24 September 2008

[Debat] Bualan PRD-PAPERNAS

Arah Perjuangan Sebenarnya
dan Taktik Peleburan PRD-PAPERNAS Ke Partai Bintang Reformasi (PBR)
(Siapakah Sebenarnya kekuatan Anti-Neoliberalisme)[1]



Oleh: Budi Wardoyo [2]

Seperti yang sudah di tulis oleh Rudi Hartono, dalam artikelnya Menyikapi Partai Yang Hanya Bisa Menjual Mimpi, jurnal online arahkiri2009.blogspot.com, ia mengambarkan situasi arena pemilu 2009 sebagai berikut:

1. Bahwa GOLPUT yang terjadi di ajang-ajang PILKADAL bukan semata-mata persoalan teknis, namun persoalan politis, persoalan kesadaran rakyat yang bosan dengan janji-janji kosong partai dan elit politik, dan sangat mungkin GOLPUT dalam jumlah yang signifikan akan terjadi pada Pemilu 2009 nanti [3];
2. Janji-janji (atau program-program) yang ditawarkan oleh Parpol atau Elit Politik, mengambil posisi politik yang membela rakyat, atau dalam bahasa Rudi, begitu luhur.
3. Ketidakkonsistenan [4] Partai Politik dan Elit Politik dalam kampanye dan praktek politik sehari-hari, menurut Rudi, disebabkan tiga hal, pertama, Partai tidak punya Ideologi, sehingga tidak punya pijakan dan arah untuk memenuhi kehendak kolektif rakyat. Kedua, belum ada instrumen politik rakyat yang mampu mengontrol para elit politik ini, Ketiga, persoalan budaya. [5]

Terlepas dari solusi yang ditawarkan Rudi, saya akan mengajak kita untuk menilai dulu situasi yang dijelaskan oleh Rudi, kemudian menganalisa posisi PRD-PAPERNAS yang meleburkan diri dalam PBR.

Saya akan mulai dulu dari kesimpulan Rudi: bahwa Partai-Partai di Indonesia tidak punya Ideologi. Kesimpulan ini menurut saya jelas salah besar. Justru, sebaliknya, Partai-Partai di Indonesia mempunyai Ideologi—dan bukan sembarang Ideologi, melainkan Ideologi yang sudah berumur sangat tua, yakni Ideologi Kapitalis. Dan seluruh praktek politik semua partai (peserta pemilu) dilandaskan pada keyakinan: bahwa ideologi yang berlandaskan pengusaan modal oleh segelintir orang, dan pengisapan terhadap mayoritas orang lainnya, merupakan satu-satunya ideologi yang bisa sangat baik buat rakyat Indonesia.


Cara pandang seperti itulah yang membuat kenapa semua partai dengan mudah melakukan program privatisasi, program pencabutan subsidi atau program penanaman modal yang liberal. Dengan demikian, sesungguhnya, semangat kemandirian yang disebut-sebut dalam banyak statement Elit-Elit Politik Indonesia saat ini hanyalah retorika belaka; sebenarnya, dalam praktek (bahkan di benak mereka) tak pernah ada keberanian membangun, mensejahterakan rakyat, dengan kemandirian.

Ketergantungan tersebut memang ada alasannya (tapi bukan untuk dimaklumi): karena secara material, secara manajerial dan, yang terpenting, secara politik mereka tidak memiliki kapasitas untuk mandiri. [6] Padahal, selama masih ada swastanisasi oleh segelintir orang terhadap alat-alat produksi sosial, maka sudah jelas akan ada pengisapan (tidak perduli pemilik modalnya orang Asing atau Indonesia)—dan cilakanya, para pemodal Indonesia tak memiliki kapasitas (sekali lagi) material (terutama alat-alt produksi berteknologi tinggi), kapasitas manajerial, dan kapasitas politik untuk melepaskan diri (secara bertahap pun) dan mengembangkan diri (secara mandiri) dari modal Asing. Apalagi, setelah krisis 1997, hampir sebagian besar kapasitas mereka ambruk. Dan sekarang hanya sebagain kecil saja yang masih memiliki tersebut, itupun dalam arti kapasitas manajerial—Arifin Panigoro, Bakri; Jodi Setiawan, untuk menyebut sedikit contoh—bukan kapasitas material/alat-alat produksi berteknologi tinggi, dalam istilah ekonom Orde Baru: kandungan lokalnya terlalu rendah. Apakah bisa dibayangkan mereka berani melepaskan diri dari ketergantungan terhadap (modal) asing? Tidak, bagi pengusaha (bahkan politisi) “realistis [7]”; dan, walaupun mereka memiliki keberanian, kehendak politik, namun mereka tidak mengandalkan dirinya pada kekuatan rakyat yang sadar (ideologis), maka nasibnya sudah pasti, seperti juga terjadi pada rejim-rejim “nasionalis” yang pernah ada: ambruk. Kenapa harus menyandarkan diri pada rakyat? Kekuatan rakyat harus dipandang dalam arti: 1) sebagai tenaga produktif; 2) pelindung dari gempuran/tekanan kapitalis/modal asing (yang sering menggunakan negaranya dan badan-badan internasional) untuk meruntuhkan bargain ekonomi-politik dalam negeri—apalagi bila kita masih harus berkompromi dengan modal asing (seperti di Venezuela) karena kita masih belum sepenuhnya memiliki kapasitas memproduksi tenaga produktif (terutama alat-alat produksi berteknologi tinggi), juga belum sepenuhnya memiliki kapasitas manajerial. [8]

Berandai-andai, bila memang mereka mau mengandalkan, bersandar, pada rakyat, lalu apa bagian yang akan diberikan pada rakyat? Apakah imbalan (pada rakyat) seperti yang diberikan oleh “nasionalisme” fasis Jerman?; atau apakah imbalan (pada rakyat) layaknya sosial-demokrasi ala Eropa?; atau imbalan (pada rakyat) seperti yang dipersembahan oleh negeri (yang sedang menuju sosialisme) venezuela? Yang jelas, bila kita membangun kemandirian bersama (dari dan oleh) rakyat, maka secara obyektif bayarannya adalah: sosialisasi kekayaan (program darurat) dan alat-alat produksi. [9] Jadi, dengan demikian, kehendak kemandirian bukanlah sekadar retorika (normatif) layaknya bual-bualan partai-partai dan politisi-politisi (sipil dan militer) busuk itu; atau tipu-tipuan (tukang obat jalanan) menjelang Pemilu, bak Visi dan Misi PBR yang diajukan ke KPU, atau perubahan (bersolek) AD-ART PBR; kita harus melihatnya dari LANDASAN KAPASITAS mereka; jadi, dengan demikian, faktual, kehendak kemandirian mereka (sering digembar-gemborkan sebagai “nasionalisme”) adalah FIKTIF; jadi, dengan demikian, persatuan dengan mereka (dengan platform anti-neoliberalisme) adalah FIKTIF. [10]

Sebenarnya, sangat jelas buat kita untuk memberikan penilaian terhadap ideologi apa yang dikandung oleh Partai-Partai Politik ini, bahkan terhadap PDIP yang saat ini mengambil posisi oposisi di nasional; Juga penilaian kita terhadap PKS yang membawa semangat Islam. Dalam konteks PDIP, kita sudah tahu bahwa selama PDIP berkuasa (sekarangpun PDIP masih menjadi salah satu partai yang paling banyak mendudukan anggotanya di DPR), program privatisasi sangat banyak disetujui, demikian juga dengan program pencabutan subsidi, atau secara umum, seluruh program neoliberalisme berjalan mulus pada zaman itu. Bahkan dalam posisinya sekarang pun, PDIP tidak pernah terlihat sungguh-sungguh berani dalam melawan neoliberalisme (paling jauh dari “keberanian” PDIP adalah melakukan walk out dalam sidang-sidang tertentu di DPR; mogok makan pun hanya dilakukan oleh seorang anggota parlemen dari PDIP.)

Sedangkan PKS: walaupun posisinya bisa dikategorikan sebagai sebagai salah satu partai besar, namun tidak mencerminkan sebagai kekuatan politik yang anti-neoliberalisme/kapitalisme. Kekuatan PKS di eksekutif dan parlemen, terutama kekuatan politik PKS di luar parlemen (jumlah massa dan simpatisan PKS yang sangat besar), tidak pernah dikerahkan untuk melawan program-program neoliberalisme/kapitalisme dengan sekuat-kuatnya. Sikap “hati-hati” yang ditunjukan oleh PKS sejatinya adalah sikap ketertundukan pada neoliberalisme, sebagai wujud pengakuan terhadap Ideologi kapiltalisme. Demikian juga dengan partai-partai baru yang karakter politiknya pun tidak berbeda, sekalipun dengan embel-embel kemandirian ( palsu).

Maka, wajar saja, bila rakyat menjadi tidak percaya terhadap partai-partai borjuis dan elit-elit politik borjuis—apalagi partai-partai dan elit-elit tersebut juga korup, sekorup-korupnya—dan memilih untuk GOLPUT dalam berbagai ajang pemilihan kepala daerah, pun kemungkinannya di Pemilu-2009 nanti. Sebelum rakyat memilih untuk GOLPUT, eksepresi ketidakpercayaan rakyat terhadap Partai, Elit Politik maupun Mekanisme Politik/Hukum, sudah meluas dan sangat jelas, dalam bentuk aksi-aksi mobilisasi menuntut massa. Tiap hari rakyat melakukan aksi-aksi massa, dari yang jumlah kecil hingga yang jumlahnya besar. Dari yang tuntutannya lokal, hingga yang tuntutannya nasional. Dari yang metodenya moderat hingga yang metodenya radikal. Setiap hari, ekspresi kemarahan rakyat itu terjadi, dan bahkan bisa dikatakan menyamai eksepresi kemarahan rakyat di tahun 1996-1997, tahun-tahun yang menentukan sebelum Suharto dijatuhkan pada tahun 1998 (bahkan mungkin kwantitasnya saat ini lebih banyak)

Dan situasi tersebut bukannya tidak diketahui oleh Partai-partai Politik, Elit-elit Politik dan militer. Mereka tahu dan sadar, bahwa rakyat sudah tidak lagi percaya pada mereka, sehingga mau tidak mau mereka harus membuat/mengembalikan citra yang “baik” mereka di hadapan rakyat—sejauh ini PKS lah yang paling berhasil membangun citra tersebut; atau dengan memilih nama partai yang baik seperti Hati Nurani Rakyat; atau dengan menjual empati (norak) di media massa—melalui iklan-iklan politik; atau dengan menjaring para aktifis gerakan sebagai pengurus partai dan/atau sebagai caleg; atau dengan cara-cara lainnya. Apakah upaya mereka untuk mengembalikan citra baik mereka akan berhasil? Jelas tidak. Bahkan untuk meningkatkan citra “baik”nya saja sudah sangat sulit. Bukankah upaya mengangkat citra mereka dengan memasukan calon-calon kepala daerah dari kalangan muda, dan bahkan dari kalangan artis, di berbagai daerah, tetap saja tak sanggup menurunkan jumlah GOLPUT? [11]

Jelas situasi tersebut sangat mengawatirkan mereka [12], namun kekawatiran tersebut belum sebesar kekawatiran jika ada alat politik yang sanggup bergerak bersama rakyat. Itulah yang menjadi alasan utama mengapa PAPERNAS (juga PRD di masa sebelumnya) dihambat keikutsertaannya dalam Pemilu, dan diserang secara brutal—sayangnya PRD-PAPERNAS (sekarang) bukannya mengambil jalan untuk tetap teguh berjuang bersama rakyat (dengan segala resikonya), melainkan justru mengambil jalan lain, yakni bersekutu dengan para kapitalis dan agen-agennya itu (antara lain PBR).

PBR, yang sekarang menjadi alat politik PRD-PAPERNAS, sejarahnya adalah pecahan dari Partai Persatuan Pemabangunan (partai yang menunjukan loyalitas tinggi terhadap rezim Orde Baru-Suharto) sehingga wajar, ketika PBR terbentuk, tidak ada prestasi PBR dalam memperjuangkan demokrasi, kesejahteraan rakyat, dan KEMANDIRIAN BANGSA. Bahkan, dalam pemilu 2004, PBR adalah salah satu Partai yang mendukung pasangan SBY-JK, sehingga SBY-JK bisa menjadi Presiden-Wakil Presiden.


PRD-PAPERNAS Tidak Membangun Persatuan Yang Berlandaskan Program Anti-Neoliberalisme

PRD-PAPERNAS menyimpulkan bahwa PBR adalah partai yang tepat untuk dijadikan kekuatan utama (bahkan saking yakinnya, PRD-PAPERNAS secara “taktis” rela meleburkan dirinya secara Ideologi-politik-organisasi ke PBR) karena, katanya, PBR memiki platform kemandirian bangsa—platform yang abstrak, seperti halnya platform kesejahteraan rakyat, keadilan sosial atau yang lainnya. (Dalam hal ini, saya sepenuhnya sepakat dengan Data, bahwa platform itu harus kongkrit bukan abstrak.) Tentu saja, platform PBR tersebut bisa jadi “benar” [13]. Namun, dalam situasi menjelang pemilu 2009 nanti, maka bukan hal yang aneh bila partai-partai peserta pemilu kemudian mengambil posisi demikian. Rudi, dalam artikelnya, juga sudah menyimpulkan hal tersebut, sehingga platform PBR (termasuk partai-partai lain) tidak bisa dijadikan ukuran dalam menyimpulan apakah sebuah partai benar-benar akan membela kepentingan rakyat. Yang harus dinilai justru praktek politik partai selama ini, apakah sungguh-sungguh memperjuangan rakyat atau tidak. Seharusnya PRD-PAPERNAS jauh lebih jeli ketimbang massa rakyat, yang sudah menyimpulkan untuk tidak lagi percaya.

PRD-PAPERNAS mungkin sadar bahwa PBR bukan partai yang membela rakyat, namun dengan hadirnya PRD-PAPERNAS secara organisasi [14] maka ada kemungkinan PBR bisa berubah. Seberapa besar kemungkinan PBR itu bisa berubah? Membayangkan PBR akan berubah secara signifikan, jelas mimpi kosong. Sejarah kelahiran PBR, komposisi pembentuknya dan praktek politiknya selama ini sangat jelas menunjukan siapakah PBR itu: dalam pengertian ideologis, PBR adalah partai dengan ideologi borjuis, sehingga sulit membayangkan PBR, yang berideologi borjuis itu, akan berubah menjadi partai dengan ideologi (kerakyatan) atau mati-matian meperjuangkan platform anti-neoliberalisme, seperti yang diharapkan oleh PRD/PAPERNAS, seperti yang diharapkan Data (sehingga beraninya dia secara idealis mengajak bersatu, mengajak bersatu dengan PBR, dengan platform anti-neoliberalisme).

