06 Februari 2008

[Internasional] Dunia di dalam Krisis!


(antara terjun ke jurang atau membangun tangga-tangga alternatif)

Oleh: Zely Ariane

Pengantar [1]

Dunia sedang dilanda krisis. Globalisasi neoliberal terbukti memanen kemiskinan dan memperdalam ketimpangan ketimbang kemakmuran dan pemerataan.[2] Tak perlu tesis yang terlalu rumit untuk dapat menyimpulkannya, walaupun membutuhkan suatu studi yang seksama untuk mengukur tingkat dan kadar krisis tersebut, khususnya yang terkait dengan produksi dan produktivitas. Menyusutnya legitimasi terhadap neoliberalisme dari hari ke hari, dari negeri ke negeri, adalah jawaban terhadap krisis ekonomi. Kehancuran tenaga produktif muda; kemiskinan; kehancuran industri; pengangguran; hilangnya kemampuan negara untuk mengontrol kenaikan harga dan memberikan berbagai jaminan sosial (welfare state), adalah sebagian wujud dari krisis ekonomi tersebut.

Namun, kelompok mayoritas dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS) yang dengan sembrono menyimpulkan bahwa belum tersedia syarat bagi krisis ekonomi (di Indonesia) yang berdampak luas, mendalam dan tiba-tiba terhadap rakyat, sehingga (mereka mengatakan) kalaupun potensi krisis akan muncul, maka tidak akan sampai menghasilkan krisis revolusioner. Sembrono sekali kesimpulan tersebut hingga sanggup melawan kekhawatiran para ekonom kapitalis sendiri:

”...Walaupun para ekonom anti-kapitalisme di dunia saat ini belum sampai pada kesimpulan bahwa ekonomi kapitalisme-neoliberal akan segera bergerak menuju kiamat, namun ‘para penjaga’ ekonominya—lembaga-lembaganya, para ekonom dan akademisinya—masih sangat was-was mengenai kondisi pasar ekonomi dan keuangan yang bisa saja lebih memburuk berdasarkan pengalaman siklus ‘krisis’ terakhir (sejak krisis Mexico tahun 1994 hingga gelembung ‘ekonomi baru’ AS tahun 2001). Membumbungnya defisit keuangan (CADs) AS, seiring dengan surplus keuangan (CASs) di kawasan Asia Timur (khususnya Cina, Jepang, Taiwan dan Korea Selatan), menjadi perhatian utama ‘para penjaga ekonomi’ itu. Hal itu tercermin dari keresahan-kerasahan berikut:

· Peringatan IMF terhadap para investor yang dianggapnya ‘mengabaikan kenyataan bahwa perekonomian global sedang menghadapi resiko besar’. Resiko itu termasuk perlambatan perekonomian AS; turunnya harga perumahan; kenaikan harga minyak; dan kenaikan tingkat suku bunga untuk menghambat tekanan inflasi.[3]
· Data penjualan rumah AS menunjukkan terjadinya penurunan sebesar 4,1%, pada Juli, 2006, yang merupakan titik terendah sejak Januari, 2004 (angka penjualan rumah yang terkecil dalam 13 tahun terakhir). "Dengan pasar perumahan di AS yang turun lebih cepat dibandingkan perkiraan, ada resiko lebih besar: perlambatan perekonomian AS, yang dapat juga menurunkan ekspansi global.[4]” [catatan tambahan: perusahaan sekuritas terbesar Jepang, Nomura Holdings Inc., Senin 15/10 mengumumkan keputusannya keluar dari pasar surat berharga kredit perumahan dengan nasabah beresiko tinggi di AS, setelah membukuka kerugiaan besar―511 juta dolar AS―akibat krisis (kerugian dari bencana subprime mortgage) [5]. Menurutnya, kredit macet bukan satu-satunya penyebab karugiannya di AS, basis nasabah yang juga melemah adalah sebab lainnya.]
· Di tahun 2005, ketika pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 4,8%, konfigurasi ekonominya justru menunjukkan keanehan. Sejak era 1980-an, tak pernah terjadi tingkat defisit (CADs) yang lebih tinggi [6]; harga minyak juga lebih tinggi [7]; nilai tabungan personal di AS lebih rendah; dan suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah di Eropa, Jepang dan AS.... [8]” [Situasi Internasional hasil Kongres Papernas, Januari, 2007).
Kelimpahan barang tanpa daya beli (excess supply) adalah bentuk krisis yang sudah ada di depan mata. Bila pada Malaise 1929, modal hancur karena tidak bisa diinvestasikan ke dalam sektor riil, maka di masa kini modal lebih untung ditanamkan ke sektor finansial (perdagangan saham dan uang) karena sudah lama tidak bisa (baca: tidak cepat menguntungkan) ditanamkan ke sektor riil. Itulah (baca: tidak ada ekspansi modal ke sektor produktif) yang menjadi penyebab utama pengangguran, sebagai wujud krisis massal di dunia saat ini.[9]

Memang, walaupun kapitalisme tambah menyengsarakan rakyat, dan siklus resesi-resesi kecilnya bertambah sering, tapi konsentrasi/sentralisasi tenaga produktifnya juga makin mengerucut ke beberapa kapitalis [10] serta produktivitasnya masih meningkat, sehingga BELUM menyebabkan kebangkrutan atau kehancuran produksi. Ketidakmampuan daya beli terhadap barang-barang pokok; pengangguran ekstrem; dan proyek imperialisme yang gagal di hampir semua negeri yang dihisapnya—biasanya karena perlawanan atau karena siklus krisis di negeri imperialis—belum menyebabkan kehancuran produksi. Krisis kapitalisme di negeri-negeri imperialis utama BELUM menyebabkan krisis global yang disebabkan oleh kehancuran produksi karena ketidakmampuan daya beli (baca: over produksi) yang ekstrim.

Namun, yang mutlak untuk selalu dicatat adalah, bahwa perlawanan yang berhasil (baca: kemandirian) di negeri-negeri yang dihisap/dijajahnya akan mempercepat krisis tersebut. Kapitalisme hanya sedang akan menurun—selain oleh sebab-sebab di atas, juga karena krisis pasar keuangan masih dapat ditoleransi dengan mendukung pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter—dan syarat-syarat pematangan krisisnya serta gerakan perlawanannya harus terus kita persiapkan.

1. Krisis legitimasi neoliberalisme

Bukti-bukti yang memperkuat kesimpulan bahwa neoliberalisme mulai kehilangan legitimasi, kehilangan landasannya, semakin bertambah.

Di negeri-negeri Dunia Ketiga (baca: negeri terjajah/terhisap), neoliberalisme tak lagi mampu tampil dengan gaya aslinya.[11] Ia terpaksa meniru gaya negara kesejahteraan (Keynesianisme) (walfare state), agar terlihat manusiawi dan seakan-akan berhasil menabur derma kesejahteraan melalui: Millenium Development Goals (MDGs) [12]; atau/dan program-program konpensasi semacam Jaring Pengaman Sosial. Pemberian Nobel untuk Muhammad Yunus, yang berhasil mengembangkan sistem mikro kredit untuk orang miskin lewat Greemen Bank-nya, adalah bukti (baca: pengakuan) bahwa neoliberalisme tidak mampu menyejahterakan orang miskin. Sehingga sistem tersebut membutuhkan pihak-pihak ‘swasta’ maupun pemerintah untuk dapat membantunya menambal kemiskinan, agar sistim bisa tetap tegak.[13]

Dengan demikian, kita bisa berkesimpulan: bahwa pemilihan Dominique Strauss-Kahn, mantan menteri ekonomi Prancis dan tokoh Partai Sosialis Prancis, untuk memimpin IMF, adalah bentuk upaya untuk memperbaiki citra IMF (sebagai alat utama kebijakan neoliberalisme) yang sedang mengalami krisis legitimasi. Kahn langsung mengangkat sebagian isu yang sudah meluas didukung dan diperjuangkan oleh gerakan massa bersama NGO anti neoliberalisme selama ini, yakni: reformasi dan demokratisasi IMF (selama ini, hak suara/sistem pengambilan keputusan dikelola berdasarkan kuota suara—AS memiliki kuota terbesar dengan hak suara 16,83% dari total 185 negara anggota, yang hanya memiliki hak suara 32%) (Kompas, 2 Oktober, 2007).

Pemberian nobel ekonomi tahun 2007 kepada Trio Ekonomi AS, Leonid Hurwicz, Erick S Maskin, dan Roger B Myerson, dengan teorinya yang membantu neoliberalisme menjelaskan kapan mekanisme pasar bisa bekerja secara efektif (Teori Desain Mekanisme), adalah cermin kebutuhan neoliberalisme menemukan landasannya kembali di tengah pengakuan mereka sendiri bahwa tidak semua negeri yang menjalankan mekanisme perekonomian pasar akan otomatis meraih sukses. Namun teori tersebut juga dipaksa kembali ke resep-resep dasar negara kesejahteraan, dengan melihat bagaimana berbagai lembaga bisa mengalokasikan sumber daya sebaik-baiknya dan kapan intervensi pemerintah diperlukan dalam perekonomian.

2. Penjajahan modal asing (imperialisme AS) dalam krisis

Semua modifikasi resep neoliberalisme tersebut hanya bertujuan untuk mengokohkan penjajahan modal asing di negeri-negeri Dunia Ketiga. Dan penjajahan modal tersebut berpusat pada penguasaan sumber-sumber enerji dunia (khususnya migas) oleh perusahaan-perusahaan enerji raksasa. Di dalam bukunya, Oil and World Politic (1991), Ted Wheelwright menyebutkan bahwa sejarah industri minyak dunia adalah kisah ekonomi
politik abad ke-20 yang luar biasa. Hal tersebut meliputi hubungan yang penuh intrik dan penipuan antar kekuatan ekonomi, politik dan militer; yang menghasilkan perang, revolusi, konspirasi, korupsi, nasionalisme dan imperialisme.

Nasionalisme Skotlandia; perkembangan Amerika Latin; kemerdekaan Puerto Rico; isolasi Kuba; kedaulatan Samoal; perlawanan sipil di Indonesia dan Nigeria; batas Israel; perseteruan AS-Sovyet [hingga yang paling terkini, serangan terhadap Axis of Evil (Kuba, Venezuela, dan Iran) oleh AS], masing-masing memiliki komponen minyak yang masuk dalam agenda paling utama korporasi internasional. Masing-masing memberikan dimensi global ekonomi politik minyak (Engler, 52).

Lebih lanjut, Wheelwright menyebutkan bahwa studi klasik mengenai dinamika internal hubungan antara kapitalisme dan imperialisme—yang telah mempengaruhi banyak pihak, dari Lenin hingga seterusnya—dilakukan oleh Hobson pada permulaan menurunnya Imperium Inggris di awal abad 20. Ia memberikan perhatian tidak saja pada kebutuhan paling penting dari imperium, yakni penguasaan bahan mentah; namun juga pada meningkatnya ketimpangan pendapatan yang mengarah pada akumulasi kapital, dan tekanan untuk menginvestasikannya ke luar negeri ketika pasar domestik kering (over supply). Kebutuhan untuk membiayai, mengelola, dan melindungi investasi mengarahkannya pada pertumbuhan/peningkatan suatu kelas finansial, pertumbuhan kekuatan militer, serta meningkatnya konsentrasi industri minyak.

Kini para ekonom imperium dipaksa berfikir keras: bagaimana agar akumulasi modal dari hasil ekspansi pasar ke negeri jajahan dapat terus meningkatkan keuntungan dan tidak beralih tangan/kepemilikan. Sementara ekspansi modal tidak pernah secara nyata terjadi ke negeri-negeri terjajah, karena sebagian besar keuntungan yang mereka peroleh dibawa kembali ke negeri asal penjajah. Hanya ceceran kecil saja diperuntukkan bagi Corporate Social Responsibility/CSR di negeri-negeri setempat—itupun tidak ada paksaan legal. Sementara, kalaupun singgah di dalam negeri, maka tempat persinggahannya bukanlah sektor-sektor produktif yang dapat meningkatkan nilai tambah, melainkan sektor-sektor spekulatif (baca: perjudian portofolio, valuta asing, obligasi, spekulan properti, dan kredit konsumsi).

Mekanisme yang sudah berlangsung lama tersebut bertambah rakus dan kalap ketika bertemu dengan situasi meningkatnya konsumsi enerji (migas) negeri-negeri imperialis, khususnya AS dan Cina, yang luar biasa pesat. Afganistan dan Irak kini sudah dianggap ‘berhasil’ ditundukkan. Iran akan menjadi sasaran berikutnya, karena negeri itu ibarat duri di dalam daging gemuk Timur Tengah yang penuh minyak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Iran adalah satu-satunya penghambat kepentingan AS atas cadangan minyak bumi di Laut Kaspia (206 miliar barrel) dan pembuatan (plus pengamanan) jalur pipa migas sepanjang Asia Tengah sampai Asia selatan. UNOCAL berencana membangun jalur pipa melalui Turkmenistan, Afganistan dan Pakistan (Iran terletak di antara kedua negara terakhir ini) untuk menyuplai minyak bumi dan gas bagi pasar Asia; demikian halnya Halliburton, yang hendak memulai eksplorasi besar-besaran atas 16% cadangan minyak bumi dunia yang terletak di Laut Kaspia itu. Oleh sebab itu Iran harus ditaklukkan. Dengan isu nuklir dan senjata pemusnah massal—sebelumnya hal yang sama juga dituduhkan pada Irak sebagai pembenaran pendudukan—melalui PBB dan IAEA, penaklukkan Iran hendak dimulai.

