentara-tentara Israel yang disandera. Amnesty Internasional sudah menyatakan bahwa Israel melanggar pasal 33 dari Konvensi Keempat Jenewa (yang tidak mengizinkan penghukuman kolektif terhadap populasi sipil dan penghancuran infrastruktur publik).

Penyerangan ini tak lain adalah upaya lanjutan menegakkan kekuasaan Israel atas Palestina dan Timur Tengah pada umumnya [ingat bahwa wilayah-wilayah di Tepi Barat sudah semakin banyak diduduki oleh Israel melalui penghancuran dan pengambilalihan tanah-tanah rakyat Palestina dan meluaskan koloninya dengan menyebarkan pemukiman, hingga membangun benteng-benteng yang mengakibatkan konflik SARA].

Pembenaran atas penyerangan ini juga tak lain merupakan dalih dari upaya ‘penggulingan’ terhadap kekuasaan HAMAS dan Hisbullah yang secara demokratik dipilih rakyat Palestina dan mendominasi pemerintahan Otoritas Palestina dan Lebanon saat ini.

Penjajahan adalah Akarnya, Kekerasan Menjadi Buahnya

Sering dilupakan bahwa sumber konflik berkepanjangan Israel-Palestina adalah penjajahan Israel terhadap Palestina dan dukungan imperialisme AS terhadap Israel. Serangan Israel terhadap Gaza saat ini bukanlah satu hal yang baru ataupun tak biasa. Selama pendudukan ilegalnya terhadap Palestina tahun 1967, Israel secara berkala melakukan serangan militer ke jalur Gaza dan Tepi Barat.

Kesewenangan Israel selama puluhan tahun dijawab oleh kenekatan gerilyawan-gerilyawan Palestina, mulai perang batu hingga bom bunuh diri: sulit menemukan jalan lain (dalam film semi dokumenter Paradise Now, sineas Israel dengan sangat baik menggambarkan kemarahan psikologis yang dirasakan mayoritas pemuda Palestina terhadap pendudukan Israel). Palestina tak memiliki kekuatan militer secanggih Israel yang sudah dibantu AS sejak pendudukannya awal abad 20.

Penjajahan juga menyebabkan kemiskinan yang brutal di Palestina. Pengangguran hingga 30%, sementara sisanya dipaksa bekerja dengan upah sangat murah bagi industri-industri negeri penjajahnya, Israel. Ketika Israel semakin jaya; ia pun semakin buas; dan wilayahnya semakin meluas, hingga Palestina dibuat semakin miskin, terhimpit dan menyempit dari hari kehari.

Perang terhadap Zionisme Tidaklah Cukup

Adalah sebuah pandangan yang sangat sempit dan memperkeruh persoalan dengan menganggap konflik Palestina-Israel sebagai perang Islam melawan zionisme (yahudi). Adalah keliru memukul rata zionisme sebagai ideologi orang-orang yahudi, setelah sejarah menyatakan bahwa zionisme ini tidak serta merta lahir dan didukung oleh seluruh orang-orang yahudi.

Tentu saja kita tidak akan pernah mendukung zionisme dan syariah Islam sekalipun yang mendukung eksploitasi manusia terhadap manusia lainnya. Konsep ini akan mampu menjelaskan protes ribuan orang Yahudi AS yang turun ke jalan menentang serangan Israel dan misil-misil pembunuh AS ke Palestina. Puluhan ribu kaum buruh Israel bersolidaritas menolak agresi militer terhadap rakyat Palestina sepanjang 2001 dan 2002.

Bangsa yahudi bukan musuh Islam, demikian sebaliknya. Oleh karena itu, adalah penting meletakkan persoalan Israel-Palestina sebagai konflik akibat kebrutalan sistem kapitalisme, ekses-ekses fasisme, dan praktek rasialisme (pendirian sebuah negara Israel dengan Theodor Hertzl sebagai penggagasnya tidak pernah menolak ide-ide kapitalisme dan rasialisme).