Sungguh, menggelikan membandingkan ceramah Data dengan praktek politik PRD-PAPERNAS. Namun, agar lebih jelas, baiknya kita mengambil kutipan dari tulisan Data Kesepakatan Tuntutan Minimum Kongkrit Anti-Neoliberal Dalam Perjuangan Elektoral; Sebuah Sumbangan Pemikiran Untuk Pembangunan Persatuan Pro-Rakyat; ketika memberikan contoh soal program minimum: “….Misalnya, dalam tujuan strategis mengembalikan penguasaan kekayaan alam ke tangan rakyat, pertama-tama harus ditentukan sasaran dan tujuan taktis yang harus dihadapi. Satu contoh sasaran taktis yang merupakan salah satu pertahanan musuh adalah UU Migas.” Tentu saja kita tidak akan menolak logika tersebut, bahwa dalam persatuan ada hal-hal yang bisa di kompromikan—bedakan kompromi dengan kapitulasi—sehingga bisa saja, dalam membangun persatuan gerakan, kita hanya mengangkat tuntutan pencabutan UU Migas sebagai tuntutan persatuan atau tuntutan bersama. Dan, sebenarnya, pengertian pembangunan persatuan seperti itu sudah lama dikerjakan, yang justru sekarang mulai ditinggalkan oleh PRD terutama ketika memulai pembangunan PAPERNAS. Sedangkan konsekwensi kata-kata “Dalam Perjuangan Elektoral” dalam tulisan Data, akan menimbulkan pertanyaan: 1) apakah makna “dalam perjuangan elektoral” itu menggunakan alat PBR?; 2) apakah makna “dalam perjuangan elektoral” itu menggunakan Partai Perserikatan Rakyat (PPR)—yang juga mendaftarakan diri dalam Pemilu 2009, tapi gagal? 3) Atau persatuan kaum gerakanlah (dengan platform minimum kongkrit anti-neoliberal) yang membentuk partainya sendiri untuk ikut dalam ajang elektoral? Dan apakah Data tahu bahwa jawaban terhadap masing-masing pertanyaan tersebut memiliki konsekwensi ideologisnya sendiri?

Mengutip kembali kata-kata Data, dalam artikel yang sama, yakni soal persatuan perlawanan kaum buruh: “…Dalam beberapa tahun terakhir kaum buruh juga menunjukkan potensi kesatuan dan militansi tinggi dalam menentang UU Ketenagakerjaan 13 yang semakin menancapkan kuku neo-liberalisme dalam bidang perburuhan, di mana peran negara dalam mengatur kesejahteraan buruh dan keberlangsungan industri semakin dipersempit.“ Apaka Data tidak tahu—atau mungkin pura-pura tidak tahu—bahwa, pada saat itu, PRD yang tengah membangun PAPERNAS, tidak mau melibatkan diri dalam penolakan Revisi UU 13 itu, dengan alasan (yang bertolak-belakang dengan apa yang di sampaikan Data): yakni, gerakan penolakan Revisi UU 13 tidak ada kaitannya dengan Pemilu, sehingga tidak perlu di-intervensi. Tidak ada (bahkan) satu selebaran pun atas nama PRD-PAPERNAS yang bertujuan mengintervensi perlawanan kaum buruh tersebut. Malah Aliansi Buruh Menggugat (ABM), yang merupakan satu aliansi (yang lebih permanen), yang KEMUDIAN memiliki platform anti-neoliberalisme—platform ABM sangat mirip dengan platform PAPERNAS—sebagai buah perlawanan menolak Revisi UU 13. Dan PRD-PAPERNAS tidak pernah menganggap ABM sebagai calon sekutu potensial untuk melawan neoliberalisme di Indonesia.

Alasannya sangat sederhana (tapi bodoh): karena ABM belum mengambil posisi untuk mengikuti pemilu 2009. Alasan, posisi, seperti itu dipakai terus sampai sekarang—tentu Data sudah tahu: bahwa FNPBI, salah satu organisasi massa yang tergabung dalam PAPERNAS, menarik diri dari ABM pada saat buruh sedang mati-matian melakukan perlawanan terhadap Revisi UU 13 (termasuk menarik diri pada momentum May Day kemarin). Entah mendapatkan wahyu dari mana, FNPBI, bersama PAPERNAS dan ormas PAPERNAS lainnya, merayakan May Day pada tanggal 29 april, 2009, dan sama sekali tidak terlibat dalam aksi persatuan tanggal 1 Mei, 2009. Lalu, sekarang, Data mencoba menceramahi kita tentang platform minimum, tentang persatuan. Sudahlah, jangan membuat kami lebih tergelak-gelak, dan anda jangan terus mempermalukan diri sendiri.

Cara pandang yang sama juga digunakan oleh PRD-PAPERNAS pada organisasi-organisasi lainnya. Sebagai contoh, PRP, SMI atau organ-organ gerakan lainnya—yang jumlahnya semakin meningkat—yang juga mengusung platform anti Neoliberalisme, tidak dengan sabar dijadikan sebagai calon sekutu yang harus diajak dalam pembangunan persatuan gerakan rakyat. Itu karena, katanya, PRP, SMI atau organ-organ gerakan yang lainnya belum/tidak mengambil posisi untuk terlibat dalam pemilu 2009. Padahal, agar Data tahu (dan memang harus lebih banyak tahu, agar JANGAN CONGKAK): PRP dan organ-organ gerakan lainnya (termasuk kami) pernah melakukan diskusi/perundingan dengan PPR untuk mencari kemungkinan maju (terlibat) Pemilu 2009.

Artinya, landasan utama PRD-PAPERNAS dalam membangun persatuan bukanlah platform anti-neoliberalisme atau platform kerakyatan lainnya [15], melainkan berdasarkan pada posisi organisasi/individu terhadap Pemilu 2009. Jika organisasi/individu tersebut bersepakat untuk mengikuti Pemilu 2009, maka merekalah calon sekutu PRD/PAPERNAS. Posisi itulah yang menjelaskan kenapa PRD-PAPERNAS mau bergabung ke dalam PBR, sekalipun semua ORANG YANG WARAS MENGERTI bahwa PBR adalah partai borjuis pendukung neoliberalisme. [16]

Terpaksa, kita kembali mengutip kata-kata Data dengan lebih panjang: “Sebagaimana disinggung di atas, neoliberalisme merupakan kapitalisme dalam krisis, yang mengutamakan kepentingan kapital monopoli transnasional. Dalam upayanya merebut pasar domestik dan menjual-belikan saham dan komoditas dalam negeri, terdapat beberapa pengusaha nasional yang dirugikan. Ini paralel dengan suatu konflik yang inheren dalam kapitalisme; yakni antara kapitalis besar dengan borjuasi kecil. Dalam konteks Indonesia, secara umum-bukan secara keseluruhan-keduanya terpisahkan oleh garis kebangsaan; yang kapitalis besar berupa kapital transnasional yang sebagian besar milik asing, cukup besar dan berkuasa untuk memindahkan operasinya ke berbagai negeri; yang kecil, berupa kapital lokal yang bergantung pada pasar domestik atau kapasitas produksi domestik.
…..Padahal pengusaha seperti ini sebenarnya dapat menjadi kawan potensial kaum pergerakan dalam tahap perjuangan anti-neoliberalisme.“ (cetak tebal oleh saya.) [17]

Kita kutip juga kata-kata I Gede Sandra (Kader PRD saat menjabat Pemimpin Redaksi Berdikari, Terbitan resmi PAPERNAS): “Pasang politik merespon pencabutan subsidi BBM telah mendorong sebagian besar spektrum gerakan demokratik beroposisi keras terhadap Negara.  Cukup keras karena (bagusnya) sebagian elit oposan Negara yang pro Kemandirian Bangsa ikut menggalang barisan bersama. Sebut saja: Rizal Ramli, Amin Rais, Drajat Wibowo, (serta di kalangan mantan perwira militer) Hendropriyono, Wiranto, Prabowo dll. (cetak tebal oleh saya.) Hanya saja, karena elit-elit tersebut masih ragu (terutama terhadap gerakan massa), polarisasi politik menuju pada sebuah persatuan nasional belumlah jelas.” Yang kemudian dilanjutkan dengan “Elemen lain di luar gerakan demokratik, seperti: militer (termasuk itu purnawirawan), pengusaha nasional, akademisi, polisi, elit politik, budayawan, dsb yang pro terhadap kemandirian bangsa adalah sekutu utama yang wajib dirangkul. (cetak tebal oleh saya.) [18]

Jika apa yang disampaikan oleh Data maupun Gede adalah kebenaran yang obyektif, maka kita tidak akan bisa menolaknya, namun jika itu hanyalah bunga-bunga pembenaran taktik peleburan PRD-PAPERNAS ke PBR, maka sudah pasti harus ditelanjangi, agar keliahatan segala tipu dayanya.

Data mengambil contoh bahwa kenaikan harga BBM—yang merupakan salah satu agenda neoliberalisme di Indonesia—juga merugikan pengusaha nasional, sehingga pengusaha nasional punya potensi untuk melakukan perlawanan terhadap dominasi modal internasional. Saya tidak habis pikir, kenapa DATA ini selalu saja salah membaca DATA, apa DATA ini tidak pernah membaca koran, menonton berita-berita di TV atau di radio (dalam hal ini, mungkin kita patut memaklumi karena Data ini posisinya memang tidak di Indonesia, melainkan di Kanada).

Sebagai bentuk pemakluman atas kesalahan DATA, baiklah kita ambil beberapa berita di koran, sebelum kenaikan BBM.

1. Suara Karya, 29/04/08: “Sejalan dengan pendapat Bambang Soesatyo, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sofyan Wanandi mengatakan bahwa sebagai solusi strategis mengurangi beban tambahan APBNP 2008 adalah dengan menaikkan harga BBM bersubsidi.”
2. Koran Sindo, 02/05/08: “APINDO, menurutnya (Djimanto, Ketua APINDO), mendukung sepenuhnya langkah pemerintah untuk segera menaikkan harga BBM bersubsidi. Kenaikan harga BBM diperlukan untuk mengamankan ketahanan APBN-P 2008 dari ancaman terus berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional. Tapi kenaikannya harus bertahap, 6% paling tidak setiap bulan.”
3. Koran Sindo, 01/05/08: “Menurut Hidayat, Kadin berharap pemerintah menaikkan harga BBM maksimal 30% dan dilakukan sekaligus. Kenaikan harga BBM, kata Hidayat, telah dihitung secara matang dan sudah dibahas secara informal di antara para menteri terkait.”
4. Antara, 07/05/08: “Kadin, menurutnya (Hidayat), sangat mendukung rencana kenaikan harga BBM bersubsidi ini, karena kesinambungan APBN bisa terus dipertahankan dan para investor tidak lagi mengkhawatirkan dananya yang sudah ditanam di Indonesia.”
5. Kompas, 20/04/08: “Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kamar Dagang dan Indonesia (Kadin) Djimanto mendukung opsi pemerintah berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan catatan pemerintah diminta memerangi pungutan liar yang banyak membebani pengusaha.”
6. Rapat Komite ekonomi Nasional Bidang Pengembangan Industri dan Perdagangan, 15/05/08; Pada point pertama tercantum: “Para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) mendukung kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak( BBM).”

Para Pengusaha, yang dikatakan oleh Data dan Gede sebagai calon sekutu potensial dalam melawan neoliberalisme, sayang sekali ternyata mendukung kenaikan harga BBM, bahkan bukan hanya Individu per individu melainkan secara organisasional, sehingga pikiran yang mengharapkan para pengusaha ini bisa menjadi sekutu dalam melawan neoliberalisme, harusnya dibuang jauh-jauh ke tong sampah yang paling busuk.

Dari sejarahnya, lahirnya para pengusaha “nasional” ini bukan dari hasil perjuangan mereka dalam meruntuhkan kekuasaan Feodal maupun Kekuasaan Penjajahan Kolonial, melainkan lahir dari hasil kolaborasi mereka dengan Modal Internasional, terutama semenjak Orde Baru. Mereka dari lahirnya sudah tidak punya kapasitas untuk membangun Industri dalam negeri, terutama dalam memajukan tenaga produktif (teknologi, kecakapan dan kesehatan tenaga kerja). Satu-satunya yang ada dalam benak mereka adalah bergantung pada modal Internasional: membangun berarti Investasi Modal Internasional; membangun berarti menambah Hutang Luar Negeri. Ketergantungan yang kuat terhadap Modal Internasional membuat mereka tidak akan berani melawan Dominasi Modal Internasional, bahkan akan saling berlomba untuk menjadi calo bagi Modal Internasional. Mereka mungkin hanya mengeluh ketika dengan cepat kekayaan alam kita dijarah Modal Internasional, namun dengan cepat pula mereka akan tersenyum ketika ceceran keuntungan Modal Internasional jatuh ke tangan mereka—berupa fee atau sebagai rekanan bisnis. Memang mereka belum memiliki mental borjuis atu industrialis, tapi masih mental calo (merchant capital/society).

Apa lagi yang bisa kita katakan mengenai para purnawirawan Jendral? Mereka itu adalah para Penjahat HAM dan, selama ini (terutama bila sedang memegang kekuasaan), mereka adalah para pendukung setia kapitalisme Orde Baru-Neoliberalisme. Dan DATA harus tahu bahwa hampir semua perusahaan yang dipegang oleh militer itu AMBRUK atau merugi. Seperti juga “borjuis” dalam negeri, militer tak memiliki kapasitas untuk mengelola “nasionalisme” (berbeda sangat jauh dengan militer fasisme Jerman), atau tak memiliki kapasitas mengelola nasionalisasi aset-aset nasional.

Siapakah Kekuatan Utama Yang Harus Disatukan Dalam Melawan Neoliberalisme?