Di Asia Tenggara, penjajahan modal asing—yang sudah kuat dengan kehadiran Singapore—semakin diperkuat dengan mekanisme ASEAN Plus Three (ASEAN+3) bersama Cina, Jepang, dan Korea Selatan, ditambah dengan berbagai perjanjian bilateral. Para menteri perdagangan ASEAN, pada pertemuan di Kuala Lumpur tahun lalu, bahkan merekomendasikan percepatan pembentukan pasar tunggal regional Asia Tenggara dari semula pada tahun 2020 menjadi pada tahun 2015. Bahkan Jepang sudah mengusulkan proposal pembiayaan sebesar US$ 100 juta untuk penjajakan inisiatif tersebut. Tujuannya adalah menciptakan zona perdagangan bebas (free trade area) yang melibatkan 16 negara (10 negara ASEAN + Cina, India, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Selandia Baru). Jika FTA ini terwujud, maka akan melibatkan sekitar setengah dari penduduk dunia dan seperlima dari total perdagangan global.[14]

Di Indonesia, pembentukan Free Trade Zone (FTZ), Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam, Bintan, dan Karimun, sebagai hasil dari persetujuan kerjasama ekonomi Indonesia-Singapura, yang bertujuan untuk mendongkrak investasi, sudah disahkan menjadi UU. Di tengah ketidakmampuan (baca: ketiadaan rencana dan keberpihakan terhadap) industri nasional, upaya tersebut akan menjadi penyebab bencana jangka panjang karena industri Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku dari negeri-negeri imperialis—sementara bahan mentah pun sudah dimiliki oleh imperialis. Sehingga FTZ, dalam kondisi tersebut, akan menyaratkan lumbung akumulasi modal borjuasi Asia dan imperium modal internasional, serta hanya akan menguntungkan segelintir elit pengusaha dan pemerintah, namun menghancurkan masa depan industri nasional.

Perjanjian ekstradiksi Indonesia-Singapura [dalam bidang keamanan (latihan kemiliteran) dan politik (isu anti korupsi)] adalah ladang dominasi selanjutnya. Diketahui, ternyata lokasi kerjasama pertahanan meliputi ladang-ladang gas, seperti blok Natuna D Alfa, yang merupakan blok penghasil gas bumi terbesar di Asia Pasifik, yang mencapai 46,3 triliun kaki kubik (Trillion Cubic Feed/TCF). Rencana eksploitasi gas bahkan sudah dimulai dengan pengajuan proposal oleh Conocophilips, Premier Oil dan Exxon Mobile (perusahaan pemasok gas utama ke Singapura) untuk membangun pipa-pipa gas bawah laut.[15]

Bau imperium yang busuk tersebut semakin tercium melalui sikap mereka yang tidak konsisten terhadap demokrasi di Burma. Pemain-pemain baru, seperti India dan Cina, lepas tangan terhadap kejahatan junta. India menyatakan: bahwa hubungan dekat ke Timur melalui go east policy (kebijakan mengarah ke Timur) harus diperkuat lewat perdagangan, lalu lintas perbatasan darat, jaringan telekomunikasi, dan pembangkit tenaga listrik. Sementara, Cina, memiliki kepentingan terhadap akses ke gerbang yang menuju Samudra Hindia, yang menjadi lalu lintas perdagangan Cina. Tak ketinggalan Rusia, yang demi Atom Story Export (pusat riset nuklir Rusia)-nya; Zarubezhneft (perusahaan dagang enerji Rusia); Itera (penghasil gas); dan Silver Wave Sputnik Petroleum, yang sudah mengeksplorasi minyak lepas pantai bersama Petro China, berani tampil bodoh dengan tidak membela demokrasi di Burma.

Namun, apakah kemudian Barat, yang diwakili oleh imperium AS, bersih dalam kasus tersebut? Tidak kah AS hanya sedang berusaha mencuci tangan, dan sedang memainkan peran bodoh dengan berlagak mendukung demokratisasi di Burma, namun melanggar demokrasi di Irak dan Venezuela? Menurut ulasan Ramzy Baroud, yang dikutip Kompas, 10 Oktober, 2007, dukungan AS terhadap Aung San Su Kyi hanyalah sekadar memelihara pijakannya di Burma jika suatu saat terjadi ketegangan dengan Cina (baca: jika suatu saat terjadi pergantian rejim/penjatuhan junta). Lebih lanjut Harian New Jersey Jewish Standard, seperti di kutip Kompas, mengatakan bahwa sulit bagi AS mengorbankan kepentingannya karena ada bisnis minyak AS di Burma. Harvard Bussiness Review menegaskannya, bahwa dukungan terhadap junta memang harus dilakukan demi cadangan gas Burma yang dikontrol rejim, yang selama ini sudah bermitra dengan raksasa minyak AS (Chevron) dan raksasa minyak Prancis (Total). Bahkan Menlu AS, Condolezza Rice, diketahui termasuk pejabat AS yang memiliki jabatan di Chevron. Sehingga tidak heran jika PBB, melalui petugas khususnya, Gambari, hanya melakukan serangkaian pertemuan tertutup dengan Junta dan seruan moral agar Junta menghentikan kekerasan. Tak ada pasukan ‘perdamaian’ PBB ke sana; tak ada embargo; apalagi misi ‘perang melawan teror’ hingga ‘pergantian rejim secara demokratik’ ala AS, seperti yang dilakukannya terhadap Irak, Afganistan, dan percobaan-percobaannya terhadap Iran, Kuba, Bolivia serta Venezuela.

3. Krisis Politik

Selain ditentukan oleh perlawanan terhadap penjajahan neoliberalisme, konfigurasi politik dunia masih ditentukan oleh dampak peristiwa 9/11, 2001. Peristiwa 9/11 adalah gerbang bagi perubahan peta politik dunia saat ini: pintu dari suatu bencana perang melawan terorisme yang tak berkesudahan; awal sebuah krisis politik yang tak mereda dan terus menajam. Hasilnya malah mengejutkan AS sendiri sebagai pencetus perang dan otak neoliberalisme: dia lah yang justru mulai didaulat sebagai musuh bersama. Paling tidak oleh negeri-negeri Dunia Ketiga yang menjadi korban keganasan perang terhadap terorisme, serta korban kejahatan kebijakan neoliberalisme. Sebagian negeri di Timur Tengah mewakili yang pertama, dan sebagian lainnya di Amerika Latin mewakili yang kedua.

Di AS sendiri sudah menyebar sentimen bahwa AS sudah kalah di Irak, dan mayoritas rakyat AS sekarang percaya bahwa kemenangan, dalam pengertian yang masuk akal, semakin mustahil. Serangan terhadap pasukan pendudukan masih mendekati rekor tertinggi; selain penahanan terhadap rakyat Irak, yang meningkat sebesar 50% sejak penyerbuan dimulai. Washington Post sendiri mempertimbangkan bahwa pengalaman pasukan AS ditembaki oleh rakyat Irak di Kadhimiyah, dekat Baghdad, memberi kesan kegagalan Irakisasi. Surat kabar tersebut melaporkan bahwa pasukan AS meminta pertolongan/dukungan dari pasukan Irak, namun tak satupun dari mereka merespon, padahal terdapat 2.700 pasukan Irak di tempat tersebut. Salah seorang prajurit Irak mengatakan bahwa, di Kadhimiyah, tentara Moqtada al Sadr’s, Tentara Mahdi “sekarang mengontrol Tentara dan Polisi Irak. Tidak ada yang dapat mengeksekusi perintah langsung untuk melakukan serangan dalam rangka menangkap mereka.”

Sesuai laporan dari kantor akuntabilitas pemerintah AS, pandangan Washington bahwa pembangunan suatu pemerintahan boneka AS di Irak sudah cukup kredibel, ternyata untuk berfungsi sangat minimal saja sejauh ini sudah menunjukkan tanda-tanda kegagalan. Parlemen Irak tak kunjung mampu meloloskan perundangan penting yang telah lama disokong/diharapkan oleh AS: undang-undang perminyakan, yang secara formal akan membuka pintu bagi korporasi Barat untuk mulai pindah ke Irak. Sudah mulai terbuka pula wacana penyingkiran pemerintahan Irak saat ini (dibawah Perdana Menteri boneka AS, Malik al Maliki). Rencana penyingkiran tersebut merupakan suatu kemunduran politik yang sangat serius bagi Gedung Putih, serta akan menjadi penilaian yang buruk terhadap elit AS. Rencana untuk menyingkirkan kekuatan politik yang masih patuh menjalankan kehendak Washington dapat beresiko meningkatkan instabilitas.

Perlawanan terhadap pendudukan Irak di AS sendiri menjadi semacam rutinitas, walaupun gerakan perlawanan tersebut masih terjebak sektarianisme, di satu sisi, dan elektoralisme di sisi lain. Berbagai jajak pendapat menyatakan AS sudah gagal di Irak, dan menghendaki penarikan pasukan AS dari Irak sesegera mungkin. Film dokumenter terbaru Michael Moore, Sicko, memberikan pengertian baru bagi rakyat AS terhadap persoalan yang lebih mendasar dihadapi rakyat AS ketimbang mengirimkan tentara ke Irak, yakni: kemiskinan dan ketiadaan perlindungan sosial yang parah.

Krisis utang subprime (tangan kedua) mulai menghantam sektor kelas pekerja paling lemah di AS[16]--walaupun belum berbuah radikalisasi massa yang militan, namun perkembangan gerakan hak-hak imigran, termasuk kulit hitam[17], memberikan landasan untuk memupuk investasi guna memanifestasikan radikalisasi tersebut.

Instabilitas lainnya rentan terjadi di negeri-negeri sekutu AS lainnya di Timur Tengah seperti Saudi Arabia dan Mesir. Saudi Arabia sejauh ini tidak berhasil membangun mekanisme demokratik yang akan mampu mengatasi ketegangan di dalam kerajaan, khususnya menyangkut besarnya porsi kelas kapitalis di luar keluarga kerajaan, sementara kerajaan tetap mempertahankan posisi istimewanya menyangkut perekonomian. Rejim pemerintahan Mesir pasca Mubarrak, sebagai sekutu kunci berikutnya, mengalami krisis legitimasi yang parah, setelah tahun lalu menghadapi gelombang pemogokan yang cukup signifikan. Awal September lalu, Standard & Poor menekankan perhatiannya terhadap kemungkinan terjadinya transisi rejim pemerintahan di Mesir.[18]

Oleh sebab itu, AS berkepentingan meningkatkan bantuan militernya untuk sekutu-sekutunya di Timur Tengah sebesar $63 Milyar AS selama 10 tahun ke depan, yang akan dialokasikan untuk persenjataan, termasuk kepada Israel sebesar $3 Milyar AS setahun; janji bantuan sebesar $1,3 Milyar AS untuk militer Mesir; dan menjual senjata ke Arab Saudi dan monarki-monarki Teluk Persia lainnya seharga $20 Milyar AS (Economist, 2 Agustus, 2007).

Kekalahan AS dan Israel mengusir Hamas dari Jalur Gaza merupakan kelanjutan kemunduran dominasi AS sejak tahun lalu, pasca kemenangan Hamas dalam pemilu Palestina. Namun pekerjaan Hamas akan semakin diperberat oleh kekuatan rejim Abbas yang memecah belah rakyat Palestina, melalui serangkaian negosiasi damai dengan Israel (baca: pengakuan Israel sebagai negara) yang difasilitasi oleh AS, serta krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. (Untuk itu, seharusnya, selain politik bersenjata, politik mobilisasi massa haruslah diletakkan lebih ke depan untuk melawan adu domba serta meraih dukungan internasional kembali.)

Kemunduran lainnya juga tampak pada kegagalan AS dalam mengisolasi Iran lewat IAEA dan PBB. Menyusul, krisis yang melanda rejim Musharraf (boneka AS) di Pakistan. Peningkatan gerakan militan, tuntutan perubahan konstitusi, dan pemogokan pengacara adalah guncangan yang tak tanggung-tanggung bagi diktator militer tersebut.

Perlawanan yang berhasil oleh Kuba, Venezuela dan Bolivia, diikuti setapak demi setapak oleh negeri-negeri Amerika Latin lainnya, khususnya Nikaragua dan Ekuador (dalam kadar yang berbeda dengan tiga negeri pertama), telah memberi dampak yang tidak kecil terhadap penurunan dominasi ekonomi dan politik AS di dunia. Walk-outnya delegasi Kuba pada pidato Bush dalam sidang tahunan PBB bulan Agustus lalu adalah bentuk rangkaian protes pemerintah negeri-negeri tersebut, setelah setahun sebelumnya Chavez (Venezuela) serta Morales (Bolivia) dalam pidatonya membongkar kejahatan-kejahatan AS dan korporasinya di hadapan delegasi PBB.

Perkembangan menggembirakan juga akan menggemparkan industri film, khususnya Hollywood, dengan masuknya kampanye budaya anti-imperialisme AS, melalui sineas AS sendiri: Kevin Spacey dan Danny Glover. Venezuela tahun lalu sudah mengumumkan akan memberikan bantuan jutaan dollar AS bagi kampanye kebudayaan anti imperialisme (seperti produksi buku bacaan, teater dan film). Baru-baru ini pemerintah Venezuela memberikan dana yang cukup besar bagi pembangunan industri film Venezuela untuk memulai kampanye tersebut. Kevin Spacey dilibatkan dalam proyek tersebut, termasuk untuk memfilmkan sejarah perjuangan anti kolonialisme Simon Bolivar, yang membebaskan Amerika Latin. Venezuela juga mendanai proyek film sejarah perjuangan pembebasan budak di Haiti, yang akan dikerjakan oleh Glover.

Proses yang semakin radikal di Venezuela meningkatkan pengaruh ke level internasional. Terdapat tiga aspek pengaruh yang dapat disimpulkan disini: satu, dorongan integrasi Amerika Latin yang dipimpin Venezuela semakin meningkat dan nyata; dua, pembangunan blok anti imperialis internasional dan solidaritas internasional yang dipasokkan Venezuela pada negeri-negeri tertindas; dan tiga, peran Hugo Chavez serta revolusi yang, secara politik, memberikan inspirasi bagi rakyat di dunia untuk bersikap terhadap imperialisme dan neoliberalisme.