Negara Israel berdiri sebagai representasi kepentingan imperialisme di Timur Tengah, terutama minyak. Amerika Serikat dan Inggris adalah negeri yang secara historis menopang ekonomi kapitalis Israel, dan berkepentingan memelihara kontrolnya di Timur Tengah. Sejak tahun 1946-1996 tak kurang $62,5 miliar bantuan AS terhadap Israel (jauh lebih besar dari bantuan negara itu terhadap sebagian negara-negara Afrika, Amerika Latin dan Karibia). Lima puluh persen sumber minyak Timur Tengah sudah dimiliki AS, dan sisanya ‘dibagi-bagi’ untuk Inggris, Perancis dan Belanda.

Hamas Menang, Israel-AS Berang

Yang tak pernah takluk dan surut adalah gelombang perlawan rakyat Palestina; aktivis-aktivis organisasi kerakyatan Israel; dan solidaritas internasional untuk menuntut kemerdekaan Palestina sebagai negara berdaulat. Opsi-opsi jalan keluar yang sebetulnya sudah banyak ditawarkan namun tak sudi dipenuhi AS dan Israel adalah; pertama (paling minimal) sesuai resolusi PBB II 181 tahun 1947 yang memberikan Israel 54%, Palestina 46% dan Jerussalem sebagai wilayah netral internasional atau perundingan ulang menyangkut pembagian wilayah dan Jerusalem sebagai zona netral (damai); kedua, Israel harus menghentikan pendudukannya terhadap dan menarik pasukannya dari Jalur Gaza dan West Bank; ketiga, AS harus menghentikan bantuan militernya pada Israel.

Menjadi hak rakyat Palestina yang tak memiliki jalan lain untuk melakukan Intifada (kebangkitan rakyat) I (1989) dan II (2000) yang membuahkan perluasan radikalisasi rakyat Palestina hingga mempu melawan dominasi dan hegemoni Fatah (yang memimpin Otoritas Palestina) yang terbukti korup dan terus menerus takluk terhadap Israel dan AS.

Kemenangan demokratik Hamas pada pemilu Palestina bulan Januari lalu adalah bukti dukungan rakyat atas kemerdekaan Palestina menjadi sebuah negara berdaulat (tidak lagi menjadi otoritas palsu dibawah rongrongan Israel). Ekonomi Palestina yang bangkrut (hingga untuk membayar gaji para pegawainya bertopang pada bantuan internasional) disebabkan oleh agresi Israel selama puluhan tahun. Rakyat sepenuhnya sadar situasi ini, oleh karena itu, disaat-saat seperti ini justru dukungan terhadap Hamas semakin menguat dan kebencian mereka terhadap Israel semakin membuncah.

Rangkaian perundingan antara Hamas dan Fatah menyangkut persoalan tersebut dikabarkan hampir mencapai titik temu sesaat sebelum Israel melancarkan agresinya ke jalur Gaza. Karena selama ini Fatah adalah salah satu alat AS untuk meredam radikalisasi rakyat Palestina, maka persatuan atau setidaknya kompromi yang dilakukan Fatah terhadap Hamas (posisi Fatah semakin melemah pasca pemilu) akan sangat mengkhawatirkan kepentingan imperialisme AS lewat Israel.

Perang teror yang sedang dikobarkan AS di seluruh dunia saat ini (terutama terhadap Timur Tengah dimana kepentingan ekonominya paling besar) menghendakinya untuk memperkuat posisi anti terhadap Hamas. Itulah sebabnya, sejak awal, AS sudah menyatakan pemerintah HAMAS akan membahayakan apa yang mereka sebut ‘perdamaian’ (baca: kompromi) Palestina-Israel.

Solidaritas yang dibutuhkan Rakyat Palestina

Solidaritas internasional yang dibutuhkan oleh rakyat Palestina adalah solidaritas demokratik melawan imperialisme dan perang teror AS; bukan dengan mengobarkan perang terhadap yahudi. Aksi solidaritas PKS (Partai Keadilan Sejahtera) terhadap kemerdekaan Palestina seharusnya juga menjadi aksi melawan imperialisme AS terhadap Palestina dan dunia. Isu Palestina dan Timur Tengah bukanlah isu umat islam semata, karena konflik berkepanjangan di Timur Tengah adalah bagian dari skenario besar dominasi imperialisme terhadap sumber-sumber energi dunia (terutama minyak).