Seperti telah di singgung di atas, dan sebagaimana juga Data menyetujuinya, bahwa buruh dan rakyat miskin (dengan berbagai ekspresi politik perlawanannya) telah bangkit menunjukan kekuatannya. Dan dari berbagai ekpresi politik yang semakin meluas itu, sebagian di antaranya telah menyadari bahwa persoalan utama kemiskinan, kemelaratan Mayoritas Rakyat Indonesia, adalah Neoliberalisme, yang dengan sepenuh hati dijalankan oleh seluruh kekuatan Politik Borjuis Indonesia (baik sipil maupun militer).

Beberapa contoh nyata dari ekspresi politik rakyat miskin yang bersandarkan pada kekuatan rakyat sendiri/mandiri adalah aksi May Day 2008 yang, bahkan, menghasilkan terjadinya polarisasi/kristalisasi antara kekuatan buruh yang non-kooptasi dengan gerakan buruh mau dikooptasi. ABM, yang pada mulanya berusaha menyatukan seluruh kekuatan kaum buruh Indonesia, menjadi semakin sadar bahwa, di antara pimpinan-pimpinan serikat buruh yang dicoba di satukan itu, banyak di antaranya merupakan bagian dari kekuatan pro-neoliberalisme (kooptasi). Hal tersebut dibuktikan dengan tindakan-tindakan beberapa pimpinan serikat buruh itu yang, bukan saja menghancurkan persatuan yang telah dibangun [19], namun juga mendorong ajang May Day menjadi ajang bagi para Elit Politik untuk semakin memperkuat pengaruhnya di kalangan buruh.

Ribuan buruh dari berbagai kota dikerahkan dengan berbagai cara untuk terlibat dalam May Day Fiesta—sebuah ajang perayaan May Day yang di selenggarakan oleh SPN, FSPMI dan beberapa Federasi dari SPSI, dan awalnya berencana mengundang SBY (sebagai Presiden), Hidayat Nur Wahid (sebagai ketua MPR) dan Agung Laksono (sebagai ketua DPR). Acara tersebut dikenal sebagai May Day Fiesta, yang dalam kenyataannya bukan saja diarahkan untuk memperkuat pengaruh elit politik borjuis, namun juga meninabobokan para buruh dengan hiburan-hiburan yang tidak berkaitan dengan persoalan buruh dan perjuangannya.

Sontak, tindakan beberapa pimpinan serikat buruh tersebut mendapatkan reaksi yang keras dari ABM dan elemen-elemen gerakan lainnya (seperti Front Perjuangan Rakyat). ABM mengecam tindakan beberapa pimpinan serikat buruh itu—dan kecaman ABM bukan sekadar disampaikan secara langsung kepada beberapa pimpinan serikat buruh itu, melainkan juga dengan mencetak dan mendstribusikan puluhan ribu selebaran di Jabotabek dan kota-kota industri lainnya di Indonesia yang isinya: posisi kecaman ABM.

Dan, seperti yang telah diduga sebelumnya, beberapa basis dari serikat buruh yang terlibat May Fiesta kemudian membatalkan atau tidak bersedia melibatkan massanya dalam May Day Fiesta—mereka menjadi sadar: bahwa pimpinan-pimpinan mereka sedang berusaha memperalat mereka.

Saat May Day, semangat anti-neoliberalisme dan semangat anti elit pro-neoliberalisme begitu terasa di kalangan puluhan ribu massa yang bergerak menuju Istana Negara. Slogan Penggulingan Elit Penguasa berkali-kali diteriakan oleh massa aksi, demikian juga dengan slogan perlawanan terhadap kaum modal dan keharusan rakyat pekerja (rakyat miskin) untuk merebut kekuasaan.

Semangat itulah yang tetap bertahan (bahkan meningkat kadar programatiknya) pada momentum perlawanan kenaikan harga BBM. ABM bersama dengan banyak unsur pergerakan lainnya membangun satu wadah persatuan, yaitu Front Pembebasan Nasional, yang bukan saja terbangun di Jabodetabek, namun juga meluas hingga ke banyak kota di seluruh Indonesia—tercatat: terbentuk FPN di Labuan Batu, Medan, Lampung, Jabodetabek, Bandung, Jawa Timur, Semarang, Solo, Bima, Samarinda, Bontang, Gorontalo, Manado, Kendari, Bau-Bau dan Luwuk. Di beberapa kota lainnya, yang yang masih kesulitan membangun FPN, tetap dibentuk wadah persatuan dengan karakter programatik yang sama seperti misalnya Komite Rakyat Bersatu (KRB) di Yogyakarta.

Tuntutan menolak (penggagalan) kenaikan harga BBM, diiringi dengan tuntutan Nasionalisasi Industri Migas di Bawah Kontrol Rakyat, Pengusiran Elit dan Partai Politik Antek Neoliberalisme, dan Keharusan Rakyat Pekerja (Rakyat Miskin) untuk berkuasa, menjadi tuntutan yang diusung oleh pengerahan-pengerahan massa FPN.

Pengerahan-pengerahan massa tersebut bukan hanya dilakukan oleh buruh dari industri manufaktur saja, melainkan juga dari buruh-buruh BUMN, antara lain dari Serikat Pekerja PLN, Serikat Pekerja Angkasa Pura I, Serikat Pekerja Kereta Api (Jabotabek) dan serikat pekerja BUMN lainnya, yang juga mempunyai pandangan yang sama terhadap persoalan mayoritas rakyat Indonesia.


Selain FPN, di banyak kota, juga terbangun persatuan-persatuan gerakan, baik yang berjejaring secara nasional maupun yang belum berjejaring secara nasional, dengan program-program tuntutan yang mirip dengan FPN. Hal itu menunjukan bahwa kesadaran dan kesanggupan rakyat miskin Indonesia untuk bersatu semakin menguat, bahkan mau bersatu dengan program-program anti-neoliberalisme yang progressif.

Mereka itulah yang seharusnya disatukan; kekuatan gerakan rakyat (baik yang sudah bergerak dengan program yang progressif maupun yang masih spontan atau lokal). Karena, sekalipun mempunyai kapasitas yang (potensial) kuat, namun jika tidak ada yang berusaha menyatukan, maka rakyat yang sudah berkendak untuk bersatu dan berjuang tersebut akan kembali tercerai berai dan kehilangan kekuatannya. Oleh karena itu, pekerjaan membangun persatuan ini tidak bisa di tunda-tunda; dan pekerjaan tersebut akan mengalami kesulitan jika hanya dikerjakan oleh satu atau dua organisasi saja, seharusnya dikerjakan bersama-sama.

Penutup

Akhirnya, jika PRD-PAPERNAS masih berkendak membangun (persatuan) perlawanan rakyat terhadap neoliberalisme, maka sekutu perjuangan yang (JELAS-JELAS) harus segera ditentukan adalah rakyat miskin (baik yang sudah terorganisir maupun yang belum), yang saat ini sedang sedang berjuang, di kampung-kampung, di pabrik-pabrik, di jalan-jalan—dan sejarah penggulingan Soeharto sudah memberikan kesimpulan bahwa kekuatan rakyat miskin yang bersatu dapat mengatasi musuh sekuat apapun.

Bekerja sama dengan musuh rakyat miskin, seperti yang dilakukan oleh PRD-PAPERNAS, jelas akan mempersulit kemenangan perjuangan rakyat miskin—itulah sebabnya posisi PRD-PAPERNAS harus terus-menerus dikritik, ditelanjangi agar ilusi (preseden) rakyat terhadap partai-partai borjuis, elit-elit borjuis dan mekanisme borjuis, yang sudah semakin membusuk, tidak lagi menguat, bahkan seharusnya dimajukan sampai tahap yang lebih tinggi, yakni penggulingan kekuasaan borjuis dan pembentukan pemerintahan persatuan rakyat miskin.

Catatan Kaki:

[1] Tanggapan terhadap tulisan Rudi Hartono, Data Brainanta dan I Gede Sandra; Kader-Kader PRD dan Pimpinan PAPERNAS.
[2] Koordinator Departemen Kampanye dan Penyatuan Gerakan Dewan Harian Nasional Persatuan Politik Rakyat Miskin; Pjs Wakil Ketua Gabungan Solidaritas Perjuangan Buruh; Mantan Koordinator Departemen Perjuangan Rakyat Dewan Pimpinan Pusat PAPERNAS; Mantan Staff Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik.
[3] Hal di berikut ini jug harus dijelaskan pada rakyat oleh saudara Rudi. Seperti juga pada Pemilu yang lalu, partai-partai busuk itu (dengan tak tahu malu) tetap saja bisa mendapatkan kursi yang banyak walalu angka GOLPUT-nya tinggi, atau tanpa jumlah suara yang mencukupi: karena UU-Pemilu tidak memberikan batasan berapa besar presentasi suara pemilih/pencoblos yang menjadi ukuran syah-tidaknya pemilu; berapapun presentasi suara GOLPUT, berapapun presentasi suara pencoblos, pemilu tetap absyah; jumlah kursi di masing-masing Daerah Pemilhan (DAPIL) ditentukan lebih dahulu sesusai dengan jumlah penduduk; Berapun suara yang masuk/mencoblos (atau berapapun GOLPUT-nya) jumlah kursi tidak berubah; sehingga bila GOLPUT-nya tinggi maka nilai kursi tidak akan lagi sesuai dengan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) alias tidak akan sesuai dengan jumlah pemilih yang sudah terdaftar; bila penghitungan suara seluruh calon legislatif (caleg) yang sudah memenuhi syarat BPP (sama atau lebih tinggi dari BPP) sudah diselesaikan, dan masih ada sisa kursi, maka sisa kursi tersebut dapat diberikan kepada caleg yang mendapatkan suara terbanyak walaupun tidak memenuhi BPP, agar dia bisa masuk ke parlemen (memenuhi jumlah kursi), seolah-olah dipilih rakyat, demikian seterusnya sampai kursi habis terbagi. Dengan demikian, seperti juga pemilu yang lalu, Pemilu 2009 nanti adalah Pemilu yang menipu rakyat, baik rakyat yang memilih maupun rakyat yang GOLPUT—yang memilih, suaranya bisa dimanipulasi menjadi milik orang lain (bahkan dari partai lain) yang tidak dia pilih; yang GOLPUT dimanipulasi seolah-olah suaranya sudah diwakili oleh orang-orang yang tidak dia pilih. Lalu, adakah orang-orang partai-partai busuk itu merasa malu, duduk di parlemen sebagai manipulator. Adakah PRD-PAPERNAS-PBR (Partai Bintang Reformasi) memiliki tanggung jawab moral terhadap sistim Pemilu bandit seperti itu?
[4] Bukan hanya tidak konsisten, melainkan bertolak belakang.
[5] Apakah analisa saudara Rudi tersebut berlaku untuk PBR? Bila jawabannya tidak, itu adalah suatu kebohongan besar; jika jawabannya ya, maka saudara Rudi harus mengatakan bahwa: 1) sekarang PBR sudah insyaf (taubat nasuhi)—akan memperjuangkan rakyat dan akan memperjuangakan (mati-matian) kemandirian bangsa (seperti tertera dalam AD-ART baru PBR dan tertera dalam Visi/Misi yang dihaturkan ke KPU; 2) PRD-PAPERNAS masuk ke PBR, akan menggunakan alat PBR dalam Pemilu 2009, guna membantu, mengawasi agar taubat nasuhi PBR tidak sekadar janji seperti yang sudah-sudah. Merubah dari dalam, istilahnya; 3) membantu citra PBR menjadi baik; 4) agar PRD-PAPERNAS bisa bicara secara luas kepada rakyat (bahwa PBR, yang ada PRD-PAPERNAS di dalamnya) akan benar-benar memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa; 4) karena itu, rakyat dan kaum pergerakan harus mendukung kami secara ekstra-parlementer, mencoblos kami dalam pemilu 2009, karena dengan dukungan kalian maka unsur-unsur yang menghambat (perjuangan), baik di parlemen maupun di luar parlemen secara keseluruhan (terutama dari luar/asing; karena musuh dari dalam/militer bukan musuh yang pokok), dapat dengan mudah diatasi. Saudara Rudi harus mengatakan itu, kalau saudara jujur. Bila PRD-PAPERNAS tidak bisa kita sebut JAHAT, maka ada kata yang lain yang pantas: NAIF (sebenarnya kata itu adalah penghalusan dari kata BODOH).
[6] Seperti kita mahfum, kelemahan landasan material, manajerial, yang membebani pembangunan kerakyatan di venezuela, diatasi dengan kekuatan politik—baik di dalam negeri (bersandar pada rakyat yang sadar secara ideologis); maupun dalam persatuan internasional dengan platform progresif.
[7] Batas antara realisitis dengan pragmatis nampaknya setipis kulit bawang.
[8] Seperti saya jelaskan sebelumnya, faktor lain yang akan membantu, seperti juga yang dilakukan oleh pemerintah Venezuela, adalah bersekutu secara internasional dengan platform progresif—bukan saja demi kepentingan ketahanan dukungan politik internasional, propaganda internasional, namun juga untuk mempertinggi tenaga produktif dalam pertukaran internasional yang lebih adil.
[9] Pengertian obyektif maknanya adalah: disadari atau tidak disadari oleh rakyat, kita harus menjelaskan pentingnya sosialisasi kekayaan (program darurat) dan alat-alat produksi sebagai kebutuhan obyektif rakyat; kita tidak boleh menipunya.
[10] Atau kehendak “luhur” Rudi, Data, dan Gede saja; boleh saja anda-anda mengatakan bahwa persatuan (atau persekongkolan) tersebut hanyalah taktis sifatnya, demi bersatu melawan neoliberalisme (yang menjadi “musuh” bersama)—bahkan rakyat dikerahkan untuk persekongkolan taktis tersebut—karena, dalam tahap selanjutnya (masih adakah tahap selanjutnya), kita kemudian “bisa” saja secara sejati/strategis berperang dengan mereka (masih bisakah mengerahkan rakyat?), karena kita harus “realistis” menahapi jenjang revolusi itu. Boleh, boleh, boleh saja anda-anda mengatakan semua itu, karena logika formal memang nikmat—karena logika formal tak perlu bersusah payah membentur-benturkan posisi dengan realita (dalam hal ini realita pengusaha, elit politisi partai dan non-partai, dan militer “nasionalis” Indonesia. Sekali lagi bukan realita kehendak, retorika, normatif semata).
[11] Kasihan rakyat yang masih memilih partai-partai dan elit-elit politik busuk tersebut. Mereka tak bisa mendapatkan kesadaran alaternatif karena wadah, saluran dan agitator-propagandisnya belum bisa digapai rakyat—diperparah lagi: agitator-propagandis (aktivis)nya sekarang sudah dikooptasi dan menggunakan alat-alat/cara-cara partai-partai serta elit politik busuk itu, bahkan, Kata Martha Harnecker, praktisi politik kiri mengadopsi praktek-praktek yang hamper-hampir tidak berbeda dari yang biasa dilakukan partai tradisional (Martha Harnecker, Gerakan untuk Partisipasi Kerakyatan, PEMBEBASAN, No.2, Tahun 1, Mei, 2008).
[12] Sampai-sampai mereka menyetujui Undang-Undang yang dapat menyeret orang yang menyebarluaskan GOLPUT ke penjara.
[13] Secara historis dan kongkrit, coba periksa kapasitas PBR dalam memperjuangkan kemandirian bangsa; juga, secara historis dan kongkrit, unur-unsur “nasionalis” manakah yang akan didukung oleh PBR, dan bagaimanakah caranya PBR meningkatkan/mendapatkan kapasitas material, manajerial dan politik perjuangan kemandirian bangsa (bahkan bila secara bertahap sekalipun). Yang sangat sulit bagi mereka, tentu saja, adalah mendapatkan kapasitas politik (dukungan rakyat) karena, secara histories, PBR disangsikan kesungguhan dan kapasitasnya dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan kemandirian nasional. Orang-orang PRD-PAPERNAS bisa saja mengatakan: “Ya, dengan adanya kami, maka rakyat akan lebih percaya kepada PBR karena, secara histories, kami sudah teruji dalam meperjuangkan kesejahteraan rakyat dan kemandirian nasional; nanti, apalagi bila kami memenangkan kursi di parlemen, dari atas/parlemen kami akan membangkitkan dukungan rakyat tersebut bahkah, bisa saja, kami akan mendapatkan dukungan dari militer dan kaum Islam” Boleh, boleh, boleh, anda-anda berkata demikian, bila ingin kembali disebut NAIF. Pertanyaannya adalah: bagaimana mungkin membangkitkan dukungan rakyat (bahkan militer dan kaum Islam) dari atas, sementara persiapannya belum dimatangkan. Apakah selama dari sekarang hingga (selesai) kampanye Pemilu 2009 cukup waktu untuk mempersiapkannya. Apakah itu yang dilakukan Chavez (seperti yang sering anda-anda sebutkan sebagai contoh revolusi dari atas, dari ajang parlementer)? Coba periksa kembali sejarah Chavez (tanpa ada manipulasi), dari mana dia dia dapat dukungan rakyat? Tolong beritahu kami agar kami tahu bahwa kami lah yang memang bodoh (atau mungkin anda-anda). Anda-anda bisa saja menjawabnya lagi: “Kita akan dengan sabar, secara gradualis, mempesiapkan dukungan rakyat tersebut. Kunci kami adalah, menang dahulu, masuk dahulu ke parlemen (dengan jalan kontradiktif, menggunakan alat partai busuk, sekalipun), karena itu dukunglah kami, kaum pergerakan.” Silakan perbanyak alasan-alasan lainnya—alasan-alasan yang berangkat dari situasi yang kontradiktif: APOLOGI.
[14] Ini tentu berbeda dengan Budiman Sudjatmiko yang, secara individual masuk ke PDIP (bahkan dia sudah di pecat dari PRD jauh sebelum bergabung ke PDIP).
[15] Bisa saja platform-nya mengangkat persoalan rakyat yang, secara tidak langsung, berkaitan dengan neoliberalisme secara sistemik.
[16] Untuk menutupinya—dan memang harus ditutupi—PRD/PAPERNAS harus mencari pembenaran, yakni: “Menurut kami, PRD-PAPERNAS, di Indonesia ada kekuatan-kekuatan anti-neoliberalisme di luar kaum pergerakan, seperti dari kalangan pengusaha nasional, militer maupun elit-elit politik lainnya.
[17] Seharusnya Data belajar dahulu makna-kata borjuis kecil secara ekonomi dan secara politik—apakah benar pemisahan borjuis kecil dan borjuis besar sekadar dipisahkan oleh kebangsaan? Modal Internasional ada yang juga kapasitas produksinya dikhususkan untuk pasar domestik; apakah borjuis kecil “berkebangsaan” Indonesia memiliki modal kecil, bergantung pada pasar domestik atau kapasitas produksi domestik?; apakah benar, sebagai calon sekutu potensial, borjuis kecil Indonesia sudah memasuki ranah kesadaran anti-neoliberalisme, atau kesadaran anti-neoliberalismenya masih dibelenggu ketergantungan terhadap tenaga produktif (juga pasar) internasional—kita tahu banyak para pemodal kecil sebenarnya memproduksi komoditi untuk untuk pasar intenasional, setelah dikumpulkan/digabungkan oleh para tengkulak besar pribumi; bahkan yang pasar dan kapasitas domestik pun tenaga produktifnya (terutama yang berteknologi menengah dan tinggi) masih tergantung pada produksi-produksi (modal) asing. Jadi, mereka itu tidak sepenuhnya MERASA dirugikan oleh modal asing, tapi TERGANTUNG, sehingga kesadarannya pun ambigu. (Data, hati-hati definisi anti-neoliberalisme anda bisa menjadi Xenophobia. Neoliberalisme, yang juga ada di negeri-negeri asalnya, negeri-negeri imperlisme, pun harus dilawan oleh rakyatnya sendiri dengan bersolidaritas dengan kita!) Dan makna potensial menjadi sekutu (pada tahap awal) anti-neoliberalisme adalah: setelah mereka yakin bahwa, dengan melawan neoliberalisme, kepentingan borjuisnya tidak terganggu; bahwa kapasitas borjuisnya bisa ditingkatkan tanpa neoliberalisme. Untuk MENGKONGKRITKAN unsur-unsur yang berkesadaran anti-neoliberalisme (pada tahap awal) itu saja, Data harus menyebutkannya SECARA KONGKRIT—apakah itu PBR (apa ada partai-partai lainnya lagi?), apakah itu KADIN, apakah itu HIPMI, apakah itu Amin Rais, Apakah itu Rizal Ramli, apakah itu Hendro priyono, (yang sebenarnya sudah ditanyakan pada Data oleh Pius, tapi dijawab oleh Data dengan abstrak dan tak memiliki etika akedemik: sudah saya jawab dalam tulisan/artikel saya sebelumnya), atau apakah itu pengusaha-pengusaha menengah (yang mempekerjakan buruh 20 sampai 99 orang, sebagaimana kategori United Industrial Development Organization/UNIDO); atau pengusaha-pengusaha kecil (yang mempekerjakan buruh 5 sampai 19 orang, sebagaimana kategori UNIDO); atau pengusaha-pengusaha rumahan (home industries) (yang mempekerjakan buruh 1 sampai 4 orang, sebagaimana kategori UNIDO); atau, dalam pengertian budaya (politik): juga mereka yang punya semangat anti-neoliberalisme (pararel dengan makna kerakyatannya, tentu saja). Bila itu maknanya, berarti, dalam tahap sekarang, perjuangan untuk mempersatukan unsur-unsur anti-neoliberalisme dari kalangan seperti yang disebutkan Data, Rudi, Gede, dan PRD-PAPERNAS, baru sampai tahap berpropaganda (kepada unsur-unsur tersebut). Kecuali bila unsur-unsurnya bukan itu, tapi DARI kalangan pergerakan (termasuk beberapa LSM), DARI ratusan juta borjuis kecil (dalam makna rakyat miskin yang, POTENSIAL, anti-neoliberalisme). Apalagi bila kalangan pergerakan sekarang ini mau menggunakan kapasitasnya yang ada untuk bersatu—sebenarnya, kapasitas persatuan nasionalnya dalam platform anti-neoliberalisme sudah meningkat bila dilihat dalam wujud Front Pembebsan Nasional/FPN dan Front Perjuangan Rakyat/FPR (dalam kadar programatik yang lebih rendah, dapat dilihat pada wujud wujud Front Rakyat Menggugat/FRM, yang hanya mengangkat issue kenaikan harga BBM, bukan langsung anti-neoliberalsime, sehingga rakyat kesulitan menangkap hubungan kenaikan BBM dengan issue anti-neoliberalisme). Namun, PRD-PAPERNAS, sudah berkesimpulan bahwa mereka sudah bisa diajak bekerjasama untuk memperjuangkan anti-neoliberalisme. Yang benar aja!
[18] Sekadar pertanyaan saja untuk Gede: tolong sebutkan lebih kongkrit, yang mana yang kau sebut “menggalang barisan bersama” untuk kemandirian bangsa. Jangan suka manipulatif (baca: membohongi rakyat).
[19] Dari bulan Desember, 2007, sebenarnya telah dibangun komitemen persatuan di antara pimpinan-pimpinan serikat buruh termasuk Srikat Pekerja Nasional (SPN), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), dan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), untuk melancarkan aksi-aksi mobilisasi menuntut beberapa persoalan buruh Indonesia secara bersama, termasuk melakukan aksi May Day secara bersamana tanpa keterlibatan Elit Politik.

Read More......

28 Agustus 2008

TAKTIK Memimpin Gerakan Rakyat dan Perlawanan Spontan Rakyat Miskin

Oleh: Gregorius Budi Wardoyo

Dalam pembacaan data perlawanan, telah terlihat bahwa kepemimpinan organisasi gerakan terhadap perlawanan spontan massa (yang terus muncul di banyak tempat) belum menunjukan signifikansinya, termasuk kepemimpinan kaum pelopor. Oleh karena itu, dibutuhkan taktik yang tepat untuk mengemban tugas memimpin dan memberikan arah bagi perjuangan rakyat miskin sesuai dengan hukum obyektifnya—terutama dalam hal membuka ruang demokrasi dan melawan penjajahan modal asing.

Secara programatik, masihlah tepat tujuan menuntaskan revousi demokratik di Indonesia—dengan melawan imperialisme; mendelegitimasi pemerintahan boneka imperialis; dan menggantikannya dengan pemerintahan rakyat miskin. Demikian juga, masihlah tepat kesimpulan tentang musuh-musuh pokok rakyat miskin Indonesia: penjajahan modal asing (imperialisme); pemerintahan boneka imperialis; tentara; Golkar; reformis gadungan; dan milisi Sipil.

Taktik

1. Di tengah tekanan kekuatan borjuis, yang dengan segala upaya mencoba melemahkan kekuatan rakyat—baik secara prosedural (dalam makna peraturan-peraturan dan mekanisme yang sebenarnya tidak demokratik), maupun dengan tindakan-tindakan represif—maka kita harus berdiri paling depan untuk membuka ruang demokrasi, sepenuh-penuhnya, termasuk membongkar Undang-Undang Pemilu atau Pilkadal yang anti demokrasi;

2. Dan Tuntutan tersebut, harus diiringi dengan propaganda bahwa rakyat harus berkuasa, dengan TRIPANJI [1] sebagai jalan keluar ekonominya;

3. Namun, kenyataan obyektif menunjukan bahwa sebagian besar rakyat masih bergerak dengan tuntutan yang reformis, sehingga kita harus terlibat dalam perjuangan reformis massa dan memimpinnya (jangan seperti taktik sebelumnya, demi pengerjaan memperluas struktur PAPERNAS, kita meninggalkan tugas memimpin perlawanan rakyat).

Alat

Koran yang reguler dan luas jangkauannya—sebagi taktik utama

Tak bisa dipungkiri bahwa banyaknya perlawanan rakyat jelas membutuhkan alat propaganda dan pengorganisiran yang sanggup menjangkau semuanya, yang mampu mengambil setiap hal maju dari peralawanan rakyat di satu tempat dan membagi pengalaman tersebut ke tempat lain. Alat tersebut terutama dimaksudkan agar bisa memberikan arah revolusi bagi rakyat miskin, yakni yang bisa memberikan bukan saja landasan-landasan teoritik progesif—agar massa rakyat tidak lagi jatuh pada empirisme, tidak lagi berjuang dalam persepektif perjuangan jangka pendek yang reformis, tidak lagi sekedar aktifisme yang tidak punya arah—melainkan juga memberikan kesimpulan-kesimpulan praktek perjuangan yang menjadi landasan gerak maju selanjutnya.

Kebutuhan koran yang regular dan luas jangkauannya menjadi keharusan, di tengah tidak meratanya pengetahuan dan pengalaman perjuangan, baik di kalangan massa rakyat maupun di kalangan aktifis pergerakan dan, selain itu, karena jumlah aktifis gerakan masih sangat kecil dibandingkan dengan luasnya area perlawanan rakyat.

Aku mengusulkan agar koran tersebut utamanya ditujukan bagi aktifis pergerakan, dengan isian materi mengenai strategi-taktik dan polemiknya (termasuk dengan kaum Mayoritas di PAPERNAS/PRD). Kenapa isian strategi-taktik menjadi penting dalam koran tersebut? Itu karena salah satu hambatan kemajuan gerakan saat ini adalah kelemahan strategi-taktik, sehingga pemahaman strategi-taktik yang tepat benar-benar menjadi kebutuhan mendesak bagi gerakan dan massa rakyat. Sementara polemik strategi-taktik dengan kaum Mayoritas (PRD/PAPERNAS) menjadi penting karena sejarah PRD sebagai kaum pelopor telah banyak memberikan inspirasi bagi kaum gerakan dan massa rakyat [2]—agar apa yang dilakukan oleh kaum Mayoritas sekarang tidak akan menjadi preseden (contoh buruk) bagi kaum pergerakan dan massa rakyat. Tentu saja terdapat kaum pergerakan maupun massa rakyat yang bisa menilai bahwa apa yang dilakukan kaum Mayoritas PRD/PAPERNAS [dengan taktik berupaya melebur (merger)dengan Partai Bintang Reformasi dan masuk secara tertutup ke dalam Partai Demokrasi Pembaruan] adalah SALAH namun, tetap saja, akan menghambat kemajuan gerakan secara keseluruhan karena walupun sebagaian besar pimpinan massa yang selama ini dikenal sebagai tokoh pergerakan telah menyimpang namun tidak banyak dipersoalkan secara terbuka oleh kaum pergerakan, seolah-olah dibenarkan—bagaimana bila menjadi preseden bagi massa luas sehingga juga menganggapnya benar. Oleh karena itu, polemik terbuka terhadap strategi-taktik mayoritas harus dilakukan dengan terus menerus agar kaum gerakan dan massa rakyat menjadi tahu kesalahan yang dilakukan kaum Mayoritas dan menerima strategi-taktik alternatif.