ALBA (alternatif Bolivarian untuk Amerika Latin) adalah langkah kongkrit integrasi, yang disebut pada point pertama di atas. ALBA tak lagi sekadar hanya suatu gagasan dan cita-cita yang baik, ia mulai berbentuk langkah-langkah kongkrit setelah bergabungnya Bolivia, menyusul Nikaragua dan Ekuador—bahkan Iran mulai menjadi peninjau. Menurut Kantor Informasi Venezuela di Washington, sejak ALBA ditandatangani pada bulan Desember, 2004, Venezuela telah menandatangani 15 persetujuan dengan 18 negeri-negeri di Amerika Latin dan Karibia. Kuba dan Venezuela sedang mengeksplorasi pembangunan industri agrikultur yang bertujuan untuk melindungi ketahanan pangan.

Pada pertemuan tingkat tinggi ALBA ke-5 di Caracas April lalu, didiskusikan mengenai pembentukan 12 “perusahaan raksasa-nasional” yang akan “dikelola oleh negeri-negeri anggota ALBA, yang aktivitasnya akan berfokus pada penguatan sektor-sektor kunci perekonomian nasional”, termasuk “pertanian, infrastruktur, telekomunikasi, pemasok (supply) industri, dan produksi semen”. Suatu perusahaan enerji akan melingkupi “produksi, pengolahan (refining), penyimpanan, transportasi, dan distribusi minyak serta gas, termasuk pembangunan enerji alternatif di seluruh kawasan tersebut”.

Inisiatif ALBA lainnya termasuk pembentukan bank untuk mendanai proyek “suatu rantai pasar ALBA termasuk barang-barang dari negeri-negeri anggota” dan “program pelatihan bagi masa depan pekerja-pekerja sosial”. Suatu badan ALBA untuk pergerakan sosial bahkan sudah dibentuk. Sebelum pertemuan Presiden-Presiden Dewan ALBA selanjutnya, direncanakan untuk menggelar suatu pertemuan akbar gerakan sosial untuk mendiskusikan perjuangan melawan neoliberalisme di benua tersebut. Meski sudah memperlihatkan langkah-langkah kongkrit, alternatif terhadap ‘perdagangan bebas’ tersebut masih dalam tahap embrional (cikal bakal) nya. Pertumbuhannya masih kecil dan hanya mewakili sedikit ruang lingkup perdagangan Venezuela.

Pada bulan Agustus lalu, diselenggarakan pertemuan tingkat tinggi Petro Caribe, yakni sebuah contoh yang baik tentang bagaimana model integrasi ekonomi yang dipromosikan Venezuela bekerja secara nyata melawan imperialisme dan demi meningkatkan pembangunan. Sejak dibentuk tahun pada tahun 2004, 14 negeri-negeri Karibia telah menandatangani persetujuan yang memberikan kepada mereka akses terhadap minyak Venezuela dalam bentuk-bentuk yang saling menguntungkan, termasuk membiayai pembeliannya melalui kredit bunga rendah jangka panjang dan membayarnya (secara barter) dengan barang-barang dan pelayanan. Venezuela menyediakan minyak untuk mengembangkan perusahaan minyak milik negeri-negeri Karibia, dan tidak mengikutsertakan pemain korporasi multinasional dalam berbagai kesepakatan.

Proyek solidaritas internasional, yang juga sedang didorong semakin kongkrit oleh Venezuela adalah Bancosur, bank rakyat selatan. Bank tersebut sejak awal pembentukannya, tahun 2004, sudah diproyeksikan untuk mengganti peran IMF—yang merampok negeri-negeri miskin lewat kebijakan neoliberalnya sebagai syarat utang. Bank tersebut akan mendanai berbagai proyek publik untuk kemajuan tenaga produktif negeri-negeri lain (Amerika Latin menjadi proyek percontohannya). Pada tanggal 12 Oktober, 2007, pertemuan di Rio De Jeneiro dihadiri oleh Venezuela, Argentina, Bolivia, Brazil, Ekuador, Paraguay, dan Uruguay, untuk merumuskan dasar-dasar pendirian bank tersebut. Rencananya bank tersebut akan dideklarasikan pada awal November mendatang.

Memang terdapat kontradiksi di antara pemerintah-pemerintah pendirinya, seperti pendapat Eric Toussaint, Presiden Komite Penghapusan Utang Luar Negeri Dunia Ketiga, yang mengatakan bahwa rancangan (draft) statuta yang dipresentasikan oleh Argentina dan Venezuela mengandung banyak elemen-elemen neoliberal, dan berspekulasi bahwa rancangan tersebut ‘ditentukan’ oleh Argentina dan, secara personal, tidak mungkin disetujui oleh Chavez.

Brazil dan Argentina adalah dua di antara yang memanfaatkan kelemahan imperialisme AS, serta hubungan yang menguntungkan antar berbagai kekuatan, untuk bermanuver mendapatkan kesepakatan yang lebih baik bagi kelas kapitalis lokal mereka dalam hubungannya dengan imperialisme (seperti Argentina yang memutus ikatan dengan IMF dan melawan FTAA); sementara itu, pemerintahan-pemerintahan yang berbasiskan gerakan popular tak hanya mencari kesepakatan yang lebih baik saja, namun lebih pada tujuan untuk membebasakan diri dari imperialisme, menghendaki revolusi berbasiskan mobilisasi rakyat tertindas untuk mengambil alih kekuasaan, seperti Kuba, Venezuela, Bolivia, dan sangat mungkin Ekuador.

Baru-baru ini, Venezuela menyodorkan gagasan untuk memperluas sebagian proyek persatuan Amerika Latin-nya dengan Afrika. Pada bulan Juli diselenggarakan suatu pertemuan persiapan pertama bagi para koordinator pertemuan tingkat tinggi Amerika Selatan-Afrika yang ke-2. Pertemuan tersebut rencananya akan diselenggarakan di Venezuela, November, 2008.

Sementara Bolivia, sebagai sekutu utama Venezuela, sedang menghadapi fase yang sangat berbahaya. Proses perubahan konstitusi masih mandeg akibat manuver dan berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh sayap kanan. Terjadi serangkaian mobilisasi kekerasan oleh sayap kanan; di sisi lain sektor-sektor sosial utama yang mendukung Morales dan pergerakan kaum pribumi, yang tak berhenti membantu, memulai melakukan kontra-mobilisasi terhadap sayap kanan; konferensi nasional kaum pribumi Bolivia baru-baru ini adalah salah satu bentuk konsolidasi untuk menggelar kontra-mobilisasi tersebut.

Venezuela sendiri saat ini sedang menghadapi tiga persoalan besar dalam revolusinya: pertama, pembangunan instrumen politik bagi penuntasan revolusi (pesoalan Partai Persatuan Sosialis Venezuela-PSUV, yang akan dijadian alat tumpuan revolusi); kedua, perjuangan untuk reformasi konstitusional, yang akan melapangkan jalan bagi sosialisme; ketiga, perjuangan untuk membangun kekuatan rakyat. Perdebatan seputar pembentukan PSUV dan reformasi konstitusional mulai membuka kontradiksi di dalam kubu Chavista sendiri.

Sekarang kita akan tinjau perlawanan terhadap neoliberalisme di negeri-negeri kapitalis maju, dengan mengambil contoh Prancis. Mengapa Prancis? Karena sejarah liberalisme politik dimulai di Prancis lewat Revousi Prancis; negeri kapitalis maju ini tak pernah sepi dari perlawanan; dengan posisi kelas pekerja yang kuat (meski dalam beberapa hal masih terkooptasi oleh aristokrasi serikat buruh dan politik reformis ala sosial liberal/keynesianisme); dan politisasi kaum imigran yang cukup cepat.

Dalam film dokumenter Sicko, Moore memperlihatkan bahwa bertahannya—walaupun untuk meningkat di masa yang akan datang masih sangat sulit—jaminan sosial dan pelayanan publik (seperti mendapatkan pelayanan kesehatan gratis yang berkualitas di Prancis) amat sangat ditentukan oleh mobilisasi rakyat dalam mempertahankannya. “Tanpa demonstrasi, rakyat Prancis tak mungkin mendapatkan pelayanan kesehatan gratis semacam itu hingga pelayanan-pelayanan sosial lainnya, yang harus terus difasilitasi negara,[19]” demikian peryataan salah seorang responden Moore dalam film tersebut.

Baru-baru ini, setelah setahun sebelumnya terjadi rangkaian pemogokan massal yang menghidupkan jalan-jalan berbagai kota untuk menolak UU wajib kerja, Prancis kembali diguncang pemogokan buruh transportasi, khususnya kereta api, yang menolak perpanjangan usia pensiun yang ditetapkan oleh pemerintahan baru pimpinan Sarkozy.

Perlawanan terhadap setiap jenis penurunan perlindungan sosial (wujud degradasi Keynesianisme), yang selama ini diterima rakyat, paling gencar terjadi di negeri tersebut. Rencana perpanjangan usia pensiun adalah bentuk kegagalan pemerintah Sarkozy meluaskan lapangan pekerjaan (semakin sedikit orang yang bekerja), sehingga semakin banyak pekerja calon pensiunan yang harus ditanggung oleh pajak—diambil dari pemotongan pendapatan untuk jaminan hari tua. Itulah bukti paling kongkrit kegagalan Keynesianisme mempertahankan derajat kesejahteraan rakyat tanpa menghisap tenaga kerja rakyat dan melucuti hak-hak yang sebelumnya sempat diterimanya.

Sementara itu di Asia, pergerakan juga tidak berhenti, walaupun secara umum perkembangan politiknya masih lambat, dan gerakan kiri tidak cukup berkembang. Thailand, pasca mobilisasi besar rakyat menurunkan Thaksin, kini dihadapkan pada tantangan politik menuntut demokratisasi dari tangan tentara. Upaya-upaya rejim militer menggunakan kekuatan senjata untuk memobilisasi rakyat ke TPS—untuk memilih konstitusi baru—adalah arena perjuangan berikutnya yang cukup sulit di tengah fragmentasi kekuatan gerakan pasca tergulingnya Thaksin.

Di Nepal, perjuangan rakyat terus berkembang dengan meningkatnya tuntutan yang kini dimenangkan dalam kekuasaan. Konstitusi baru yang memangkas habis kekuasaan monarki adalah lapangan perjuangan yang kini dikonsentrasikan oleh CPN-Maois. Penyerahan sebagian senjata adalah salah satu upaya kompromi yang dilakukan di dalam front untuk memenangkan syarat penghapusan monarki tersebut. Ketika proses tersebut berjalan lambat, CPN-M kembali memobilisasi perang rakyat di beberapa tempat, hingga mengancam untuk keluar dari parlemen (CPN-M termasuk mayoritas di parlemen) apabila konstitusi yang memasukkan pasal penghapusan monarki tidak dimenangkan.

Krisis legitimasi terhadap pemerintahan Arroyo, di Filipina, terus berlanjut. Dipicu oleh kasus kecurangan suara dalam pemilu, yang sepanjang tahun lalu memanen mobilisasi besar, krisis politik kini membuka kasus korupsi dan penyuapan yang dilakukan Arroyo. Walau politisasi mobilisasi belum mampu menjatuhkan Arroyo, namun front persatuan Laban Ng Masa hingga saat ini masih bertahan—belum cukup informasi sejauh mana ia berkembang.

Di dalam salah satu workshop, pada acara Latin America Asia Pasific Internasional Solidarity Confrence (LAAPISC) di Sidney baru-baru ini, Ric Rayes, seorang aktivis dari Laban Ng Masa, dalam merespon pertanyaan menyangkut bagaimana sikap kaum kiri Filipina menanggapi kekecewaan terhadap pemerintahan kapitalis, menyatakan bahwa: kaum muda Filipina terlalu memberikan peluang bagi para politisi korup. Mereka melakukan banyak kesepakatan dan aliansi dengan siapapun, dan kadang kaum kiri melakukan kesalahan serupa. Situasi tersebut hanya dapat diatasi dengan berkonsentrasi dan berupaya maksimal untuk tampil bersih. Menolak segala yang berhubungan dengan politik tradisional—politik uang, dan lain sebagainya. Terdapat kecenderungan bahwa taktik-taktik kaum kiri serupa dengan politik tradisional. Situasi tersebut tampaknya serupa pula dengan yang sedang dialami oleh para aktivis di Indonesia.

4. Perkembangan Politik Alternatif

Seluruh situasi ekonomi politik dunia saat ini memberikan basis bagi politik alternatif. Karena itu membutuhkan kesimpulan situasi objektif dan strategi-taktik yang tepat di dalam negeri masing-masing.

Secara umum, kecenderungan dan spektrum politik alternatif tidak begitu banyak berbeda. Namun beberapa perkembangan pentingnya, yang terkait dengan strategi-taktik perjuangan di dalam negeri, yang meliputi isu-isu seperti politik front persatuan; pembangunan partai dan gerakan; sikap terhadap pemilu; dan pemerintahan koalisi kiri-tengah, akan diangkat secara ringkas disini (selain akan dibedah secara khusus pada kesempatan lain).

Persoalan besar yang sedang dihadapi oleh partai kiri revolusioner, di tengah peluang politik alternatif yang terbuka saat ini, hampir sama di manapun di dunia: bagaimana membangun partai dan membesarkan gerakan untuk merebut kekuasaan. Persoalan tersebut kemudian membawa pada perdebatan yang mendalam seputar strategi-taktik politik dan organisasi seperti apa yang tepat digunakan untuk merespon situasi tersebut. Perpecahan yang sedang terjadi di dalam PRD dan PAPERNAS sekarang merupakan cermin dari respon terhadap situasi tersebut, yang cepat atau lambat, dengan berbagai stimulus, pasti akan terjadi. Namun mayoritas di dalam partai ternyata lebih berani bodoh untuk menstimulus pembelahan PRD dengan sangat kasar dan anti demokrasi, demi mengamankan metode politik oportunis mereka.