Sikap-sikap ambigu sebagian besar pemerintah di timur tengah dan OKI—termasuk pemerintah Indonesia—terhadap kemerdekaan Palestina menunjukkan bahwa mereka takluk terhadap kejahatan imperialisme AS, bahkan tak segan menjadi agen-agen imperialisme AS di dalam negerinya masing-masing. Inilah penyebab utama tergadainya moral kebaikan relijius Islam di Timur Tengah.

Oleh sebab itu, persatuan seluruh rakyat yang menjadi korban kejahatan imperialisme AS-lah yang harus digalang. Tidak memandang agama, suku, wilayah dan bahasa, kita saat ini sudah disatukan oleh penderitaan, kemiskinan, keterbelakangan, ketergantungan yang sama akibat dominasi kekuasaan modal barat yang merenggut harkat, martabat dan kemerdekaan umat manusia.

Kesulitan serupa sekarang mulai meluas dirasakan oleh rakyat di negeri-negeri barat sendiri. Semakin sedikit uang untuk pendidikan dan kesehatan serta pelayanan publik lainnya, semakin tak ada pekerjaan permanen yang mampu disediakan pemerintahnya. Karena uang hasil pajak, juga hasil penghisapan dari negeri-negeri selatan, digunakan untuk memerangi negeri-negeri yang dianggap tidak selaras dengan kepentingan Washington.

Oleh karena itu, mereka mulai bangkit, sadar, dan bersolidaritas terhadap teman-teman sependeritaannya di bagian bumi selatan. Aksi-aksi anti perang Irak dan Afganistan, kemerdekaan untuk Palestina, penghapusan hutang negeri-negeri dunia ketiga, adalah beberapa bentuk solidaritas internasional yang saat ini meluas. Jangan kecilkan persatuan sesama rakyat tertindas di dunia dengan sentimen-sentimen agama belaka, karena dengan sentimen itu pula imperialisme memiliki kesempatan untuk memecah belah perlawanan rakyat di seluruh dunia.

Kemerdekaan untuk Palestina dan kemerdekaan rakyat di seluruh dunia dari imperialisme adalah cita-cita solidaritas internasional kita. (zy)

1 komentar:

samkamaruzaman mengatakan...

Ok, boleh kita sedikit mengomentari atau beropini dan atau mengutuk aksi brutal Bangsat Israel ke Palestine, tapi kita harus tetap konsentrasi pada perjuangn system sosialisme di negara ini, fenomena2 yang terjadi seperti antriam bahan pokok, BBM di daerah2 yang belum terprogram pengkoversian minyak ke gas, serta lambatnya supply gas akibat sysytem konversi yang tidak terprediksi oleh pemerintah mengakibatkan semakin terpuruknya kondisi perekonomian negeri ini. kondisi seperti ini hampir sama ketika UNI Sviet dibawah Stalin menerapkan system Sosilais komunal yang salah akibatv dari pemaksaan atau penginterprestasian yang "miring"dari rezim itu yang berkibat kehancuran negara itu sendiri. dan sekarang tanda2 kehancuran sudah terlihat di negeri ini, para pelaku kapitalis yang semakin berkompestisi sehingga menyebabkan pengekploitsian kaum buruh, BUMN yang dikuasai Pemerintah juga tidak mampu mensejahterakan rakyat dengan dalih merugi; belum lagi budaya baru Negeri ini yaitu budaya import yang semakin menambah panjang daftar kemiskinan dan pengangguran dan juga kalau kita perhatikan maka sistem ketata negaraan negera kita ini juga terlihat absurd, mana yang akan dijalankan; program Partai (Parlementer) atau program Presiden (Ptresidensiil). lalu apa yang akan kita lakukan? mari kta tetap berkonsentrasi dengan keterprukan Negara ini dengan terus berjuang di jalue extra parlementer untuk tercapainya suatu system Sosial yang mengacu ke-kesejahteraan Rakyat. HIDUP SOSIALIS

TERBITAN KPRM-PRD