Menurutku, soal regularitas koran tersebut sebaik-baiknya adalah harian namun, jika tidak memungkinkan, maka paling tidak menjadi mingguan. Secara obyektif, perlawanan rakyat (yang bergerak setiap hari di berbagai tempat) adalah enerji yang sangat besar bagi koran kita tersebut, sehingga regularitasnya tidak boleh terlalu lama. Kendala utama yang selama ini dialami kita, yakni masalah pendanaan, penulisan dan distribusi haruslah dicari pemecahannya—yang sangat mungkin kita pecahkan, jika koran dijadikan sebagai taktik utama.

Dan bentuk koran tersebut, menurutku, dibuat yang sederhana, dengan jumlah halaman yang tak terlalu banyak (agar lebih mudah digandakan). Dan, agar bisa terwujud, maka soal koran harus menjadi salah satu agenda rapat rutin di setiap tingkatan struktur perjuangan, bahkan hingga ke tingkat massa.

Adalah benar pernyataan bahwa kesadaran kelas proletariat akan meningkat jika ada dialektika antara propaganda (yang terus menerus dari kaum revolusioner) dengan pengalaman perjuangan koletif massa. Dan sekarang coba kita lihat berapa banyak alat propganda kita dan berapa luas jangkaunnya ke tengah massa rakyat yang sedang terus berlawan? Lalu bandingkan dengan media massa borjuis, yang terus menerus meninabobokan massa, memanipulasi kesadaran palsu massa, bahkan hingga melakukan black propaganda terhadap ide-ide sosialisme—pada tahun 2006 media massa yang dikuasai borjuis mencapai 6,026 juta eksemplar untuk jenis surat kabar harian; dan jika seluruh media cetak dijumlahkan maka totalnya mencapai mencapai 17,374 juta eksemplar; itu artinya 1 media massa borjuis di baca 38 orang Indonesia [3].

Coba bandingkan dengan Harian Rakjat [4], organ PKI yang pertama kali terbit tahun 1951, tirasnya mencapai 2.000 eks per hari, dan berkembang dalam waktu dua tahun menjadi 12.500 eks. Pada 1956, Harian Rakjat meningkat menjadi 55.000 eks, mengungguli penerbitan lain seperti Pedoman (koran Partai Sosialis Indonesia) dengan 40.000 eks; atau Abadi (koran Masjumi) dengan 34.000 eks. PKI juga menerbitkan bulanan dalam bahasa Inggris, Monthly Review, yang pada tahun 1954 diubah menjadi Review of Indonesia. Oplah tersebut jelas sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia pada saat itu dan dengan tingkat buta huruf yang masih tinggi.

Apakah kita masih berpikir, koran bukan sebagai taktik utama?

Pembangunan persatuan (front) gerakan

Landasan obyektif kenapa persatuan Gerakan adalah keharusan (lagipula memungkinan untuk dibentuk) adalah:

1. Musuh-musuh rakyat terlalu kuat, baik musuh dalam negeri maupun musuh dari luar negeri. Musuh yang dimaksud adalah kekuatan politik yang menjadi kaki tangan imperialis maupun kekuatan politik yang anti demokrasi, atau keduanya. Kekuatan politik yang menjadi musuh rakyat cenderung mengambil posisi sebagai agen imperialis sekaligus anti demokrasi—dalam kadar tertentu bisa kelihatan pro demokrasi, namun sejatinya hingga sekarang tidak mampu melepaskan diri dari kekuatan politik tentara.

2. Mayoritas rakyat mengalami penindasan, dan sebagian di antaranya sedang berlawan (baik dengan platform tuntutan yang lebih programatik maupun yang spontan).

3. Semakin banyak organisasi rakyat yang bermunculan terutama di kalangan kaum buruh dan kaum tani, baik yang bersifat nasional maupun lokal.

4. Pengalaman persatuan gerakan (yang berhasil menjatuhkan Soeharto, atau yang ”berhasil” menolak berbagai kebijakan pemerintah, masih membekas di ingatan kolektif kaum gerakan dan massa rakyat.

5. Belum ada persatuan gerakan yang mampu memberikan harapan—dalam makna perspektif—dalam memimpin gerakan rakyat dan perlawanan massa rakyat.

Sedangkan landasan subyektifnya adalah, kita, kaum pelopor—yang paling mengerti teori dan paling punya kecapakan berjuang—masih sangat sedikit.

Dengan landasan obyektif dan subyektif seperti itu tidak boleh ada kata menyerah dalam kerja-kerja pembangunan persatuan gerakan, sekalipun sangat banyak kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam kerja-kerja membangunnya.

Menurutku, persatuan yang akan dibentuk sebaiknya adalah persatuan yang bisa menjadi magnet di hadapan gerakan dan massa rakyat, persatuan yang bisa memberikan harapan perubahan bagi massa rakyat, sehingga penentuan sekutu persatuan harus lebih berhati-hati, tidak boleh kontra-produktif (seperti yang dilakukan oleh kaum Mayoritas—menggalang persatuan bersama kekuatan politik anti-rakyat).

Sedapat mungkin persatuan yang dibangun didorong untuk melakukan tindakan politik bersama, bahkan seandainyapun tindakan politiknya masih sangat moderat—asal tidak bertentangan secara programatik dengan program kita—karena persatuan hanya akan menjadi lebih bermanfaat jika semakin banyak aktifitas (ekspresi) politik yang dilakukan bersama-sama. Oleh karena itu, sekalipun kita mempunyai program dan stategi-taktik yang maju, kita tidak boleh mencemooh persatuan gerakan yang paling moderat sekalipun karena di sanalah ajang bagi kaum pelopor untuk mempropagandakan program maju dan stategi-taktiknya, juga dalam memberikan contoh konsistensi (kesetiaan) perjuangan—bahkan, dalam program yang moderat sekalipun, kaum pelopor harus menunjukan bahwa merekalah yang paling setia, paling gigih dalam perjuangan.

Untuk memperkuat pengaruh persatuan pada massa rakyat (sekaligus juga memperkuat pengaruh kita) maka, sebisa mungkin, persatuan mempunyai terbitan yang reguler—bahkan, jika hanya mampu mengeluarkan selebaran, maka selebarannya harus didorong terbit secara reguler; apalagi jika mampu mengeluarkan terbitan yang lebih baik seperti koran atau tabloid. Dan, sekali lagi, kita harus menunjukan kesetiaan serta keteguhan kita dalam menjalankan terbitan tersebut.

Dan dalam hal penstrukturan: persatuan yang ada—apalagi yang mempunyai kesanggupan untuk meluaskan strukturnya—sebaiknya melakukan pembangunan persatuan serupa di setiap teritori yang memungkinkan. Agar secepatnya rakyat melihat bahwa persatuan tersebut sebagai alat perjuangan mereka, agar persatuan juga bisa dengan segera menjangkau setiap keresahan massa dan, seiring dengan kesanggupan front—lewat uji kerja berbagai aktifitas bersama—maka struktur front harus segera dipermanenkan.

Jika pun persatuan tersebut masih bersifat lokal atau sektoral, maka persatuan tersebut harus diupayakan untuk berhubungan dengan persatuan lainnya baik yang ada di wilayah lain maupun yang ada di sektor lain, intinya adalah: segala upaya pembangunan persatuan yang kita lakukan harus selalu dalam perspektif nasional dan multisektor.

Dalam konsepsi pembangunan persatuan gerakan, unsur-unsur maju—dalam makna: yang dalam praktek perjuangannya selama ini telah mengusung program anti-penjajahan (dan demokratik)—disatukan terlebih dahulu, agar mempunyai daya juang yang lebih besar. Tentu saja arena dari persatuan yang lebih maju tersebut tetaplah perlawanan spontanitas rakyat dan juga massa rakyat yang belum berjuang, sehingga tugas dari persatuan yang maju tersebut adalah membuat ajang-ajang yang memungkinkan bersatunya persatuan yang lebih maju tersebut dengan perlawanan spontanitas rakyat maupun massa rakyat secara keseluruhan. Itulah sebabnya alat utama dari persatuan, agar berkesanggupan menjangkau/menyatukan perlawanan spontan rakyat dan massa rakyat secara keseluruhan, adalah koran, hanya koran yang bisa menjangkau dan sekaligus MEMUNGKINKAN UNTUK DIKERJAKAN OLEH PERSATUAN dalam kapasitas saat ini.

Pengorganisiran dan mobilisasi/radikalisasi terjadwal (lihat materi Arah Pengorganisasian Massa untuk Revolusi dengan Metode Tiga Bulanan, Resume Diskusi Komite Politik Rakyat Miskin—Partai Rakyat Demokratik (KPRM-PRD), PEMBEBASAN, No.1, Januari, 2008)

Konferensi taktik

Dalam berbagai kesempatan sudah dapat disimpulkan bahwa salah satu sebab utama kelemahan kaum pergerakan (yang pelopor maupun bukan) dalam memimpin perjuangan massa rakyat adalah: kelemahan merumuskan strategi-taktik. Dan, hingga saat ini, solusi untuk mengatasi kelemahan tersebut belum juga berwujud secara kongkrit dan meluas.

Cara lain yang juga bisa dilakukan untuk menemukan strategi-taktik yang tepat bagi perjuangan massa rakyat adalah dengan mengagendakan konferensi-konferensi strategi-taktik secara reguler, baik di kalangan serikat-serikat buruh, antar serikat-serikat tani, serikat-serikat mahasiswa, serikat-serikat perempuan, serikat-serikat kaum miskin perkotaan maupun yang sifatnya gabungan, termasuk gabungan antar kota/wilayah.

Konferensi-konferensi tersebut sangat mungkin belum bisa langsung dipermanenkan—oleh karena itu, koran tidak boleh mati guna mengisi kekosongan strategi-taktik atau untuk memperkuat strategi-taktik kaum pergerakan—namun tetap harus diupayakan, sekalipun masih dalam batas-batas strategi-taktik jangka pendek. Lebih bagus jika strategi-taktik hasil dari konferensi tersebut kemudian dikerjakan bersama untuk diuji dalam praktek perjuangan massa rakyat, sekaligus dinilai ketepatannya, sehingga semakin hari semakin memungkinkan diperoleh strategi-taktik perjuangan massa rakyat yang paling tepat dalam pembangunan sosialisme di Indonesia.

Mendirikan struktur-struktur pendidikan teori


Tidak ada yang bisa menolak, bahwa tanpa teori revolusioner tak akan mampu terjadi revolusi. Untuk itulah pendidikan yang memberikan landasan teoritik bagi rakyat miskin untuk mengelorakan revolusinya harus dilakukan, sehingga jurang pengetahuan yang selama ini terjadi semakin terkikis—apalagi selama ini masih aktivis-aktivis yang berasal dari kalangan mahasiswalah yang memilki pengetahuan teoritis yang cukup maju; sementara aktivis yang berasal dari buruh, tani, kaum miskin kota, termasuk perempuan, masih sangat terbelakang; padahal tugas kaum pelopor adalah mengangkat rakyat miskin agar mampu memimpin dirinya sendiri, memimpin revolusinya sendiri dan nantinya memimpin pemerintahannya sendiri. Untuk tujuan itu, dibutuhkan banyak aktivis-aktivis dari rakyat miskin yang cakap dalam pengetahuan revolusioner dan juga praktek revolusioner.

Setiap struktur yang ada diwajibkan mendirikan struktur yang diarahkan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut tersebut secara reguler, sehingga nantinya bisa ditemukan pola penyelenggaraan pendidikan yang paling baik. Atau, jika saat ini ada daerah yang sudah memiliki pengalaman pendidikan yang paling bagus, maka pengalaman tersebut bisa dijadikan pola pendidikan di tempat lain, karena harus ada pola nasional yang bisa diukur efektifitasnnya di tingkatan nasional. Aku membayangkan: di hari-hari nanti, di kontrakan-kontrakan buruh, di desa-desa, di kampung-kampung miskin perkotaan, di kalangan perempuan, buku-buku revolusioner dan progresif telah menjadi bacaan dan bahan perdebatan mereka—misalnya saja buku-buku dan perdebatan tentang Kuba, Venezuela, Bolivia, demikian juga perdebatan dan buku-buku buku-buku Pramoedya atau karya-karya lainnya—tidak lagi hanya berputar di kampus-kampus maupun kontrakan mahasiswa.*

Catatan Kaki
[1] TRIPANJI: 1) Hapuskan utang luar negeri; 2) Nasionalisasi industry pertambangan; 3) Industrialisasi nasional.
[2] Lihat film dokumenter wawancara-wawancara tentang PRD dalam rangka 10 tahun PRD, 2004.
[3] http://www.spsindonesia.or.id/news-detail.php?id=50
[4] Data ini di ambil dari tulisan Hilmar Farid dan kawan-kawan, http://www.xs4all.nl/~badjasur/kreasi/no3/pasangsurutno3.htm

Read More......

Tantangan Politik untuk Pergerakan di Zaman Tidak Bervisi

Oleh Candra J N

(1)

Politik anti-nasional dan anti buruh-tani Orde Baru menghancurkan berbagai pencapaian revolusi nasional demokratik selama 1900-1965.

YANG DIHANCURKAN

1. Partisipasi rakyat banyak (proletar, semi-proletar, burjuis kecil melarat dan petani) dalam kehidupan politik dan perjuangan menentukan arah perkembangan masyarakat melalui politik mobilisasi massa dihancurkan,

2. Ingatan-ingatan (pengetahuan) tentang riwayat perjuangan kemerdekaan dan perjuangan menentukan arah perkembangan masyarakat sesudah kemerdekaan dibasmi dan hilag sebagai sumber nilai, inspirasi dan pelajaran.

3. Pencapaian budaya yang terdiri dari pengetahuan tentang ilmu politik yang tercernin dalam semua tulisan-tulisan dan pidato-pidato pempimpin gerakan pembebasan nasional (1900-1965) dan di dalam sastra dan perfilman Indonesia dilarang, dibasmi, dihilangkan atau dikucilkan.