Broad left party (partai kiri-luas-BLP), adalah taktik pembangunan partai yang belakangan ini ramai menjadi bahan diskusi, perdebatan, dan analisa oleh partai-partai serta kelompok-kelompok kiri, utamanya di Eropa dan yang berafiliasi dengan internasionale ke-4 (Fourth Internasional-FI). Diluar FI, Democratic Socialist Perspective-Australia (DSP-Australia), sejak 3 tahun belakangan ini menghadapi perdebatan serupa. BLP menekankan taktik pembangunan partai melalui pembentukan partai persatuan kiri-luas yang baru, berbasiskan penyatuan organisasi-organisasi/partai-partai anti liberalisme atau kapitalisme yang hijau, demokratik, hingga revolusioner, termasuk aktivis-aktivis individual yang non afiliasi, dengan paltform perjuangan yang lebih rendah/transisional (sesuai kadar penerimaan anggota-anggota front). Politik semacam itu, di Eropa, diuji melalui intervensi peluang-peluang elektoral (sebagai partai politik persatuan).

BLP sendiri merupakan produk dari situasi objektif yang, secara umum, menurut Francois Sabado—pimpinan Liga Komunis Revolusioner Prancis-LCR dan FI—adalah respon terhadap serangan neoliberalisme di Eropa, yang semakin brutal; tensi sosial dan politik yang meningkat akibat brutalitas tersebut; yang berkonsekwensi terhadap munculnya krisis politik perwakilan—terlihat dari tingginya angka golput; atau ditandai dengan meningkatnya kekecewaan terhadap partai-partai politik tradisional dan reformis, utamanya Partai Buruh.

Partai sosialis Skotlandia (SSP), RESPECT-Inggris (sebelumnya Socialist Alliance), Left Bloc-Portugal, Die Linke-PDS-Jerman, adalah sebagian contoh partai persatuan kiri[20] yang melakukan strategi-taktik politik semacam itu, dengan tipe yang berbeda-beda satu sama lainnya.

Terhadap taktik BLP ini, François Vercammen, anggota biro eksekutif FI, pada bulan Desember, 2004, berpendapat dalam International Viewpoint: “

... di sisi lain, hubungan partai politik/gerakan sosial dipengaruhi oleh kekuatan ‘pergerakan’, mobilisasi, dan potensi politiknya—walau sangat tidak sama antara satu negeri ke negeri lainnya di Eropa. Salah satu aspek dari hal tersebut, dan bukan satu-satunya, adalah memenangkan kembali ruang politik oleh generasi baru. Namun, ruang tersebut cenderung merendahkan partai politik hanya pada fungsinya yang paling dasar: menawarkan deretan calon dalam pemilu. Aktivis-aktivis ‘gerakan’ menganggap dirinya sebagai suatu ‘entitas politik’ (subyek politik) yang belum siap untuk mendelegasikan suara dan pendapat mereka dalam rangka mendirikan partai politik. Demikian pula ‘partai revolusioner’, atau paling tidak lingkaran dari partai semacam itu, yang sering kali sangat kecil dan sektarian. Untuk membangun suatu ‘partai’ anti kapitalis yang pluralis, yang dapat bergerak mengatasi situasi ‘subjektif’ yang baru ini, membutuhkan sebuah pendekatan yang baru pula.

Pengalaman PRC (Party Refoundation Communista-Italy) sangatlah menarik: sebuah partai yang memposisikan dirinya setara dengan gerakan sosial, tanpa mencari-cari hegemoni atau memanipulasinya. Aktivitasnya dalam Europe Sosial Forum, dan dalam demonstrasi satu juta massa, adalah salah satu contohnya.

Beberapa pengalaman pembangunan BLP menghendaki pemindahan konsentrasi kekuatan dan sumber daya partai kiri-revolusioner kepada tujuan membangun partai persatuan kiri-luas yang baru. Konsentrasi dikehendaki karena partai persatuan kiri yang luas itulah yang rencananya akan dibangun sejak sekarang. Soal konsentrasi itulah yang dua tahun lalu memunculkan faksi LPF (faksi partai Leninis) di dalam DSP, yang tidak setuju partai dikonsentrasikan pada pembangunan Socialist Alliance (SA). Ketidaksetujuan tersebut utamanya disebabkan karena tidak terdapat situasi objektif yang mendukung untuk menerapkan taktik partai persatuan ala SA saat ini (baca: SA tidak mencerminkan partai persatuan, hanya DSP yang berganti nama). Terakhir, LPF mulai menegaskan bahwa melanjutkan politik tersebut (dengan SA sebagai alat utamanya) sesungguhnya bermakna melikuidasi partai revolusioner (DSP).

FI sendiri sepertinya belum memiliki pakem tertentu terhadap taktik tersebut, kecuali bahwa pembangunan BLP adalah kebutuhan mendesak. Perdebatan masih terbuka apakah BLP mutlak dilakukan dalam berbagai situasi, atau disesuaikan dengan situasi masing-masing negeri, atau hanya sekedar wacana untuk memperkaya taktik perjuangan. Masih terdapat perbedaan dalam memandang model BLP yang harus dibangun, apakah diperlakukan sebagai partai elektoral semata? Atau diproyeksikan sebagai partai massa revolusioner yang harus dibangun sejak sekarang? Atau hanya aliansi untuk berkampanye? Termasuk di dalamnya perdebatan mengenai siapa yang harus membangunnya. Apakah kelompok yang anti kapitalis semata? Atau yang anti neoliberalisme namun belum/tidak anti kapitalisme?

Yang pasti, liga komunis revolusioner (LCR) Prancis menerapkan taktik tersebut dalam konteks yang berbeda. Dalam pemilu Prancis beberapa waktu lalu, LCR tidak beraliansi/berafiliasi dengan partai politik manapun, termasuk tidak mendukung calon Presiden satu-satunya dari ‘kubu kiri-partai sosialis’ (Segolene Royale—yang anti liberalisme ekonomi tapi tidak anti kapitalisme), yang lolos pada putaran pemilu kedua. Hasilnya, suara untuk capres LCR, Olivier Besancenot, malah meningkat hingga 4% dibandingkan pemilu sebelumnya. Baru-baru ini LCR mengeluarkan resolusi yang mengajak seluruh elemen anti kapitalis—tak termasuk partai sosialis dan partai komunis Prancis, karena keduanya tidak anti kapitalis—untuk bersatu dalam proyek pembangunan sebuah partai anti kapitalis baru dengan platform menjatuhkan pemerintahan Sarkozy.[21]

Taktik tersebut mungkin bersesuaian dengan pendapat Sabado, yakni: poros dari partai kiri baru tersebut kemungkinan adalah di luar dari organisasi-organisasi tradisional. Basis sosial dan politiknya akan mengandalkan pada generasi-generasi, pengalaman perjuangan, dan gerakan sosial baru. Ia akan menarik benang merah dari sejarah revolusionernya untuk menggambarkan kebijakan revolusioner di abad 21. Namun partai baru ini tidak akan terbentuk oleh dekrit. Ia harus merupakan hasil dari keseluruhan proses dari pengalaman politik yang ditandai oleh berbagai peristiwa atau penyatuan kekuatan-kekuatan yang signifikan yang menjadi landasan bagi reorganisasi gerakan kelas pekerja dan sebuah partai baru.

Ia melanjutkan, bahwa signifikansi suatu partai politik yang baru adalah membangun sebuah strategi mediasi antara organisasi revolusioner yang ada saat ini dan pembangunan suatu partai massa revolusioner, yang tak terpisahkan dengan kemenangan kekuasaan revolusioner oleh kelas pekerja. Jika syarat-syarat untuk terjadinya suatu transformasi dari organisasi revolusioner tidak tersedia; jika bentuk kekuatan baru itu tidak lebih signifikan dari organisasi revolusionernya; dan kita tetap mempercepat irama serta modalitas pembangunan partai semacam itu, maka kita sudah kehilangan substansi—program, sejarah dan pengalaman revolusioner—tanpa mendapatkan perbesaran politik dan organisasi.

Persoalan kemudian berkembang ketika taktik semacam itu dianggap sebagai SUATU FASE YANG HARUS DILEWATI/DILAKUKAN untuk melahirkan partai revolusioner. Setidaknya sebagian angota pimpinan mayoritas DSP, yang mengembangkan tesis itu, sudah bersetuju. Sedangkan yang minoritas (LPF) mengangap bahwa front persatuan hanyalah SALAH SATU TAKTIK perbesaran partai yang dapat dilakukan dalam beragam situasi, ia adalah salah satu saja dari seni pembesaran gerakan dan partai, yang tak akan habis-habisnya digunakan oleh partai revolusioner sebelum hingga sesudah revolusi sekalipun.

Lalu bagaimana taktik BLP ini disikapi? Siapa yang harus dilibatkan? Bagaimana seharusnya sikap terhadap pemerintahan kiri-tengah? Model BLP ala SSP berbeda dengan RESPECT, demikian halnya sikap terhadap pemerintahan kiri-tengah ala PRC-Italia dan LCR. PRC ‘mendukung dengan kritis’ (terlibat dalam) pemerintahan koalisi kiri-tengah Prodi. Sementara LCR bahkan tidak sudi mendukung calon Presiden dari Partai Sosialis yang kiri-tengah (padahal partai Sosialis begitu aktif dan terbuka mengajak berbagai kekuatan politik kiri untuk mendukungnya menjelang pemilu lalu).[22]

Terakhir model BLP ala SSP dan RESPECT mulai mengalami krisis dan kemunduran. Menurut ISM, tendensi di dalam SSP, kemunduran tersebut utamanya terletak pada penurunan (bahkan tidak adanya) program pendidikan dan kaderisasi Marxis yang terstruktur di dalam SSP. Sepertinya keseluruhan debat tersebut pada akhirnya harus dapat menyimpulkan bagaimana posisi partai pelopor Marxis-Leninis harus kita letakkan dalam beragam taktik untuk merespon perkembangan situasi objektif.

Pengalaman LPP (partai buruh Pakistan)[23] membentuk aliansi sosialis untuk merespon pemilu tahun 2007 di Pakistan, dilandasi oleh situasi ketika tidak ada satu kekuatan politikpun yang maju dalam pemilu akan mendapatkan dukungan mayoritas, kecuali jika kelompok religius fundamentalis ikut bertarung dalam pemilu. Untuk kepeningan tersebut, rejim diktator Musharraf secara de-fakto melakukan aliansi dengan partai-partai relijius fundamentalis tersebut. Sementara itu, krisis ekonomi terus berlanjut akibat resep-resep neoliberal IMF dan Bank Dunia.

Merespon situasi tersebut, LPP memandang perlu untuk menggagas persatuan kekuatan kiri untuk maju menjadi alternatif partai elektoral yang independen dalam pemilu, melawan partai-partai orang kaya dan partai-partai religius fanatik. Persatuan tersebut kemudian terbentuk, berkat inisiatif enam kekuatan politik progressif: partai pekerja nasional (NWP), yang memiliki program-program pro sosialis dan terlibat dalam beberapa aliansi anti neoliberalisme; LPP sendiri; pergerakan rakyat (AT), yang merupakan partai nasionalis radikal (dengan anggota paling banyak dibandingkan anggota aliansi lainnya); PMKP, bekas partai Maois yang masih memiliki basis tani yang cukup signifikan di beberapa tempat; MMKG yang dipimpin oleh aktivis-aktivis kiri dengan track record yang cukup bersih; dan front buruh (PMM), yang berbasis di Karachi serta banyak mengorganisir buruh.

Keenam kelompok tersebut membentuk pergerakan rakyat demokratik (AJT), yang telah mengumumkan kampanye melawan peningkatan militerisasi, cengkeraman imperialisme, dan fundamentalisme religius di Pakistan. Platformnya bahkan meliputi program-program anti imperialis, anti kapitalis, dan anti feodalisme, serta pembebasan perempuan dan kaum minoritas dari segala diskriminasi. Dalam tahap awal pembentukannya, AJT masih merupakan forum aktivitas bersama dan belum berbentuk alinsi. “Kami harus memberikan ruang bagi kelompok-kelompok yang ada untuk bekerja bersama dalam berbagai aktivitas dan melihat kemungkinannya ke depan, termasuk melibatkan lebih banyak kelompok kiri ke dalamnya. Selutuh partai di dalam AJT akan bekerja secara independen sekaligus bersama-sama sebagai AJT”, demikian menurut pimpinan LPP, Farooq Tariq.

Pengalaman Partai Sosialis Malaysia (PSM), dalam memperjuangkan legalitas partainya, harus kita tiru. Status PSM saat ini sama dengan PRD ataupun PAPERNAS—negara tidak membiarkan partai-partai ini berdiri; dan mobilisasi rakyat pendukungnya belum cukup kuat untuk mendobrak hambatan tersebut. Tapi berbeda dengan PAPERNAS, PSM mati-matian memperjuangkan partainya agar diakui secara hukum sebagai partai politik dengan berbagai upaya yang sangat militan: baik di jalan-jalan maupun di ruang-ruang pengadilan. Sempat dalam pemilu beberapa waktu lalu PSM melakukan aliansi taktis dengan PKR (Partai Kedaulatan Rakyat-Anwar Ibrahim), dengan di dasarkan pada pertimbangan bahwa PKR adalah partai oposisi pemerintah. Namun aliansi tersebut tidak selangkahpun menyurutkan PSM dari upayanya memperjuangkan pendirian dan legalitas partainya sendiri sebagai satu-satunya alternatif bagi masa depan rakyat Malaysia.

Guna merespon oportunisme kaum mayoritas PRD—yang menganggap bahwa bergabung dengan PBR membuka peluang untuk merebut struktur, dan memperbaiki citra atau merubah PBR menjadi partai ‘progressif’ (ada-ada saja J), atau bahkan merubah Indonesia menjadi mandiri melalui PBR di parlemen—ada baiknya kita berangkat ke Afrika Selatan, untuk memeriksa apa yang terjadi dengan partai komunis Afrika Selatan (SACP) dan serikat buruh Afrika Selatan (COSATU), yang menerapkan taktik “merubah dari dalam” ketika beraliansi—bahkan bukan melebur/merger seperti rencana PAPERNAS merger kepada PBR)—dengan Kongres Nasional Afrika (ANC) untuk membentuk pemerintahan bersama.

Dale Y McKinley[24] mengulas keputusan rapat kerja ANC dan kongres ke-12 SACP bulan Juni, 2007.

“… selama 15 tahun, SACP dan Cosatu telah menipu: dengan berkutat pada strategi dan pilihan politik yang sama. Pilihan pertama adalah menjadi partner junior dalam sebuah aliansi yang tak akan pernah mereka kuasai/kontrol (namun boleh jadi bisa menempati posisi-posisi kunci); melakukan politik ‘dukungan kritis’ terhadap (dan menuntut) implementasi kebijakan-kebijakan yang lebih pro rakyat miskin/pro intervensi negara; terlibat dalam kampanye-kampanye momentual yang ditujukan untuk memperlihatkan bahwa kelas pekerja masih merupakan kekuatan yang dapat diandalkan; sementara, secara bersamaan, terus menjadi bagian dalam mesin elektoral ANC dan berpartisipasi dalam pemerintahan (yang dijalankan oleh ANC melalui berbagai mekanisme kelembagaannya).

Pilihan kedua: kembali ke landasan politik pengorganisasian dan mobilisasi kaum miskin serta kelas pekerja (yang harus secara nyata berbentuk aliansi praktis bersama organisasi-organisasi komunitas dan gerakan sosial) berdasarkan pada program tuntutan radikal untuk meredistribusi kepemilikan dan kekayaan, yang akan menjadi sebuah basis organisasional dan politik, baik untuk merubah kebijakan pemerintah/ANC—bukan melalui politiking/bargain ‘orang dalam’, namun melalui mobilisasi massa dan perjuangan kelas—maupun membangun kembali kekuatan basis organisasional dan politik kiri yang sejati, untuk mengubah hubungan kekuasaan di dalam masyarakat Afrika Selatan (sesuatu yang tak semata-mata bergantung pada pemilu, dan maju sebagai kekuatan elektoral yang terpisah dari ANC).

…Namun persoalannya adalah… pilihan kedua tak pernah sungguh-sungguh masuk dalam agenda. Sehingga hasilnya, mereka terus bermain dalam permainan politik aliansi.

…Hasil yang sangat disayangkan, namun sudah dapat diramalkan: kerja-kerja politik praktis SACP dan Cosatu, selama beberapa tahun belakangan ini, telah terikat langsung dengan apa yang sedang terjadi di dalam aliansi ANC, suatu hubungan proporsional dalam rangka mengintensifkan perjuangan untuk posisi dan kekuasaan personal. Hal tersebut merupakan wujud logis dari suatu pendekatan/politik semacam itu, dan dengan efektif telah membuat loyo kemampuan SACP/Cosatu dalam mengorganisir dan memobilisir sektor kaum miskin dan kelas pekerja dalam praktek (politik) yang sejati, padahal program dan kritikan mereka sebenarnya diuji dalam perjuangan nyata yang terjadi di lapangan pertarungan demokratik untuk mendirikan kekuasaan rakyat.

…Di dalam ketiadaan pilihan lain yang dapat dipertimbangkan, apa yang terus menerus kita saksikan adalah pengulangan mantra yang sama—bahwa kaum kiri di dalam aliansi harus ‘mengelola/mengatur/mengotak-atik’ hubungannya dengan ANC, dan sekarang justru semakin erat mengelola implementasi dari ‘agenda-agenda pembangunan’ (pemerintahan ANC). Sekretaris Jenderal Cosatu, Zwlenzima Vavi, sekali lagi menegaskan hal tersebut dengan pernyataannya dalam kongres SACP: bahwa persoalan sebenarnya adalah “aliansi tersebut tidak mendorong transformasi secara bersama-sama, yang menghasilkan pembedaan loyalitas”. Kemudian Vavi mengatakan bahwa Cosatu “telah menyerukan restrukturisasi aliansi sehingga tidak ada satupun komponen atau individu di dalam aliansi yang lebih menentukan strategi dan pengaturan”. Seakan-akan jika sesuatu dinyatakan dengan berulang-ulang maka orang (dalam hal ini para peserta kongres SACP/Cosatu) akan percaya. Apakah Vavi atau yang lainnya… percaya bahwa ‘restrukturisasi’ aliansi (berapa kali strukturisasi tersebut bisa dilakukan?) akan membuat anggota/pengambil keputusan SACP/Cosatu menjadi lebih setara dengan ANC?

…Apa yang tanpa sengaja terbongkar di dalam kongres SACP adalah, bahwa, ternyata, sangat sedikit upaya yang sudah dilakukan oleh mereka untuk merespon suara-suara rakyat. Sehingga syah lah pertanyaan: kemana saja SACP dan Cosatu selama ini, ketika ratusan protes warga/komunitas melancarkan tuntutan seputar pelayanan-pelayanan pokok; represi/penghancuran yang dilakukan negara terhadap aktivis-aktivis/komunitas tersebut?; dan terjadinya upaya untuk mempengaruhi mekanisme penyampaian suara dan politik pada pemerintahan lokal yang, sebenarnya, akan dibuat lebih partisipatif oleh rakyat?

…Sangat disayangkan, karena jawabannya adalah: mereka tidak ada disana. Tekanan dalam kongres hanya terkait dengan mobilisasi dan dukungan perjuangan komunitas serta gerakan sosial ini… tak lebih dari sekadar ‘angin panas’, akibat berlanjutnya politik pemasungan aliansi kiri (untuk alasan-alasan yang sudah dikemukakan di atas).

…Ini merupakan alasan utama mengapa SACP/Cosatu menganggap gerakan sosial menjadi ‘masalah’ (bukan meletakkannya sebagai sekutu kiri untuk membangun pergerakan politik—yang bisa dilaksanakan di lapangan dan yang merakyat/membasis—dalam rangka perlawanan langsung terhadap kapitalisme pemerintah/ANC). Walaupun bagi mereka tidak menjadi ‘masalah’ menghujat pimpinan-pimpinan tertentu ANC dan ‘kekuatan kelas’nya (hujatan dan kemarahan yang bahkan tak pernah dilakukan oleh gerakan sosial) namun, yang menjadi ‘masalah’, adalah ketika gerakan sosial membongkar alasan-alasan politik, ideologis, dan organisasional yang sesungguhnya dibalik meningkatnya kemarahan, dan oposisi praktis, terhadap ANC dan kebijakan yang mereka jalankan...

Semua itu memang disebabkan karena SACP dan Cosatu menolak untuk memutus ikatannya dengan ANC, sehingga mereka harus mengadopsi politik/posisi yang seluruhnya kontradiktif—begitu kontradiktifnya sehingga, dalam perjuangannya, mereka lebih cocok untuk diterima dan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan para kapitalis dan liberal, ketimbang rakyat miskin.

Baru-baru ini, mobilisasi rakyat menolak IMF, yang berbuah kerusuhan, terjadi di Afrika Selatan—terkait kebijakan neoliberal yang melambungkan harga-harga kebutuhan pokok.

Tidak ada satupun contoh empirik di dunia ini, dimana partai kiri berhasil memenangkan kekuasaan rakyat, atau paling tidak memenangkan tuntutan ekonomi rakyat jangka panjang, dengan taktik hanya ‘merubah dari dalam’. Seluruh taktik yang demikian justru memakan korban sang partai kiri itu sendiri—perpecahan, kehilangan anggota-anggota militan, terkooptasi dan berubah menjadi kanan. Pengalaman PRC-Italia adalah yang paling terkini: ketika mereka harus berhadapan dengan perpecahan, akibat kecenderungan menghentikan politik mobilisasi massa melawan kebijakan Prodi (yang ternyata tidak konsisten menarik pasukan Italia dari Irak). PRC dianggap mulai terkooptasi (terikat tangan dan kakinya) dengan tetap bertahan di dalam pemerintahan Prodi yang sudah melanggar janji utamanya. Kini elemen-elemen militan dari PRC menyerukan diadakannya suatu kongres luar biasa agar memungkinkan terjadinya perdebatan dan konfrontasi ide/gagasan yang luas dan transparan. Bahkan mereka telah menyiapkan proposal jalan keluar dari krisis yang dihadapi oleh kaum kiri, sebagai proyek alternatif “membangun kembali sosialis”.

Mereka mendukung pendekatan persatuan yang mampu membangun mobilisasi yang paling luas di atas landasan situasi objektif yang tersedia. Namun, berlandaskan pengalaman baru-baru ini—yakni mobilisasi menuntut penarikan pasukan Italia dari Irak pada tanggal 6 dan tanggal 16 Juni, 2007; termasuk serangkaian perlawanan di tingkat lokal (untuk mempertahankan pelayanan kesehatan dan lingkungan)—mereka yakin bahwa pembangunan kesepakatan untuk kerja-kerja bersama di tingkat lokal dan nasional (di seputar tujuan-tujuan spesifik dan dalam kerangka oposisi terhadap pemerintahan Prodi), harus menjadi suatu kerja prioritas saat ini.

Di Jerman, Internasional Socialist Left—satu di antara dua organisasi FI di Jerman—mendukung lingkaran-lingkaran radikal yang berada di luar partai Die Linke PDS, seperti BAS di Berlin [yang melawan WASG (Berlin) dan PDS]. Mereka tak setuju dengan strategi Die Linke berkooperasi dengan pemerintah Merkel (di daerah/negara bagian); menyerukan untuk melawan opini mayoritas pimpinan nasional; tidak berpartisipasi dalam Die Linke; dan terus berjuang melawan kebijakan kooperatif.

Mereka menyerukan pertemuan berbagai aliran dan individual yang konsisten berkesadaran anti-kapitalis “baik di dalam maupun di luar” partai baru tersebut pada tanggal 14 Oktober, 2007, di Berlin[25]. Pertemuan tersebut akan mendiskusikan posisi fusi, sekaligus tentang aktivitas bersama fusi tersebut pada tingkat kerja-kerja ekstra-parlementer, pendidikan, dan koordinasi yang ketat antara kekuatan individual di Jerman yang bersepakat terhadap penggantian sistem kapitalis dengan ekonomi yang berlandaskan solidaritas: sosialis demokratik.
Di Prancis, LCR menyatakan bahwa kemenangan elektoral tidak secara otomatis merupakan kemenangan sosial/popular. Untuk meraih kemenangan popular dibutuhkan mobilisasi dengan ukuran tertentu dan kesatuan dari seluruh kekuatan sosial dan politik kiri di negeri tersebut. Kehendak tersebut hanya mungkin terjadi bila bertumpu pada kekuatan perlawanan gerakan dalam menentang politik tradisional.

Penutup: Apa yang Harus Kita Selesaikan?

Dalam hal pekerjaan solidaritas internasional, beberapa pekerjaan yang harus kita tekankan adalah: pekerjaan pembangunan kelompok-kelompok/aliansi-aliansi/studi-studi solidaritas untuk Venezuela-Amerika Latin, dengan memprioritaskan pekerjaan pada kampus-kampus di kota/wilayah di mana kita ada. Tujuan pokoknya ada dua: (1) rekruitmen mahasiswa di kampus-kampus tersebut, dan (2) perluasan kampanye alternatif dalam melawan neoliberalisme di lingkungan kampus dan politik nasional hingga mampu menstimulus perdebatan strategi-taktik alternatif di kalangan gerakan.

Pekerjaan lainnya yang aku anggap penting adalah mendesak elemen-elemen progresif, utamanya di Malaysia, untuk melakukan kampanye pembelaan terhadap kaum buruh migran yang diperlakukan sewenang-wenang oleh pemerintahan Malaysia. Upaya tersebut bisa berbentuk komite-komite solidaritas buruh migran di negeri-negeri sasaran buruh migran.

Kemudian, sebagai salah satu elemen partai revolusioner di dunia, kita juga harus turut memperdebatkan strategi-taktik pembangunan partai yang, tentu saja, harus didasarkan pada situasi objektif dan subjektif organisasi—termasuk sejarah masyarakat dan politik kita sendiri. Bukan tak mungkin taktik BLP akan dibajak oleh sekelompok petualang oportunis partai yang bermimpi partainya akan cepat besar berdasarkan peluang-peluang elektoral semata, bahkan dengan menyatukan diri ke dalam partai borjuasi (dan berjuang di bawah bendera mereka). Usulan untuk mengubah PRD menjadi partai massa kini bertemu dengan taktik ‘pembesaran’ partai (entah partai yang mana) melalui fusi-koalisi dengan partai borjuasi dalam pemilu tahun 2009. Keinginan untuk perbesaran partai adalah positif, namun menanggalkan prinsip-prinsip strategisnya adalah sama dengan terjun ke jurang dan membunuh alternatif.

Menyikapi potensi krisis revolusioner, adalah sepenuhnya sesat pendapat (kaum mayoritas PRD-oportunis) yang menyatakan bahwa syarat-syaratnya belum ada; juga salah bila berpendapat: kalaupun potensinya ada, maka tak akan memiliki watak revolusioner. Mereka sampai-sampai buta pengetahuan sosialisme ilmiah, teori Marxisme revolusioner, mengenai potensi—sebuah potensi merupakan sesuatu yang dapat terjadi, sesuai dengan landasan-landasannya, sesuai dengan hukum-hukum ilmiahnya, bukan sesuatu yang sudah pernah terjadi atau harus terjadi pada waktu tertentu. Tentu saja, jika sesuatu telah terjadi maka terbuktilah potensi tersebut; untuk peristiwa tersebut, terbukti nyata terjadi. Namun suatu fakta yang sudah terjadi/tercapai tidak mesti menunjukkan/melambangkan potensi. Jadi, yang dianggap potensi (oleh PRD-oportunis) adalah sesuatu yang telah terjadi (yang akan dijadikan sebagai landasan strategi-taktiknya). SALAH. Itulah mengapa mereka tidak menghargai potensi gerakan perlawanan rakyat, dan mengambil jalan pintas: merger (menyubordinasikan diri) ke dalam PBR[26].