4. Perjuangan untuk membangun sebuah ekonomi nasional yang berdiri di atas industrialisasi di segala bidang, sebuah masyarakat yang berilmua pengetahuan dan dengan sebuah angkatan kerja yang semakin produktif ditindas sebelum bisa dimulai dan dibuka jalan untuk meneruskan kehidupan ekonomi yang kapitalis tetapi tidak berindustri, tidak berilmu pengetahuan, dengan produktivats angkatan kerja yang serendah-rendahnya. Industri yag ada hanya yang diperlukan oleh imperialisme. Pendidikan yang tertinggi tetap harus dicara ke negeri imperialis.

Penghancuran tersebut adalah pekerjaan kelas kapitalis dalam negeri Indonesia, baik ketika dipimpin segelintir kapitalis bersenjata, maupun kemudian dipimpin oleh konglomerat dan antek politiknya maupu sekarang ketika "dipimpin" oleh kombinasi konglomerat, yang ingin jadi konglomerat dan konglomerat-konglomerat daerah. Kalau kaum kapitalis dalam negeri Indonesia mengeluh tentang penindasan ekonomi dari "asing", itu karena merasa kurang dapat porsinya saja.

Orde Baru bukan hasil penjajahan asing tetapi hasil sebuah tindakan pendahuluan kontra-revolusioner oleh kelas kapitalis dalam negeri Indonesia. Pihak imperialis diundang masuk; bukan memaksa masuk.

(2)

Hasil penghancuran ini adalah terpecah-belahnya (fragmentasi) setiap aspek kehidupan negeri, masyarakat dan juga kelas-kelas rakyat.

Dalam kebudayaan dan politik:

Dengan ditindaknya politik mobilisasi massa, yang berkembang selama 1900-1965, hancurlah semuah organisasi rakyat yang bergerak dengan berwawasan nasional. Buat rakyat kebanyakan, organisasi massa tersebut merupakan sekolah utama yang mengurus segala hal tentang bernegeri dan bernegara. Sekolah tersebut hancur. Ini berlangsur selama 33 tahun 53 tahun proklamasi kemerdekaan. Selama 33 tahun rakyat tak bersekolah.

Dan selama 33 tahun tersebut (sampai sekarang), sejarah yang diajarkan di sekolah adalah bohong, yang diajarkan sebagai takhayul (menghafal kebohongan tanpa ada bukti). Sementara selama 33 tahun sastera Indonesia kemerdekaan, dari Kartini sampai Rendra, sampai Bumi Manusia, sampai Wiji Thukul, tidak diajarkan.

Tanpa pendidikan yang keduanya tersebut, rakyat Indonesia menjadi bukan rakyat Indonesia tetapi sekadar rakyat yang hidup dalam negeri geografis Indonesia. Mereka jatuh menjadi rakyat yang hidup di bawah kungkungan (setingkat) kelas kapital dalam negeri Indonesia yang terdiri dari federasi elit-elit lokal dengan elit pusat di Jakarta.

Dalam situasi tersebut, kesadaran kelas pun kalah oleh kesadaran-kesadaran sektarian (baik secara isyu, etnis maupun wilayah). Kesadaran kelas, bila tidak berwawasan nasional—yakni, mengerti bahwa semua jalan keluar masalah-masalah rakyat harus diselesaikan oleh seluruh nasion, bangsa—tidak akan bisa ada atau berkembang.

Dalam ekonomi:

Strategi ekonomi yang dijalankan sejak 1966 menyatukan ekonomi Indonesia dengan ekonomi internasional berdasarkan keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan modal imperialis serta fraksi kelas kapitalis klik militer Suharto. Akibatnya, sektor-sektor ekonomi yang tumbuh sangat terbatas. Industri berat dan menengah tetap menjadi haknya negeri imperialis. Manufaktur ringan pun hanya di sektor-sektor yang terpilih pula dan, sejak 1997, merekapun mulai ditarik kembali. Produktivitas hanya meningkat riil dan luas di pertanian sawah (hasil revolusi hijau), tetapi itu pun berhenti setelah peningkan produktivas melalui bibit baru, pupuk dan pestisida sudah mencapai jalan buntu. Modernisasi selanjutanya tak bisa diwujudkan (karena membutuh kooperasi atau kolektivasi yang luas dan sukarela.)

Masyarakat tetap terbagi menjadi dua secara dahsyat: kaya dan miskin semakin jauh terpisah; kota besar dan kota kecil semakin jauh budaya dan cara hidupnya; apalagi kota dan desa; Jakarta dan kebupaten.

Yang kaya semakin menjadi bangsa tersendiri, menyekolahkan anaknya dalam bahasa Inggeris; berselera kosmpolitan; berapartemen di Singapura atau Melbourne dan (mereka) dipersatukan karena merasa terganggu oleh kaum miskin yang harus ditertibkan itu.

Sebagian besar yang miskin atau tinggal di kota kecil dan desa yang serba kecil itu produktivitasnya rendah dan disatukan secara budaya hanya oleh sinetron.

(3)

Gerakan anti-kediktatoran sebagai pemersatu fragmentasi dan kegagalannya.

Gerakan anti-kediktatoran yang militant, yang berkembang 1989-98, mulai mempersatukan rakyat yang terpecah-belah tersebut. Gerakan tersebut, dengan tuntutan-tuntutannya—cabut Dwifungsi ABRI, cabut Paket 5 Undang-Undang politik, hapusakan KKN, naikkan gaji dan sebagainya termasuk, kemudian, turunkan Suharto—betul-betul menyatukan rakyat dari Sabang sampai Merauke. Metode perjuangan aksi massa menyebar ke semua pelosok—sampai sekarang.

Tetapi, sesudah tahun 1998, persatuan tersebut tidak bertahan lama. Sebabnya ada beberapa hal.

Pertama, periode perkembangan tersebut masih terlalu pendek, secara intensif hanya berlangsung antara tahun 1992-1998 dan, secara sangat intensif, hanya sejak tahun 1996 hingga tahun 1998. Periode tersebut tak cukup lama untuk mengembangkan bentuk-bentuk pengorganisiran massa yang dapat bertransisi dari bentuk temporer (sementara) menjadi tetap (permanen).

Kedua, gerakan tersebut hanya bersifat taktis, tidak strategis, kalau dipandang dari kebutuhan mendasar rakyat kebanyakan. Gerakan tersebut, sebagai gerakan anti-diktator, adalah gerakan yang maknanya hanyalah membuka ruang untuk perjuangan selanjutnya.

Mengingat (a) semua kemunduran yang dialami selama 33 tahun sebelumnya dan (b) bahwa gerakan taktis tersebut hanya sempat berkembang intensif selama 2-6 tahun, mulai dari nol, atau tak memiliki kesempatan bertransformasi dari gerakan taktis menjadi gerakan strategis, apalagi di dalam bidang ideologi—yaitu teori, termasuk pendidikan teori pada massa. Bahkan, sesudah Mei 1997, semakin pesat, luas dan intensif perkembangan unsur spontan, maka ideologi gerakan yang luas ersebut semakin dibanjiri oleh sentimen-sentimen taktis (yakni terbatas pada anti-kediktatoran). Perkataan reformasi total sempat beredar tapi tak sempat berkembang.

Pada saat pimpinan "opposisi elit" di Ciganjur menyatakan akan mematuhi jalur pemilihan umum dalam mengurus transisi pasca kedikatoran, kesadaran politik gerakan masih dalam tahapan "taktis", belum bisa berwawasan strategis; belum bisa membayangkan harus kemana: bubar.

(4)

Fragmentasi kepeloporan pasca 1998

Selama periode 1989-1998, dengan catatan bahwa banyak juga kelompok yang berjuang dan berkorban demi pembebasan dari kediktatoran, namun yang menjadi kekuatan pelopor adalah kubu Partai Rakyat Demokratik (PRD). PRD lah yang sadar dan secara sistematis memperjuangan dihidupkannya kembali metode perjuangan aksi massa. PRD lah yang menemukan slogan-slogan dan tuntutan-tuntutan anti-kediktatoran yang kemudian diterima oleh massa luas.

(Yang tidak terima secara luas adalah seruan strategis: yakni seruan mendirikan dewan-dewan rakyat. Kesadaran mssa belum sempat berkembang sedemikian jauh, meskipun mendekati tahap tersebut.)

Sejak 1998, kepeloporan pun sudah mengalami fragmentasi—dalam dua bentuk. Pertama, PRD sendiri mengalami fragementasi. Kedua, berkembang elemen-elemen kepeloporan di luar PRD.

Fragementasi PRD tercermin saat kehilangan banyak kader, masuk organisasi non-partai/LSM (baik yang progressif maupun yang tidak), menyeberangnya banyak pimpinan PRD ke partai borjus atau borjuis kecil, dan terjadi perpecahan (split). Dari kader PRD tahun 90-an, tinggal hanya segelintir saja yang tinggal, yang sekarang berada di Komite Politik Rakyat Miskin-Partai Rakyat Demokratik (KPRM-PRD). Asal-usul dari fragmentsi tersebut sama dengan yang digambarkan di atas dan tak sempat dilawan dengan meningkatkan pendidikan ideologis. Selain itu, sesudah gagalnya Koalisi Nasional (yang berusaha melibatkan kubu PNBK dan Partai Pelopor), kurang ada pengambilan kesimpulan tegas bahwa: dengan kegalan tersebut, kesempatan untuk mengambil momentum peluang alliansi dengan unsur borjuis kecil yang anti-Orde Baru sudah selesai. Mental “taktis” (kontra “strategis”) sempat berkembang secara ekstrim.

Sementara fragmentasi di dalam PRD terjadi, fragmen-fragmen kepeloporan lain mulai tumbuh, meskipun wataknya belum sepenuhnya jelas. Yang bisa dicatat sebagai cerminan proses tersebut—antara lain, mungkin—organisasi-organisasi seperti Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP)/Kongres Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI)/Federasi Perjuangan Buruh Jabotabek (FPSBJ), Rumah Kiri, jaringan di sekitar toko buku Ultimus dan penerbit Resist. Juga ada individu-individu yang secara sporadis bisa memainkan peranan kepeloporan dalam waktu-waktu yang hanya sebentar. Tetapi semua itu berkembang secara fragmentatif, sehingga pasti banyak ke-parsial-an dalam proses pertumbuhan masing-masing fragmen. Semua itu harus lebih diselidiki sebelum bisa mengambil kesimpulan yang lebih teliti.

(5)

Perjuangan ideologis untuk gerakan ‘strategis.

a. Tema-tema propaganda (pendidikan politik seluas yang dimungkinkan)
Prioritas dalam mempersatukan fragmen-fragmen kepeloporan adalah sama dengan prioritas dan memperluas elemen kepeloporan: yaitu mempertegas dan menyebarluaskan keyakinan terhadap basis ideologis yang mau diperjuangkan. Penjajagan dan perundingan dengan berbagai fragmen kepeloporan yang berkembang harus berdiri di atas basis ideologi yang jelas dan meluas.
Yang dibutuhkan sekarang adalah meluaskan propaganda yang sistimatik melalui setiap lini pengorganisiran, baik dengan terbitan cetakn maupun lisan. Sistematika tersebut berarti: di mana dan kapan pun tema-tema penjelasan YANG SAMA harus dijelaskan—tentu saja dengan semakin lihai dan mendalam. (Itu berarti bahwa kader sendiri harus semakin belajar dan membaca.)

Dalam bangun sistematikanya, ada tiga bidang yang harus digarap:
- Asal-usul krisis ekonomi, politik, dan budaya Indonesia;
- Siapa yang berjuang mati-matian, siapa yang berjuang setengah hati, dan siapa musuh-mu
- Jalan keluar dan solusi.

Asal-usul krisis ekonomi, politik, dan budaya Indonesia


Dalam tahap sekarang, tekanan harus ke penjelasan historis (menjelaskan sejarah) sehingga dapat menghindari penjelasan yang abstrak. Dalam rangka itu, tiga poin utamanya adalah sebagai dicantumkan di atas:

- Kolonialisme 350 tahun:Warisan kolianalisme pada Indonesia Merdeka (massa harus hafal segala sejarah tersebut dan mampu membicarakannya);
- Kekalahan kubu “sosialisme ala Indonesia” (kubu mobilisasi massa buruh-tani) pada tahun 1965 (yang mencari jalan kerakyatan untuk membangun Indonesia yang tidak tergantung pada imperialis) sehingga memungkinkan (i) pendirian rejim Orde Baru; dan (ii) ekonomi kapitalis yang tak berindustri; serta terutama (iii) penghancuran capaian-capaian revolusi nasional demokratik Indonesia selama 1900-1965 di atas kekalahan kubu sosialis pada tahun 1965 (rakyat harus belajar sejarah Orde Baru). Dengan kata lain, merupakan kemenangan (a) kediktatoran politik elit terhadap demokrasi mobilisasi massa dan (b) neo-kolonialisme.
- Neo-liberalisme: Ketidakmampuan rejim politik elit ataupun ekonomi neo-kolonial membela rakyat dan negeri dari serangan globalisasi neo-liberalisme—yang merupakan bentuk ganas yang paling baru neo-kolonialisme—dan krisis kapitalisme internasional—yang kepentingannya memperbesar keuntungan dari investasi-investasinya, sehingga membutuhkan peningkatan pemerasan.

ADALAH SYARAT MUTLAK bahwa KETIGA poin tersebut dipelajari oleh semua kader dan kemudian oleh massa seluas-luasnya.

Siapa yang berjuang mati-matian, siapa yang berjuang setengah hati dan siapa musuh-musuhnya

Yang juga harus dijelaskan secara historis.

(A) Kekuatan sosial (kekuatan kelas) yang bergerak dari masa ke masa. Peranan pemuda, intelektual muda, pedagang miskin, buruh dan tani dalam perlawanan terhadap kolonialisme sampai tahun 1949; terhadap pembangunan gerakan “sosialisme ala Indonesia” periode 1949-65; dan dalam perlawanan terhadap Orde Baru dalam tahap-tahapnya.
(B) Sejarah siapa yang mengorganisir dan memperjuangkan ide (a) aksi massa dan (b) Sosialisme ala Indonesia dalam semua periode tersebut, yang juga harus menggambarkan figur dan ide-idenya, serta juga organisasi politik yang berkembang.
(C) Situasi sekarang.