Di dalam tulisannya, Kampanye Pemilihan untuk Duma ke IV dan Tugas-tugas Kaum Sosial Demokrat Revolusioner, April, 1912, Lenin menegaskan bahwa krisis revolusioner yang sedang tumbuh itu tidak tergantung hanya pada kita; ia tergantung pada seribu satu sebab, pada revolusi di Asia dan pada sosialisme di Eropa. Akan tetapi apa yang hanya tergantung pada kita ialah melakukan pekerjaan yang gigih dan mantap di kalangan massa dalam semangat Marxisme, dan hanyalah pekerjaan semacam itu yang, kapanpun dilakukan, tak akan sia-sia.

Jauh sebelumnya, di dalam Dari mana Kita Mulai (1901), ia sudah mengatakan bahwa pembangunan sebuah organisasi perjuangan dan memimpin agitasi-politik selalu menjadi pekerjaan pokok di bawah situasi apapun, dalam segala periode, termasuk periode yang ‘membosankan dan penuh kedamaian’, tak perduli ia ditandai oleh suatu ‘penurunan semangat revolusioner’. Justru dalam periode-periode yang begitu, dan di bawah situasi-situasi seperti itulah, kerja-kerja demikian (membangun organisasi dan memimpin agitasi-politik) sangat dibutuhkan, karena akan sangat terlambat untuk membentuk organisasi di masa-masa terjadinya ledakan dan riuh rendah pergolakan, atau partai itu harus berada dalam kondisi kesiagaan untuk beraksi sewaktu-waktu.

Krisis revolusioner akan lahir dari kontradiksi di dalam ekonomi kapitalisme sendiri, namun ia tak bisa ditunggu, ia harus terus menerus didorong dan dipersiapkan kedatangannya oleh kekuatan pelopor[27]. Dan kitalah kekuatan itu: sebuah partai politik yang mampu memberikan rumah organisasional sekaligus identitas politik bagi rakyat miskin dan kelas pekerja.***

Catatan Kaki:

[1] Bacaan pelengkap: [1] Situasi Internasional hasil Konferensi Nasional Perempuan Mahardhika, Maret, 2006; [2] Situasi Internasional hasil Kongres PAPERNAS, Februari 2007.
[2] Di tahun 1970 negeri-negeri industri maju mendapatkan 68% dari pendapatan dunia; di tahun 2000 meningkat menjadi 81%, meskipun populasi negeri-negeri tersebut turun 4%. GDP (Gross Domestic Product) per kapita negeri-negeri maju, di tahun 1970, sebesar $10,473; di tahun 2005 meningkat menjadi $26,201. GDP per kapita negeri-negeri lainnya di dunia, setelah mengalami peningkatan dari $1,248, di tahun 1970, menjadi $1,690, di tahun 1980, kemudian melorot lagi menjadi $1,160 per tahun, di tahun 2000. Rasio ketimpangan, menurut IMF, dengan menjumlahkan peningkatan tersebut, di tahun 1970 adalah dari 8.4, dan menjadi 22.6, di tahun 2000. Perusahaan raksasa seperti Nestle, di tahun 2002, dapat meraih keuntungan lebih besar daripada GDP Ghana; serupa dengan Unilever, yang pada tahun 2003, untungnya lebih tinggi daripada GDP Mozambique. (Lihat data dan penjelasan lebih lanjut dalam Hasil Konferensi Nasional Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, Maret 2006.)
[3] Kompas; Kamis, 14 September, 2006.
[4] Green Left Weekly (GLW), 20 September, 2006, World Economy—Heading towards a Crash?, Dick Nichols.
[5] Semacam permainan sekuritas oleh perusahaan-perusahan raksasa, yang memiliki bisnis properti dengan cara menjual surat utang properti tersebut ke pasar saham atau perusahaan tangan kedua, seperti bank-bank (yang tak jarang dimiliki juga oleh perusahaan-perusahaan tersebut). Banyak bank-bank di Jepang dikabarkan mengalami kerugian akibat pembiayaan subprime mortgage tersebut di AS.
[6] Defisit anggaran dan perdagangan adalah bentuk-bentuk kasus ekonomi yang, biasanya, akan diintervensi oleh IMF dengan segera. Namun karena AS identik dengan IMF, maka ekonomi defisit terbesar yang dialaminya tentu saja tak akan diintervensi IMF.
[7] Tidak pernah terjadi dalam sejarah kapitalisme modern harga minyak mentah dunia melonjak melampaui $85 AS/barrel (Kompas, 16 Oktober, 2007)
[8] Opcit, Green Left Weekly (GLW), 20 September 2006.
[9] Peningkatan tertinggi penganggur muda selama dekade lalu terjadi di Asia Tenggara (85%), disusul Sub-Afrika Sahara (34%), Amerika Latin (23%), Timur Tengah (18%), dan Asia Selatan (16%). Lihat tulisan Toopay untuk pertemuan Presidium Nasional (Presnas) Papernas, yang mengutip laporan Organisasi Buruh Internasional, Global Employment Trends for Youth.
[10] Sekitar 0.13% penduduk dunia mengontrol 25% aset dunia, di tahun 2004; GDP 48 bangsa termiskin (1/4 dari negeri-negeri di dunia) lebih kecil ketimbang gabungan kekayaan tiga orang terkaya di dunia; lima orang terkaya di negeri-negeri terkaya menikmati 82% perluasan ekspor perdagangan dan 68% investasi asing langsung (foreign direct investment) — peringkat lima ke bawah hanya menikmati sedikit lebih banyak dari 1%; 50 juta orang terkaya di Eropa dan Amerika Utara berpendapatan sama denga 2,7 milyar rakyat miskin. Di bidang pertanian, menurut South Centre (2005), 85-90% perdagangan pangan dunia dikontrol 5 TNCs, 75% perdagangan sereal dikuasai 2 TNCs, 50% produksi dan perdagangan pisang dikuasi 2 TNCs, 3 TNCs menguasai 83% perdagangan coklat, 3 TNCs mengusai 85% perdangan teh, 5 TNCs menguasai 70% produksi tembakau, 7 TNCs menguasai 83% produksi dan perdagangan gula, 4 TNCs menguasai hampir 2/3 pasar pestisida, ¼ bibit (termasuk yang memiliki hak paten), dan menguasai 100% pasar global bibit transgenik. (Kompas, Opini, 16 Oktober, 2007).
[11] Gaya asli neoliberalisme (melepas tanggung jawab negara terhadap pasar/free market) malah tak pernah diterapkan oleh negeri-negeri perumusnya sendiri (AS, Inggris dan negeri Eropa lainnya). Dan, menurut PBB, negeri-negeri yang tidak menerapkan kebijakan neoliberalisme lah justru yang terbukti lebih sejahtera.
[12] Baca Materi Propaganda Papernas, 29 Maret, 2007.
[13] Menggunakan solusi ala negara kesejahteraan/Keynesianisme (menghendaki peran negara untuk memberikan subsidi sosial) tidaklah tabu bagi neoliberalisme—walaupun sebenarnya sudah melanggar resepnya sendiri. Namun, karena Keynesianisme dan neoliberalisme sama-sama menghendaki perlindungan terhadap kepemilikan pribadi atas alat produksi, maka keduanya tidak sanggup mengatasi globalisasi kemiskinan di dunia saat ini.
[14] Opcit, tulisan Toopay untuk Presnas Papernas.
[15] Ibid, tulisan Toopay untuk Presnas Papernas.
[16] Reuters melaporkan pada 21 Agustus lalu bahwa surat utang rumah yang jatuh tempo meningkat 9% di bulan Juli, dan itu 93% lebih tinggi dibanding pada bulan yang sama tahun lalu. Terdapat satu surat utang yang jatuh tempo untuk tiap 693 rumah tangga. Di Detroit, Michigan, surat utang yang jatuh tempo meningkat 70% setiap bulannya–8.683 surat utang dalam satu bulan, di kota yang hanya 871,000 jiwa. [Little Insight into US capitalism: “Karena peminjam subprime (tangan kedua) mulai bangkrut akibat surat utang yang tak terbayar dengan jumlah yang meningkat pesat, pencari nasabah kartu kredit pun meningkatkan upaya mereka untuk menarik nasabah yang sejarah keuangannya rentan, menurut suatu firma penelitian pasar”; Boston Globe, September 4: “...penawaran kartu kredit langsung kepada nasabah tangan kedua di AS melompat hingga 41% di paruh pertama tahun ini, dibandingkan paruh pertama tahun lalu, menurut Mintel International Group.”]
[17] Mobilisasi sekitar 20.000 rakyat kulit hitam AS, dalam rangka memperingati peristiwa pemenjaraan remaja kulit hitam, beberapa waktu lalu, adalah capaian yang menggembirakan.
[18] Rohan Pierce, anggota Nasional Committee (NC) Democratic Socialist Perspective, dalam Laporan Situasi Politik Internasional untuk sidang NC, akhir September, 2007; Activist 08, 2007.
[19] Sampai-sampai Negara memberikan pelayanan cuci pakaian gratis bagi setiap rumah tangga pekerja yang tidak sempat mencuci pakaiannya, dengan mendatangi rumah-rumah penduduk.
[20] Kiri dalam perspektif internasional lebih sering dianggap sebagai segala bentuk inisitatif, gerakan dan organisasi yang melawan neoliberalisme—dengan cara reformis maupun revolusioner. Untuk memperlihatkan perbedaannya, sebutan kiri ditambahkan dengan ‘revolusioner’, ‘tengah’, ‘radikal’, ‘sosial demokrasi’ atau ‘sosial liberal’. Secara garis besar penggolongan tersebut menjadi kiri-anti kapitalis (yang membangun alternatif dengan melawan neoliberalisme dan kapitalisme), dan kiri-sosial liberal (yang melawan neoliberalisme tanpa melawan kapitalisme).
[21] Mereka menyatakan: “Tujuan kami bukanlah menyusun kekuatan penekan terhadap Partai Sosialis untuk mendorongnya “lebih ke kiri”. Tujuan kami memenangkan dukungan para aktivis sosialis dan komunis yang militan demi suatu perspektif yang independen. Dari sudut pandang ini, kesuksesan kampanye Olivier Besancenot merupakan poin yang menentukan untuk menciptakan syarat-syarat kemajuan bagi pembentukan partai baru tersebut. Fokus kampanye Olivier telah membentuk kerangka (skeleton) bagi program kekuatan baru tersebut: persoalan-persoalan sosial dan demokrasi dalam berbagai dimensi, seperti hak-hak kaum muda, feminis, ekologis, perlawanan terhadap logika kapitalis, pemilihan majelis rakyat, kontrol rakyat, kekuasaan untuk majelis/dewan yang dipilih di komunitas dan tempat kerja.
[22] Menurut Murray Smith, salah seorang pimpinan FI, pandangan partai sosialis Prancis, yang ‘bersetuju’ pada gagasan “kiri-plural”, tak hanya untuk kepentingan menambah suara di parlemen, namun sekaligus menutupi dan menjebak kekuatan kiri lainnya ke dalam kebijakannya, sehingga mencegah mereka tampil sebagai alternatif. Situasi tersebut juga mengancam PRC-Italia ketika berkoalisi dengan kiri-tengah. Dalam dokumen lain digambarkan bahwa diskusi di antara kaum kiri radikal sedang berkembang di seputar apakah proyek pembangunan (kembali) gerakan (buruh) yang konsisten, serta pembangunan kekuatan kiri yang anti neoliberal atau anti kapitalis, dapat atau tidak dapat dilakukan dengan aliansi atau dukungan perlementer, atau dengan berpartisipasi dalam koalisi bersama pemerintahan sosial-liberal atau kiri tengah. Perdebatan tersebut telah berbuah perpecahan kaum kiri di Italia dan Brazil. Persoalan ini juga merupakan basis perbedaan di antara kaum kiri anti-neoliberal ketika pemilihan Presiden Prancis.
[23] LPP adalah anggota Fourth Internasional.
[24] Seorang aktivis forum anti-privatisasi/gerakan sosial Indaba, yang pada akhir tahun 1990’an merupakan kader full-time dan pimpinan SACP tingkat provinsi, sebelum disingkirkan ol eh komite sentral pada tahun 2000.
[25] Belum diketahui bagaimana perkembangannya sejauh ini.
[26] PRD-oportunis menyimpulkan bahwa PBR adalah partai borjuasi-kerakyatan.
[27] “…Peningkatan (situasi revolusioner) itu tidak datang bagai halilintar di siang bolong. Tidak, ia telah dipersiapkan selama periode yang panjang oleh segala syarat-syarat kehidupan...” Lenin: Peningkatan Situasi Revolusioner, 1912.
Read More......

03 Februari 2008

[Debat-Papernas] Mengharap Hujan Dari Langit, Air di Tempayan Jangan Ditumpahkan

Zely Ariane [1]
(tawaran kepada forum presnas Papernas 29/08/07)

PAPERNAS adalah alat politik milik rakyat. Siapa pun yang mendukung program-program perjuangan PAPERNAS berhak ambil bagian dalam politik-organisasi dengan hak dan kewajiban yang sejajar. Dalam wadah ini rakyat menjadi pelaku politik aktif, dan tidak sekedar menjadi obyek dari para elit partai yang berpolitik tanpa ketahuan kepentingan-kepentingan sempit di baliknya.

Dalam perjalanannya, setiap kader dan pengurus PAPERNAS dijaga oleh prinsip-prinsip perjuangan, program dan strategi-taktik yang tegas dan kongkrit. Program dan strategi taktik inilah yang menjadi panduan bagi setiap langkah politik-organisasi. Langkah politik-organisasi yang melenceng dari prinsip-prinsip program dan stratak segera disikapi dan pihak yang bertanggungjawab mendapatkan tindakan disiplin organisasi. Selain itu, unsur-unsur pendiri PAPERNAS adalah organisasi-organisasi dan individu-individu yang selama bertahun-tahun telah terbukti pengabdian dan keteguhannya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat di berbagai sektor.[2]

1. Tujuan Intervensi Pemilu dan Pembangunan PAPERNAS

Intervensi pemilu adalah sebuah bentuk tindakan politik dan organisasional yang sadar untuk mencampuri jalannya proses Pemilihan Umum (dalam hal ini Pemilu 2009). Tujuannya adalah sebagai salah satu taktik untuk mencapai perubahan mendasar dan sistemik bagi rakyat Indonesia, yakni: mewujudkan sistem masyarakat yang adil, modern, sejahtera, demokratik dan setara sepenuh-penuhnya di bidang sosial, ekonomi, politik, hukum dan budaya dalam prinsip demokrasi-kerakyatan. [3] Bentuk intervensi pemilu bermacam-macam tergantung kapasitas (daya juang) dan kesadaran rakyat pada rentang waktu tertentu, seperti: memperjuangkan paket UU Politik (Pemilu, Susunan dan Kedudukan, dan Kepartaian) yang demokratik dan menguntungkan bagi partisipasi rakyat, menjadi peserta/kontestan pemilu dengan partai sendiri, mendukung/bergabung dengan salah satu peserta/kontestan pemilu dengan platform yang menguntungkan rakyat dan menyerang musuh bersama yang lebih besar, mencoblos pada hari H, Golput, melakukan boikot aktif, merusak kertas suara, memblokade TPS-TPS, serta menjadi pemantau pemilu.

Tujuan pembangunan PAPERNAS adalah sebagai wadah/alat politik alternatif tertinggi (yaitu partai politik) yang memungkinkan rakyat sebagai pelaku politik langsung dengan kesadaran akan kepentingan-kepentingan strategis dan mendesaknya. [4] PAPERNAS dibangun diatas landasan bahwa sampai saat ini, kekuatan-kekuatan politik yang ambil bagian dalam kekuasaan pemerintahan tidak pernah berpihak ke rakyat. Presiden, wakil presiden, menteri-menteri, dan partai-partai besar yang berhasil meraup suara rakyat tidak akan pernah memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan rakyat pemilihnya. Mereka hanya sibuk mengurusi kepentingan kelompoknya dan memperkaya diri saja. [5]

Ketika Kesempatan PAPERNAS Menjadi Kontestan Pemilu Ditutup oleh Negara…

Penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh struktur PAPERNAS yang masih terus bertahan ditengah gempuran tak berkesudahan dari kelompok-kelompok reaksioner dan struktur pemerintahan setempat—walaupun secara sistematis dan terencana belum mendapatkan pendidikan (bekal) politik yang memadai dari struktur partainya (program pendidikan tidak diprioritaskan selama konsentrasi penstrukturan dan perluasan April-Juni 2007). 134 kota/kabupaten, 561 kecamatan yang terstruktur selama lebih kurang 1 tahun perjalanan sejak pembentukan KP-PAPERNAS, merupakan prestasi dan harta paling berharga yang berfungsi sebagai otot-otot perjuangan rakyat selanjutnya. Kenyataan ini bermakna bahwa:
(i) kehendak rakyat (struktur PAPERNAS) untuk bergabung ke dalam sebuah wadah alternatif dengan program-program yang lebih tinggi—yang dihimpun melalui popularitas yang telah dimiliki ormas-ormas/partai pendukung PAPERNAS, konsolidasi kontak-kontak, maupun popularitas PAPERNAS sendiri—dalam kurun 1 tahun sudah merupakan capaian yang luar biasa;
(ii) harapan rakyat untuk perubahan (mendukung program perjuangan PAPERNAS) diwujudkannya lewat kesadaran bergabung dengan PAPERNAS. Kesadaran ini didapatkan melalui pengolahan basis-basis sektor dan komunitas serta kampanye. Struktur Papernas DKI Jakarta adalah salah satu contoh pengolahan basis massa dengan metode ini, hingga secara sadar bersedia bergabung dengan PAPERNAS.[6]

Pada prinsipnya, capaian kesadaran untuk berpolitik kepartaian (walaupun belum mencukupi syarat Pemilu) ini tidak boleh diturunkan. Karena inilah tabungan kita untuk perjuangan yang berdaya jangkau lebih panjang.

Bergulirnya RUU Politik yang sangat memberatkan politik kepartaian di Indonesia saat ini merupakan batu sandungan PAPERNAS berikutnya, dalam kepentingannya menjadi peserta pemilu, yang paling pokok setelah intimidasi. Situasi ini juga mencerminkan bahwa ruang demokrasi mulai ditutup (stabilisasi politik) bagi partisipasi politik kerakyatan, ditambah dengan beberapa indikator lainnya (pembakaran buku, pelarangan buku sejarah, kriminalisasi perburuhan, dst).

2. Bagimana Kita Memaknai Peluang Persatuan Elektoral bersama PBR dan Partai Pelopor?

Tentu saja demi kepentingan perjuangan melawan imperialisme yang lebih besar kita membutuhkan sekutu yang lebih banyak, arena (medan) juang yang seharusnya lebih banyak juga, dengan metode yang tentu harus lebih beragam pula. Dalam proses ini kita bahkan bisa menerima sekutu yang paling tidak stabil/khianat sekalipun, NAMUN potensi khianat tersebut harus ditunjukkan di depan massa kita seteguh-teguhnya. Arena elektoral memberikan peluang persatuan, yakni, seperti yang dilaporkan oleh petugas politik DPP PAPERNAS, menjadi kontestan pemilu atas nama PBR.

Harus dipahami bahwa peluang persatuan elektoral dengan PBR dan Partai Pelopor bukanlah bentuk Koalisi, melainkan Fusi [7] atau merger/melebur. Peluang untuk GPP sudah semakin kecil, sehingga peluang untuk bisa setara sebagai suatu ‘front demokratik’ tidak ada. Apalagi PAPERNAS belum menjadi partai secara de-Jure—akta notarispun sepertinya belum/tidak jadi dibuat. Hal ini seharusnya membuat kita lebih waspada untuk tidak serta merta menyerahkan leher kita untuk diikat, tanpa perhitungan strategis yang lebih matang. Perhitungan-perhitungan tersebut, antara lain:
· Kita harus membedakan ikut pemilu dengan partai sendiri dan dengan partai orang lain—apalagi di tengah ketidakpercayaan/apatisme rakyat terhadap partai politik yang ada saat ini. Konsentrasi yang diputuskan untuk membangun PAPERNAS setahun ini tidak sama dengan konsentrasi untuk PBR—yang platform-nya lebih rendah. Menjadi peserta pemilu dengan PAPERNAS berbeda kualitas dibandingkan dengan PBR. Kualitas program PAPERNAS lebih tinggi, dan metode perjuangannya lebih maju. Apakah dengan demikian PBR bisa dikatakan sebagai Partai Alternatif (pengganti PAPERNAS) bagi rakyat? Apakah karena semakin sulitnya ruang gerak PAPERNAS maka kini dia harus mengganti baju—padahal PAPERNAS tidak pernah telanjang?
· PBR adalah partai Islam borjuasi, reformis gadungan, yang tidak punya basis massa riil (tradisional); peserta pemilu 2004 yang mendukung pemerintahan SBY-Kalla. Hingga detik ini, tidak ada satupun tindakan politik PBR yang memberikan keuntungan politik pada rakyat (kecuali inisiatifnya bersama partai gurem lainnya untuk melakukan Judicial Review terhadap UU Politik ke Mahkamah Konstitusi). PBR juga diragukan komitmennya terhadap pembebasan perempuan—walau ada program kesetaraan—karena keterlibatan wakil-wakil PBR di sebagian DPRD yang mendukung disahkannya perda-perda syari’ah (contoh: Sulteng dan Tangerang).
· Tentu kita sanggup berkompromi (untuk program-program seminimal apapun yang disetujui PBR, dan menguntungkan kita/rakyat), karena demikianlah seni berjuang untuk memperluas sekutu dan penerimaan program (esensi dari taktik front persatuan). Namun kompromi berbeda dengan menyerahkan diri (kapitulasi), karena dengan kompromi, kita tetap dapat mempropagandakan hal-hal/program yang tak disetujui melalui alat kita sendiri (tidak terikat/kebebasan berpropaganda). Di dalam front yang paling bejat sekalipun, yang harus terus kita pertahankan/perjuangkan adalah: (i) keteguhan dan kesetiaan berjuang terhadap ­platform yang telah disepakati bersama, dan (ii) platform bersama tersebut harus secara terbuka dinyatakan TIDAK CUKUP dijadikan solusi (tidak menyelesaikan persoalan mendasar rakyat)—agar tidak membohongi rakyat.
· Ada pendapat yang menyatakan bahwa arena di daerah-daerah pemilihan (DAPIL) bisa dimaksimalkan (untuk program-program yang maksimum sekalipun), padahal pada saat yang bersamaan arena tersebut mengandung keterbatasan-keterbatasan yang mengikat PAPERNAS—apalagi jika target utama kita adalah tiket (kursi) ke parlemen. Keterbatasan tersebut antara lain: (1) politik pemenangan caleg di dalam partai borjuis bukanlah politik yang bersih, (2) mengkritik PBR atau calegnya secara terbuka selama proses elektoral akan merugikan PBR dan mengancam eksistensi kita di dalam PBR, (3) mengkampanyekan program-program yang lebih tinggi (di luar platform yang disepakati dengan PBR) di wilayah Dapil dapat berkontradiksi dengan politik PBR setempat, di wilayah lain, atau di nasional (4) otoritas pusat (DPP) begitu besar untuk memveto (caleg) daerah—seperti yang dilakukan DPP PKB yang mengganti caleg jadi dari Jatim dengan semena-mena pada pemilu 2004, (5) terbatasnya jangkauan kita terhadap potensi gelombang politik non elektoral yang manifest di luar atau di dalam Dapil.
· Merger/lebur dengan PBR seharusnya ditempatkan sesuai kapasitas politik dan organisasionalnya, yakni hanya sanggup mengemban program-program minimum (mendesak dan darurat) PAPERNAS. Program-program tersebut tidak boleh abstrak, karena dapat menyulitkan rakyat untuk menagihnya (seperti perlindungan kekayaan alam, kemandirian ekonomi dsb sebagai pengganti Tripanji yang sudah keburu di cap komunis, padahal bisa lebih kongrit seperti yang sudah disuarakan banyak kelompok, yakni peninjauan kontrak karya atau renegosiasi). Inipun tidak bisa dipercayakan begitu saja tanpa tekanan politik dari luar arena elektoral. Peningkatan kualitas arena elektoral selalu disebabkan oleh tekanan dari arena non-elektoral—baik pada proses pemilu maupun sebelumnya (contoh: Fauzi Bowo saja sanggup menyandang program pendidikan dan kesehatan gratis akibat kampanye kedua program itu yang massif oleh gerakan sebelumnya). Berkonsentrasi untuk memaksimalkan peluang elektoral bersama PBR ini bermakna bahwa seluruh kerja politik organisasi dan ideologi PAPERNAS diarahkan untuk hanya mensukseskan DAPIL. Bagaimana tanggung jawab kita terhadap struktur dan potensi di luar DAPIL? .
· Jika target utama dari peluang merger ini adalah kursi, maka ia akan memaksa kita berkonsentrasi di DAPIL—yang lebih banyak menguntungkan PBR/Pelopor. Hal ini akan berkonsekuensi mengikat kaki, tangan, dan lidah kita pada kepentingan PBR. Membatasi kita dalam melakukan kritik terbuka terhadap PBR sebelum ‘aman untuk mendapat kursi’. Apalagi kita hanya akan diberikan DAPIL dimana mereka tidak kuat (dan sayangnya kita juga kurang kuat).
· Makna kursi bagi kita merupakan wujud dukungan massa terhadap program-program kita, yang diperoleh dari keberhasilan kita memperjuangkan kepentingan mereka: bukan hasil dari money politic. Untuk mendapatkan kursi dengan metode ini, maka tidak boleh kita meninggalkan arena non-elektoral/ekstraparlementer, karena dari sanalah justru potensi suara untuk kita berasal—selain bahwa tanggung jawab terbesar kita justru untuk memajukan kualitas gerakan, bukan sekadar kursi. Dan, semestinya kita paham, bahwa kursi tersebutpun tidak serta merta dapat memberi manfaat banyak pada rakyat—dalam banyak kasus parlemen justru mandul dalam menjawab persoalan rakyat—tanpa partisipasi rakyat sendiri secara langsung untuk menyelesaikan persoalannya sendiri. PAPERNAS tidak boleh membohongi rakyat dengan mempertahankan ilusi rakyat terhadap parlemen—padahal ilusi tersebut sedikit demi sedikit mulai menurun.
· Konsentrasi juga akan membatasi ruang gerak kita untuk melakukan respon politik non-elektoral (sekalipun dengan kualitas program dan metode juang yang lebih tinggi), karena tidak secara langsung menguntungkan politik dapil PBR. Padahal kita sadar, tanpa mengolah gerakan atau politik non-elektoral, semakin kecil kemungkinan kita untuk menang pemilu (mendapat kursi)—kecuali menang dengan money politic atau politik menjilat ke atas menginjek ke bawah.
· Maka jika prinsip konsentrasi diterapkan pada arena merger ini, maka ia akan berkonsekuensi kontraproduktif bagi masa depan PAPERNAS dan rakyat.