Penjelasan sejarah harus menjadi landasan untuk kader maupun massa dalam menilai peta politik perjuangan sekarang. Ada tiga aspek yang harus bisa dijelaskan.
§ Kekuatan sosial (kelas) mana yang berkepentingan dan yang mampu melawan (proletar dan mahasiswa, dengan menjelaskan kedudukan khusus dari massa mayoritas,yakni massa semi-proletar dan burjuis kecil yang melarat dan tertindas—kaum miskin kota/Marhaen desa dan kota);
§ Siapa musuh rakyat dalam negeri dan mengapa: sisa-sisa Orde Baru, militer, reformis gadungan, nasionalis gadungan, yang semuanya berdiri di atas kepentingan kelas kapitalis dalam negeri dengan semua konflik-konfliknya. Siapa musah luar negeri: imperialis, pemerintah-pemrintah imperialis, lembaga finansial internasional, perusahaan MNC dan bank-bank internasional;
§ Siapa sekutu strategis dalam dan luar negeri, baik secara kelas maupun organisasi. Dalam menjelaskan aspek organisasi dalam negeri harus disertai dengan penjelasan yang teliti, peka, rendah hati tapi ilmiah terhadap situasi fragementasi kepeloporan. Sekutu strategis adalah calon mitra persatuan.
§ Siapa sekutu taktis: ini berubah dari waktu ke waktu, bisa kekuatan sosial (kelas atau suatu bagian dari sebuah kelas), bisa individu, bisa organisasi.

Jalan keluar dan solusi


Tema pokok:

§ Rakyat miskin harus berkuasa melalui organisasi-organisasi massanya sendiri (berarti harus berkembang massif)—pemerintahan rakyat miskin;
§ Kekuatan politik rakyat miskin terletak dalam jumahnya yang massif (200 juta), yang akan menjadi suatu kekuatan kalau terorganisir dengan kuat—200 juta orang juga merupakan angkatan kerja Indonesia, sumber semua produktivitas: strategi gerakan harus membangun gerakan aksi massa demi mendirikan pemerintahan rakyat miskin;
§ Pemerintahan rakyat miskin harus memperjuangkan sebuah ekonomi dan masykarakat sosialis, yaitu ekonomi yang diatur melalui mobilisasi tenaga, pikiran dan semangat massa; rakyat berdaulat terhadap semua sumber daya alam maupun teknologi yang ada di dalam negeri; masyarakat dibangun berdasarkan solidaritas serta kerjasama di antara massa (gotong-rojong); dan pendidikan, ilmu pengetahuan, pengetahuan umum serta kebudayaan menjadi hak dan alat untuk membangun masyarakat yang harus dimiliki oleh semakin banyak orang dengan cepat.

b. Strategi bawah dan strategi atas


Strategi bawah

Yang dibutuhkan sekarang adalah meluaskan propaganda yang sistematik melalui setiap lini perorganisiran, baik dengan terbitan cetakan maupun lisan.

Strategi atas


Dalam perjuangan melawan kediktatoran Suharto (dan sampai sekarang), gerakan pernah memakai berbagai jenis strategi atas, yaitu strategi untuk menjangkau massa banyak dengan ide, slogan atau tuntutan kita, selain melalui proses pengorganisiran (dalam semua bentuknya)

1989-96—aksi massa besar mahasiswa-petani, kemudian mahasiswa-buruh, yang meraih perhatian media massa;
1996—alliansi dengan sebagian kekuatan kelas burjuis (kecil), yaitu PDI-Megawati dan kekuatan pro-demokrasi lainnya (berhasil);
1997—panggung pengadilan tahanan politik PRD; intervensi PEMILU dengan menyebarluaskan selebaran yang massif;
1998—aksi mahasiswa militant, yang semakin serentak secara nasional;
1999—maju di Pemilu;
2000-2007—percobaan alliansi-alliansi dengan kekuatan burjuis kecil progressif sampai dengan Koalisi Nasional (gagal).

Selama periode 1989-1998 watak gerakan (ternyata) terutama bersifat agitatif: yang diutamakan adalah slogan dan tuntutan yang menyudutkan serta yang membongkar rejim diktator dan sekutunya (kroni dan lain-lain). Dalam periode ke depan, selain agitasi (yang pada suatu saat akan semakin mendesak kebutuhannya), propaganda (pendidikan politik yang mendalam) buat massa akan sama pentingnya, bahkan merupakan syarat mutlak bila gerakan berkehendak mendirikan sebuah pemerintahan rakyat miskin yang akan mampu memimpin perjuangan menciptakan sebuah ekonomi dan masyarakat yang semakin sosialis.

Dalam rangka itu, pertama, semua metode—seperti sudah pernah dijalankan—pasti akan diperlukan lagi kalau kondisinya menunjang; dan, kedua, harus ada kepekaan khusus untuk mengakumulasi panggung ideologis.

Akumulasi panggung ideologis


Panggung-panggung tersebut bisa tersedia sebagai hasil semakin berwibawanya suara radikal, yakni karena mencapai tingkat-tingkat persatuan progressif yang mempesonakan, baik di medan organisasi politik maupun sektoral.

Panggung-panggung tersebut juga bisa tersedia dengan merespon isu-isu yang memiliki makna ideologis tinggi. Contoh-contoh saat ini termasuk:

§ solidaritas terhadap revolusi Venezuela yang mencetuskan “sosialisme abad 21” (yang bisa dikaitkan dengan “sosialisme ala Indonesia”);
§ represi terhadap buku, kurikulum atau acara sejarah (yang berpotensi dapat beraliansi dengan intellectual, yang belum tergarap dengan baik);
§ repressi, kekerasan, diskriminasi terhadap kaum perempuan, karena unsur (ideologis) egaliter dan anti keterbelakangan dalam budaya memiliki makna ideologis yang sangat tinggi dan memiliki potensi bagi revolusi kebudayaan yang dahsyat.

Ada juga contoh-contoh lain—yakni merspon isu-isue yang mebutuhkan perdebatan dengan figur-figur burjuis yang sedang mencari hati massa:

§ Serangan-serangan nasionalis (kanan) terhadap asing, yang mengabaikan aspek kekuasaan rakyat—seperti tuntutan pembaruan kontrak/peninjauan kontrak karya ataupun nasionalisai tanpa SEKALIGUS mempersoalkan SIAPA yang menguasi asset dalam negeri tersebut—dan agitasi para nasionalis gadungan lainnya;
§ Pembelaan borjuis terhadap sistem parlementer dan kepartain yang ada sebagai demokrasi yang ideal; harus dibalas dengan argumentasi bahwa demokrasi tersebut adalah demokrasi yang hanya diperuntukan bagi mereka yang mampu MEMBELInya dan, karena itu, dibutuhkan untuk sistem demokrasi lain, demokrasi sejati yang berdasarkan pada partisipasi (mobilisasi) massa.

Read More......

06 Agustus 2008

Statament FPN Samarinda Kalimantan Timur

Pernyataan Sikap
FRONT PEMBEBASAN NASIONAL (FPN)
Samarinda, Kalimantan Timur

KESEJAHTERAAN RAKYAT ADALAH TANGGUNG JAWAB NEGARA !!

NAIKKAN UPAH MINIMUM PROPINSI (UMP) KALTIM SESUAI DENGAN KEBUTUHAN HIDUP LAYAK (KHL), OLEH PERSATUAN MOBILISASI RAKYAT DAN DIBAWAH KONTROL RAKYAT !
BUBARKAN DEWAN PENGUPAHAN PROPINSI KARENA HANYA MENJADI ALAT JUAL-BELI MASSA BURUH OLEH ELIT SERIKAT BURUH DAN ELIT PEMERINTAHAN UNTUK KEMUDIAN HARUS SEGERA DIGANTI DENGAN DEWAN BURUH YANG MELIBATKAN PARTISIPASI LANGSUNG SELURUH UNSUR MASSA BURUH DALAM MENENTUKAN KEBIJAKAN AKAN UPAH BURUH !
TURUNKAN HARGA BBM DENGAN PERSATUAN MOBILISASI RAKYAT !

Genderang perlawanan dan perjuangan massa buruh dan rakyat Samarinda, Kalimantan Timur dalam menuntut naiknya Upah Minimum Propinsi (UMP) sesuai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sebagai akibat dari kebijakan pemerintahan atau negara yang menaikkan harga BBM dan harga kebutuhan pokok rakyat (Sandang, Pangan, Papan) telah dijalankan sejak tanggal 09 Juni 2008 oleh Front Pembebasan Nasional (FPN) Samarinda, Kalimantan Timur yang berisikan unsur-unsur maju dari; Mahasiswa, kaum miskin kota, kaum buruh, kaum tani dan perempuan di Samarinda, yang mana telah diketahui bahwa sejak tanggal tersebut FPN Samarinda setiap hari melakukan aksi-aksi, dan terus membesar dan menyatu dari hari ke hari. Ini menunjukan, bahwa tingkat kesejahteraan rakyat sudah dalam batas yang paling rendah, sehingga kenaikan harga BBM sebesar 30 %, tidak akan lagi sanggup di tanggung oleh rakyat Indonesia dan termasuk buruh dan rakyat di Samarinda atau Kalimantan Timur. Hal ini lah yang kemudian memicu lahirnya tekanan dan tuntutan massa buruh di Samarinda untuk menuntut kenaikkan upah yang selama ini tidak pernah diakomodir oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur.

Tuntutan massa buruh Samarinda hingga saat ini masih sarat dengan kepentingan elit-elit serikat buruh gadungan dan elit-elit pemerintahan yang tergabung dalam Dewan Pengupahan Propinsi. Kadisnakertrans Kalimantan Timur telah dengan jelas menunjukkan logika dan sikap tersebut, karena apabila Kadisnakertrans Kalimantan Timur memang benar memprioritaskan tuntutan mendesak massa buruh saat ini maka pastinya tuntutan ini tidak akan dihambat oleh jalur birokrasi yang telah ditunjukkan selama ini oleh Pemprov, DPRD dan Disnakertrans serta Elit Buruh gadungan yang berada didalam Dewan Pengupahan Propinsi. Berbagai macam alasan ditunjukkan oleh pihak pemerintah untuk menghambat tuntutan mendesak massa buruh karena hingga saat ini tidak ada Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur dalam hal memenuhi tuntutan mendesak massa buruh.

Karena itu, Front Pembebasan Nasional (FPN) Samarinda, Kalimantan Timur MENUNTUT kepada Pemerintah Propinsi, DPRD Propinsi, Disnakertrans dan Dewan Pengupahan Propinsi untuk segera:
1.Keluarkan Surat Keputusan (SK) Upah Minimum Propinsi (UMP) sesuai dengan KHL !!
2.Libatkan seluruh unsur: organisasi atau serikat dan massa buruh di Kalimantan Timur untuk menentukan kebijakan akan nilai Upah Minimum Propinsi (UMP) !!
3.Turunkan harga BBM dan kebutuhan pokok rakyat !!

Sekaligus melalui pernyataan sikap ini kami dari Front Pembebasan Nasional (FPN) Samarinda, Kalimantan Timur menyerukan kepada massa buruh di Samarinda dan Kota/Kabupaten di Kalimantan Timur untuk melakukan MOGOK KERJA SERENTAK pada hari Selasa, 29 Juli 2008 dan turun kembali untuk mengepung Kantor Gubernur (mulai pukul 08.00 Wita) hingga tuntutan mendesak buruh dan rakyat miskin saat ini terpenuhi !!
Karena hanya desakan dan tuntutan massa yang resah dan lapar melalui aksi-aksi massa adalah satu-satunya jalan yang bisa dipercaya. Sudah cukup ditelikung dan dikhianati oleh elit-elit dan pemerintahan saat ini.
Hidup persatuan buruh dan rakyat miskin untuk berkuasa ditanah dan dinegeri sendiri !!

Statement ini dikeluarkan oleh:
Front Pembebasan Nasional ( F P N ) Samarinda, Kalimantan Timur
SBMI, KSBI-SBTM, SBP, OSKM Sumalindo, KASBI, Pokja 30, PRP, KPRM, JNPM, LMND-PRM,
FNPBI-PRM, KM Fisip UM, SRMK, Komunitas Rumah Bambu, BEM Polnes 08/09, ARM Samarinda, FPWM, FPWSS, PMII Samarinda, PKL Buah Samarinda, PKL Oedah Etam, BEM STAIN, JARI, BEM UNMUL
Read More......

Aksi ke-11 FPN Kaltim--29 Juli 2008

Tanggal : 29 Juli 2008
Tempat : Kantor Gubernur

Aksi ini merupakan aksi yang ke-sebelas kalinya (bukan yang ke-sepuluh seperti yang diberitakan oleh SCTV), sejak aksi massa pertama kali FPN Kaltim tanggal 10 Juni 2008 di DPRD Propinsi. Aksi pada hari ini diikuti sekitar 2500 massa buruh dari berbagai alat mobilisasi. Pada awalnya (10 Juni 2008), FPN Kaltim mulai mengusung tuntutan mendesak kaum buruh ini, hingga kemudian berakses terhadap mobilisasi-mobilisasi yang semakin besar dan meluas (mobilisasi dan propaganda); Samarinda, Paser, Balikpapan, Berau di Kalimantan Timur—seperti hari ini.
Sebelumnya pada tanggal 23 Juli 2008 sekitar 70 orang massa FPN Kaltim melakukan aksi pendudukan (menginap) di depan pagar kantor gubernur Kaltim, hingga kemudian pada esok harinya tanggal 24 Juli 2008 bergabung bersama 3000 massa buruh dari berbagai serikat untuk mengepung kantor Gubernur.


Tuntutan mendesak FPN Kaltim dari awal hingga saat ini adalah:
1.Turunkan harga BBM dan kebutuhan pokok rakyat !!
2.Naikkan upah buruh sesuai KHL !!
3.
Dengan mengusung isu:
1.Bangun pemerintahan alternative dibawah kendali rakyat !!
2.Bubarkan Parlemen, Ganti dengan Dewan Rakyat !!
3.Bubarkan Dewan Pengupahan, Ganti dengan Dewan Buruh !!
4.Nasionalisasi Industri Tambang dan Migas di bawah kontrol rakyat !!
5.Hapus utang luar negeri !!
6.Usir IMF dan Bank Dunia dari Indonesia !!
7.Singkirkan SBY-JK dan Parpol Elit !!
8.Bubarkan Konfederasi Gadungan, ganti dengan Konfederasi Alternatif di bawah kendali buruh !!

Kesemua isu tersebut diusung oleh FPN Kaltim dalam aksi-aksinya di Samarinda dan Bontang; 13 Juni 2008 (meskipun tidak kesemua isu tersebut di munculkan oleh media propaganda borjuis).
Aksi massa FPN pada hari ini dimulai pada pukul 09.00 Wita dan langsung mengepung kantor Gubernur serta langsung memblokir dua ruas jalan utama sehingga Samarinda benar-benar macet. Pagar kawat berduri dan 2000 aparat kepolisian (informasi dari Kaop. Poltabes Samarinda AKP Hadi Purnomo) serta mobil water canon telah berjaga-jaga di dalam halaman kantor Gubernur. Mengingat sebelumnya pada aksi tanggal 14 juli, massa FPN merobohkan pagar masuk utama kantor DPRD Propinsi dan kemudian aksi tanggal 24 juli, giliran pagar masuk kantor Gubernur yang jadi korban ekspresi kemarahan massa buruh terhadap Pemprov yang tidak kunjung jua memenuhi tuntutan mendesak massa buruh ini.

Pada pukul 14.00 Wita, massa buruh yang semakin frustasi dengan sikap Pemprov kembali mengeluarkan ekspresi kemarahannya. Baliho-baliho besar yang berada diseberang jalan kantor Gubernur dirusaki massa karena baliho tersebut berisikan wajah atau photo muka elit-elit daerah serta nasional seperti SBY, Gubernur dan jajarannya (karena baliho tersebut memang dipasang buat menyambut PON yang berlangsung kemarin)—massa frustasi dengan elit pemerintahan. Dalam ekspresi tersebut, seorang peserta aksi, kawan Ucil (buruh pabrik plywood Samarinda) ditangkap oleh aparat. Dalam waktu 15 menit, massa aksi FPN menuntut agar Ucil segera dilepaskan atau massa akan lebih ber-ekspresi lagi. Akhirnya aparat melepaskannya dalam waktu yang ditetapkan tersebut. Massa-pun bersorak sorai (mungkin berarti sebagai sebuah kemenangan kecil dan sangat kecil). Situasi ini benar-benar dimaksimalkan oleh media cetak dan elektronik untuk menghabiskan baterai camera photo dan camera elektronik mereka.

Yel-yel: Buruh Bersatu Tak Bisa di Kalahkan, merupakan andalan FPN saat massa buruh dari berbagai macam warna (SP-Kahutindo, SBSI, SPSI) berada dalam satu titik aksi. Hal ini mampu menarik simpatik massa buruh lainnya sehingga aksi semakin rapat (sebagian massa SBSI memilih bergabung bersama massa FPN). Tapi sayang, pada pukul 17.00 Wita hujan mulai mengguyur lokasi aksi. Hal ini cukup merepotkan perangkat aksi karena mengingat massa aksi yang semakin kelihatan letih, lapar dan lemas. Ya, bisa terbaca, situasi aksi mulai cair karena perangkat aksi juga sama keadaannya. Tapi meskipun cair, terbukti bahwa sebelas kali aksi telah melatih massa aksi untuk memahami betapa pentingnya makna program perjuangan atau tuntutan sehingga sekitar 150 massa aksi FPN memilih tetap bertahan hingga malam dan hingga tuntutan terpenuhi meskipun sebagian besar massa aksi telah pulang pada pukul 17.30 Wita. Hujan semakin deras. Disituasi inilah aparat kepolisian memulai aksinya, massa aksi diminta untuk membubarkan diri, tapi massa aksi menolak dan akhirnya aparat mengajak berkompromi agar massa aksi membuka salah satu ruas jalan yang diblokir, dan massa aksi menyetujuinya karena jumlah peserta aksi mulai sangat berkurang. Massa-pun mendirikan tenda dari terpal di ruas jalan yang diblokir. Saat itu keadaan biasa-biasa saja, hingga akhirnya pada pukul 19.30 Wita massa peserta aksi dari SP-Kahutindo mulai bertindak sendiri dengan coba memblokir kembali ruas jalan yang telah dibuka tadi sambil berjoged ria. Sejak awal aksi, aktifitas mereka memang kebanyakan berjoged lagu dangdut didepan mobil komandonya karena mereka menyewa tiga orang penyanyi dangdut untuk menghibur mereka dalam aksinya.

Dan karena ruas jalan mulai kembali diblokir kembali oleh massa SP-Kahutindo, aparat mulai ikut-ikutan berekspresi. Seratusan barisan tameng aparat (Brimob dan PHH) mulai membentuk ring utama dan menutup semua akses ruas jalan (dan memang jalan kembali terblokir; kali ini diblokir sama-sama oleh massa aksi dan aparat). Water Canon keluar kandang. Intimidasi dimana-mana. Dan menariknya, hanya massa aksi FPN yang diusir karena massa aksi SP-Kahutindo masih jogged dangdut saat intimidasi berlangsung.

Beberapa peserta aksi dipukulin. Tapi tidak apa-apa katanya. Selang setengah jam kemudian, tiba-tiba aparat masuk kandang kembali. Ya, psikologis dan fisik massa yang telah lelah, itu sasaran utama mereka (semacam shock therapy). Aksi tidak bubar dan sekitar 50an massa FPN masih bertahan hingga pukul 23.00 Wita. Hingga pada akhirnya pada pukul 00.00 Wita, Pj. Gubernur meminta pertemuan dengan perwakilan massa aksi. FPN ikut masuk dengan mengirim delegasi yaitu kawan Yudi, Darlina (FNPBI-PRM), Yohanes (SBP), Rukaya (KSBI-SBTM), Phitiri Lari (SBMI), dan beberapa kawan lainnya. Dan pada pukul 01.00 Wita Pj. Gubernur Kaltim (Tarmizi Abdul Karim) mengeluarkan SK Revisi UMP sebesar Rp. 889.000,- (naik 9,16 %) dari angka sebelumnya yaitu Rp. 815.000,- dengan tambahan keputusan bahwa Revisi UMP diikuti dengan UMK dan sektor kerja. Setelah itu massa aksi membubarkan diri dan kembali pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat sementara waktu dan akan melakukan konsolidasi kembali pada 03 Agustus 2008.

Demikian berita singkat ini dibuat agar kita dapat semakin memahami bahwa elit; pemerintahan dan parlemen saat ini tidak ubahnya seperti parasit yang coba menggerogoti ekonomi-politik rakyat lewat Pemilu dan Pilkada. 40 tahun dikhianati oleh sisa orba, reformis gadungan dan militer dalam kekuasaannya hingga saat ini, cukup membuktikan kepada rakyat miskin—tertindas bahwa tak ada jalan lain selain bersatu dan menuntut untuk kemudian menciptakan syarat-syarat untuk berkuasa dengan kekuatan, kepemimpinan dan kendali langsung oleh massa rakyat miskin—tertindas. Karena itu, persatuan mobilisasi massa di Kalimantan Timur pada moment ini (dengan alat FPN) telah menunjukkan fungsi dan capaiannya dalam mewadahi persoalan massa buruh dan rakyat miskin, walaupun masih dalam perjalanan menuju kemenangan sejati rakyat itu sendiri yaitu SOSIALISME !! tapi kemudian dia akan terus maju dan terus berjuang walaupun dalam tingkat kerumitan yang sangat tinggi dengan memanfaatkan setiap borok yang dihasilkan oleh penyakit rakyat itu sendiri yaitu; Neoliberalisme dan antek-anteknya.

Hidup Persatuan Rakyat untuk Berkuasa!

Front Pembebasan Nasional ( F P N ) Samarinda, Kalimantan Timur
SBMI, KSBI-SBTM, SBP, OSKM Sumalindo, OTP, SAMTRACO, KASBI, Pokja 30, PRP, KPRM, JNPM, LMND-PRM, FNPBI-PRM, KM Fisip UM, SRMK, Komunitas Rumah Bambu, BEM Polnes 08/09, ARM Samarinda, FPWM, FPWSS, PKL Buah Samarinda, PKL Oedah Etam, BEM STAIN, Jari
Read More......

30 Juli 2008

[Samarinda] Buruh Demo (Lagi), Tuntut Revisi UMP 2008

Kamis, 24 Juli 2008

Hari Ini 5 Ribu Massa Kepung Kantor Gubernur Kaltim
http://korankaltim.com/index.php?option=com_content&task=view&id=11897&Itemid=2

SAMARINDA-- Perjuangan kaum buruh menuntut revisi atas upah minimum provinsi (UMP) kembali berlanjut Rabu (23/7) kemarin. Ratusan buruh dari Aliansi Buruh Menggugat (ABM) dan Front Pembebasan Nasional (FPN) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kaltim Jl Gadjah Mada.

Mereka mendesak Pemprov Kaltim mensahkan SK revisi Upah Minimum Provinsi (UMP) 2008 sebesar Rp1.389.560.
Aksi ini, merupakan yang kedelapankalinya, namun sejauh ini tuntutan mereka tak kunjung dipenuhi. ”Ini aksi kami yang kedelapankalinya, tapi pemerintah sepertinya tidak mendengarkan tuntutan buruh,” kata Koordinator Lapangan Phitiri Lari.
Ia meminta kepada Pj Gubernur Kaltim Tarmizi A Karim segera merevisi SK UMP 2008 sebelum aksi buruh berubah menjadi anarkis. Pihaknya bertekad terus memperjuangkan tuntutan itu hingga dikabulkan. ”Jangan sampai menunggu buruh anarkis baru SK dikeluarkan,” tandasnya.

Menurutnya, aksi akan dilanjutkan Kamis (24/7) dengan menurunkan sekitar 5.000 masa buruh pabrik. Tadi malam, mereka menginap di depan Kantor Gubernur Kaltim menunggu aksi besar. ”Lima ribuan buruh pabrik akan mengepung Kantor Gubernur Kaltim besok (hari ini, Red.),” jeasnya lagi.

Aksi ini dipicu keputusan pemerintah dan unsur pengusaha Senin (21/7) lalu yang menunda pengesahan revisi UMP. Mereka masih akan mengkaji ulang besaran angka kenaikan. Dalam pertemuan itu, hanya disepakati dibentuk Tim Ad Hoc yang akan mengkaji lagi besaran UMP 2008 yang akan menjadi referensi proses revisi.

UMP Kaltim 2008, sebelumnya ditetapkan Rp 815.000. Namun, buruh menolak karena dinilai terlalu kecil dan tak sesuai dengan kebutuhan hidup saat ini. Untuk itu, buruh menuntut kenaikan hingga 70 persen menjadi Rp1.389.560. Menurut Phitiri, angka yang diminta buruh itu didasarkan pada beberapa faktor di antaranya naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok sebagai imbas kenaikan harga BBM. Hal itu, menyebabkan kebutuhan hidup layak (KHL) di Kaltim kontan melonjak 100 persen. (kh)
Read More......

Hari ini (14 Juli), Ratusan Buruh Kembali Turun ke Jalan

Senin, 14 Juli 2008

http://korankaltim.com/index.php?option=com_content&task=view&id=11439&Itemid=32

SAMARINDA– Ratusan buruh yang tergabung dalam Front Pembebasan Nasional (FPN) Kaltim, rencananya Senin (14/7) hari ini akan kembali turun ke jalan menuntut terbitnya Surat Keputusan (SK) Upah Minimum Provinsi (UMP) senilai Rp1,3 Juta. Sekaligus, mendesak pemerintah menurunkan harga sembilan bahan pokok (Sembako) dan harga bahan bakar minyak (BBM).

Aksi akan digelar sekitar Pukul 09.00 Wita hari ini dengan mengerahkan 587 orang dari 32 organisasi serikat buruh, elemen pergerakan mahasiswa dan organisasi masyarakat (Ormas). Mereka akan berkumpul di Lapangan Sepak Bola Karang Asam J Slamet Riyadi Samarinda kemudian konvoi ke Gedung DPRD Kaltim Karang Paci Samarinda.

”Aksi kami tetap menuntut SK UMP dan turunkan harga Sembako dan harga BBM. Kami tak akan berhenti gelar aksi sebelum tuntutan dan perjuangan atas hak buruh terpenuhi,” ujar Koordinator Lapangan (Korlap) FPN Kaltim Romanus kepada Koran Kaltim kemarin.

Disebutkan, ke-32 ormas dan elemen mahasiswa itu yakni, Serikat Buruh Mandiri Indonesia (SBMI), Konsederasi Serikat Buruh Independen (KSBI), OSKM Sumalindo, Serikat Buruh Perjuangan (SBP), Serikat Pekerjan Kimia Energi dan Pertambangan (SP-KEP), Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia-Politik Rakyat Miskin (FNPBI-PRM), SBSI PMM, Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).

Kemudian, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP). Sedangkan Organisasi Masyarakat (Ormas) terlibat dalam aksi diantaranya Liga Mahasiswa Nasional Demokratik-Politik Rakyat Miskin (LMND-PRM), BEM Polnes, PC PMII Samarinda, BEM Uwigama, BEM Fisip Unmul, BEM STAIN. Sedangkan elemen pergerakan mahasiswa dan masyarakat terlibat dalam aksi itu diantaranya Kaum Miskin Kota (KMK).

Juga ada Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK) Kaltim, Aliansi Rakyat Miskin (ARM), Forum Masyarakat Warga Musyawarah (FMWM), Forum Persatuan Warga Sudut Sungkai (FPWSS), Komunitas Rumah Bambu (KRB), PKL Odah Etam dan Jaringan Nasional Perempuan Mahardika (JNPM).

”Sebanyak 32 serikat buruh dan Ormas bersama elemen mahasiswa ini komitmen memerjuangkan hak dan kewajiban terhadap buruh, terutama UMP yang harus diubah dari Rp815 ribu menjadi Rp1,3 juta,” sebutnya.
Selain itu kaum buruh juga menuntut pembubaran Dewan Pengupahan Provinsi (DPP) Kaltim dan diganti dengan Dewan Buruh. Sebab DPP tak memerjuangkan dan mewakili kepentingan buruh. ”Sistem yang digunakan DPP kami anggap sudah usang,” tegasnya.

Ditegaskan, tuntutan SK UMP itu merujuk pada standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sesuai data inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim. Pihaknya pun tetap melakukan konsolidasi bersama sejumlah buruh di pabrik, tambang dan pusat perbelanjaan (mall) dan menyerukan mereka menggelar aksi mogok kerja massal jika tuntutan ini tak dipenuhi. (ca)
Read More......

TERBITAN KPRM-PRD