3. Bagaimana Masa Depan PAPERNAS?

· Tentu saja kita harus mempertahankan PAPERNAS sebagai PARTAI, karena massa bergabung dengan PAPERNAS sebagai partai, bukan yang lainnya. Secara terbuka rakyat harus tahu bahwa kita tetap sebagai partai (Kalaupun UU menghendaki PAPERNAS bubar karena sudah melebur dengan PBR, maka kita seharusnya bisa bernegosiasi dengan PBR untuk mempertahankan PAPERNAS sebagai partai—secara formal bubar di depan Dephukham/KPU tapi secara de fakto kita tetap ada. Esensi perubahan PAPERNAS menjadi Partisan Pembebasan Nasional (PAPERNAS), misalnya, tidak perlu, karena akan membingungkan rakyat kembali setelah mereka memilih PAPERNAS sebagai partai. Karena kalau PBR/UU memang menghendaki PAPERNAS bubar, maka sebenarnya singkatan PAPERNAS (apapun kepanjangannya) memang sudah tak diinginkan oleh mereka. Ini akan merugikan kita. PRD sendiri sampai sekarang bukanlah partai legal, tapi tidak pernah ada persoalan terhadap PRD. Jangan massa pendukung PAPERNAS justru ditakut-takuti dengan namanya sendiri (PAPERNAS), karena itu akan mempengaruhi kasadarannya di masa yang akan datang untuk berprinsip membela kepentingannya dan alat politik hasil kerjanya. Jangan mengajari rakyat untuk dengan mudahnya gonta ganti baju. Fanatik terhadap alat, dalam kasus ini, PERLU dan HARUS, karena ini masalah prinsip. PAPERNAS bukan sekadar baju, tapi martabat dan prinsip politik rakyat.
· Sejatinya menjadi partai tak perlu pengakuan negara, namun agar kita aman sebaiknya PAPERNAS tetap membuat akte notaris pendiriannya serta didaftarkan ke Dephukham, berapapun jumlahnya. Kenapa demikian? Karena tak bisa menjadi peserta pemilu 2009 bukanlah akhir dari perjuangan PAPERNAS sebagai partai. Bila kita mundur sekarang, maka semakin kecil landasan kita untuk menjadi partai alternatif di masa yang akan datang.
· Jikalaupun mayoritas peserta Presnas tetap berkehendak untuk berkonsentrasi di arena Dapil atas nama PBR, maka yang seharusnya kita pertahankan, adalah:
(1) Tripanji dan program-program demokratisasi dapat dilaksanakan di Dapil
(2) Perluasan struktur ormas/PAPERNAS (jangan dibubarkan)
(3) Metode mobilisasi dan radikalisasi massa tetap dipertahankan
(4) Agar program maksimum (ekonomi, politik dan social budaya) PAPERNAS seluruhnya bisa diangkat, karena merger arenanya terbatas, maka kita seharusnya bisa menggarap potensi non elektoral, sekaligus berfungsi meningkatkan kualitas politik merger tersebut.
· Sebenarnya PAPERNAS bisa terus hidup dan berkembang sebagai partai—hingga berhasil memaksa Negara untuk mengakuinya. Banyak metode yang bisa digunakan, seperti yang dilakukan HAMAS—Palestina—dalam memperluas strukturnya secara tertutup (tanpa plang) dibawah tekanan Israel dan Fatah melalui koperasi-koperasi dan organisasi perempuan. Walau tertutup, namun propaganda terhadap partai tidak pernah berhenti, sehingga HAMAS bisa memenangkan pemilu dengan metode tersebut, bahkan dengan program yang lebih maksimum (radikal) yakni: kemerdekaan Palestina sepenuhnya dan penghentian pendudukan Israel..

4. Penutup

Sebagai penutup, ada baiknya kita menyimak kutipan yang sangat penting dari pamphlet PAPERNAS berikut ini, sebagai landasan kita untuk meneguhkan jalan dalam politik elektoral yang menguntungkan rakyat, bukan sekadar menjanjikan perubahan dari atas (dari dalam pemerintahan) tanpa pertisipasi langsung rakyat:

Sebagai partai politik, kepentingan PAPERNAS adalah berkuasa dalam pemerintahan, namun berkuasa bukan menjadi tujuan. Berkuasa hanyalah sarana untuk dapat menjalankan program-program yang berpihak kepada rakyat.

Selain melakukan perjuangan lewat jalur parlamen (ikut berkompetisi melalui pemilu), PAPERNAS juga meyakini bahwa jalur ekstra parlemen (aksi massa) merupakan suatu jalan yang dibutuhkan dalam perjuangan sekarang. Turut aktifnya massa rakyat dalam perjuangan politik sehari-hari merupakan wujud yang paling kongkrit dari dukungan rakyat terhadap program perjuangan kita.[8]

Demikian sumbangan pemikiranku kepada sidang Presnas yang terhormat ini. Semoga perjuangan kita untuk membentuk wadah alternatif bagi rakyat tidak surut dipukul mundur oleh hambatan UU dan intimidasi.***

Catatan Kaki:
[1] Staff Departemen Kaderisasi dan Komunikasi Massa DPP-PAPERNAS, Koordinator Urusan Pendidikan dan Bacaan Komite Nasional Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika (KN-JNPM).
[2] Naskah Pamflet PAPERNAS Oleh Dominggus Octavianus: “Tolak Jadi Bangsa Kuli, Bangkit Jadi Bangsa Mandiri. Bangun PAPERNAS!” pada bagian “Mengapa PAPERNAS Patut didukung oleh Rakyat?”
[3] Naskah Pamflet PAPERNAS Oleh Dominggus Octavianus: “Tolak Jadi Bangsa Kuli, Bangkit Jadi Bangsa Mandiri. Bangun PAPERNAS!”, hal.1, tidak dapat terbit secara nasional (sempat dijadikan pamflet dengan cetak terbatas oleh PAPERNAS DKI Jakarta).
[4] Ibid.
[5] Ibid
[6] Berdikari Edisi 01 Tahun Pertama (2007), Inspirasi, hal 4.
[7] Fusi pada masa Soeharto yang dilakukan partai-partai nasionalis ke dalam PDI tidak menghilangkan entitas kepartaiannya. Namun makna fusi secara umum adalah peleburan.
[8] Op cit bagian “Bagaimana Papernas Memperjuangkan Program-programnya?”
Read More......

[Debat-Papernas] MEMPERTAHANKAN DAN MEMPERKUAT PAPERNAS SEBAGAI PARTAI POLITIK RAKYAT MISKIN

Budi Wardoyo [1]

Landasan Kenapa Pemilu harus di Intervesi :

1. Bahwa PEMILU sebagai TAKTIK untuk meluaskan propaganda jalan keluar alternatif dari krisis ekonomi politik sosial budaya (lihat program – program eknomi, politik dan sosial budaya PAPERNAS)
2. Bahwa PEMILU sebagai TAKTIK untuk meluaskan struktur perlawanan gerakan rakyat miskin ( menyatukan dan meluaskan )
3. Bahwa PEMILU sebagai TAKTIK untuk meningkatkan kapasitas perlawanan gerakan rakyat miskin agar pada saatnya berkesanggupan untuk mengambil alih kekuasaan dan mempertahankannya.

Prakteknya :
Dari pengalaman capaian yang kita dapat :
A. Meluasnya struktur PAPERNAS kita hingga tingkat kecamatan
B. Masih sedikitnya organisasi gerakan yang bergabung dalam PAPERNAS
C. Munculnya hambatan dari Rezim berkaitan dengan Kehadiran PAPERNAS, terutama dengan membiarkan – bahkan di beberapa tempat mendung – Milisi Sipil Reaksioner melakukan serangan – serangan fisik kepada PAPERNAS
D. Belum efektifnya organisasi – organisasi massa atau organisasi pendukung PAPERNAS dalam memimpin perjuangan massa di sektornya masing – masing
E. Belum berjalannya bacaan, pendidikan dan mobilisasi secara simultan, yang bermuara pada penguatan dan perluasan struktur

Situasi Obyektif :

1. Krisis yang terjadi di Indonesia, tidak kunjung mereda, bahkan makin mendalam, hal ini di tandai dengan :
a. Peningkatan jumlah pengangguran. [2] Terutama karena PHK – PHK massal dan bertambahnya jumlah pencari kerja.
b. Menurunnya daya beli rakyat ( Bank Dunia, dalam penelitian mutakhirnya, mengumumkan bahwa sekitar 109 juta rakyat Indonesia hidup dengan pengeluaran di bawah 2 dolar (sekitar Rp 18 ribu) per hari. Data dari Badan Pusat Statistik tak jauh beda: 17,76% rakyat Indonesia hidup dalam garis kemiskinan dengan penghasilan tak lebih dari 1,55 dolar per hari. Malahan, terdapat sekitar 7% dari total penduduk Indonesia yang cuma mampu belanja untuk hidup di bawah 1 dolar per hari) [3]
c. Secara makro ekonomi, investasi di sektor riil tidak juga berkembang, karena para investor ( baik asing maupun dalam negeri ) lebih banyak menanamkan modalnya ke pasar modal dan pasar saham, [4] dan menurut Hendri Saparini, derasnya modal jangka pendek ini, justru menunjukan krisis ( indikator ) sekarang, hampir sama dengan krisis tahun 1997/1998. [5] Bahkan pada bulan mei 2007, Tim Indonesia Bangkit telah memberikan analisa, krisis finansial akan terjadi pada tahun 2008 dengan tingkat kemungkinan 65%.[6]

2. Demokrasi yang telah di perjuangkan oleh gerakan revolusioner dan rakyat melalui aksi – aki massa, mengalami ancaman :
1. Partisipasi rakyat tidak di dorong lebih maju oleh rezim borjuis ini, melainkan makin dipersempit dalam berbagai bentuk terutama dalam bentuk UU anti demokrasi (termasuk makin banyaknya daerah yang menerapkan perda – perda syariah).[7] Dalam momentum Pilkadalpun, tidak ada kehendak dari partai – partai busuk itu untuk membuka ruang bagi rakyat dalam bentuk calon – calon independen misalnya, termasuk dalam pemilu 2009 nanti di mana RUU yang akan di bahas jelas – jelas, mengebiri hak – hak berpolitik rakyat.
2. Aksi – aksi perlawanan rakyat, juga di hadapi dengan tuduhan – tuduhan kriminal, bahkan di beberapa derah dengan kekerasan (termasuk dengan penembakan hingga mati) [8]
3. Pembubaran oleh milisi – milisi maupun oleh aparat terhadap kegiatan – kegiatan yang tidak dalam maintream rezim (bukan hanya kegiatan kelompok kiri [9] atau terbitan kiri yang mulai di berangus melainkan juga kelompok – kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan lain sebagainya) [10]
4. Kasus – kasus pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu ( termasuk pelanggaran HAM sekarang ) semakin tidak terungkap, bahkan para pelaku sekarang ini mendapatkan posisi yang strategis ( Wiranto yang jadi Ketua Umum Partai Hanura, dan bahkan menjadi kandidat calon Presiden atau para penculik yang tergabung dalam TIM MAWAR Kopasus malah mendapatkan jabatan – jabatan strategis seperti Letjen Sjafri Syamsuddin sekarang menjabat Sekjen Dephan, Muchdi PR sebagai Deputi V BIN dan Chairawan sebagai Kaposwil NAD BIN.

3. Krisis ini telah meningkatkan perlawanan rakyat :

a. Peningkatan terutama dalam hal metode perlawanan, seperti yang di tunjukan oleh kaum buruh di tahun 2006 ( banyak yang menilai, aksi buruh pada tahun ini adalah yang terbesar semenjak Orde Baru ), dimana metode aksi serentak, dengan metode pemogokan gedor pabrik, telah menakutkan rezim. Mogok serentak bukan lagi menjadi milik Cimahi atau kota – kota Industri di Jawa Timur, melainkan menjalar ke Makasar, Tangerang dan kota – kota industri lainnya, hingga lumpuh total. Sedikit gambaran bagaimana sikap rezim menghadapi 1 mei 2006, seperti yang di tulis oleh Detik.com

“ Menghadapi rencana demo besar-besaran pada hari buruh sedunia, Pemprov DKI dan Polda Metro Jaya tampaknya tidak mau main-main. Hal itu dibuktikan dengan mulai diberlakukannya status siaga I di Jakarta secara resmi mulai hari ini.

"Siaga I mulai hari ini, artinya kekuatan sudah ada ditempat mulai hari ini," kata Kapolda Irjen Pol Firman Gani usai menghadiri apel kesiapan pasukan di silang Monas , Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (28/4/2006).

Apel dipimpin Gubernur DKI Sutiyoso yang bertindak sebagai inspektur upacara. Tampak hadir Pangdam Jaya Agustadi Sasongko Purnomo, Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Rusdi Taher, Panglima Armabar Laksda TNI Moekhlas Sidik, Panglima Korps TNI AU Marsda TNI Mardjono, Ketua Pengadilan Tinggi Jakarta Ben Suhenda Sjah, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzie Bowo “

Termasuk TNI juga menyiapkan pasukan :

"Kita siapkan 5.000 personel dari darat, laut, dan udara yang disebar ke masing-masing satuan. Baik di satuan Kodim, Koter, dan Babinsa," kata Pangdam Jaya Mayjen Agustadi Sasongko Purnomo.

Hal itu disampaikan Agustadi saat ditemui detikcom usai Apel Siaga menjelang 1 Mei di Lapangan Monas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (28/4/2006).

Sementara respon rezim untuk may day tahun 2007, sekalipun atomosfirnya tidak sepanas tahun 2006, nemun tetap saja menakutkan rezim :

“ Menyambut Hari Buruh (Mayday) 1 Mei, polisi menyiapkan 30.000 personel. Para personel ini dikerahkan untuk mengamankan jalannya demo yang bakal digelar ribuan buruh di Jakarta.

Personel yang diturunkan antara lain satuan Polantas, Reserse, Intelkam, Samapta, Densus 88, Polres dan Polsek, terutama di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

Untuk di luar Jakarta, Polda menyiagakan Polres Bekasi, Polres Bogor, Polres Tangerang, Polres Depok, dan BKO Mabes Polri.”


b. Metode lain adalah metode blokir jalan ( yang esensinya adalah menghentikan jalur produksi ), yang di lakukan oleh korban lapindo berkali – kali, ratusan warga di Purwakarta yang memblokir jalan Plered – Ajun hingga lumpuh total selama 5 jam. Pemblokiran jalan juga terjadi di Aceh, ketika warga memblokir jalan Banda Aceh – Calang menuntut ganti rugi tanah. Pemblokiran jalan juga terjadi di Dumai ( Pekanbaru ) ketika ratusan warga memblokir jalan Datuk Laksamana untuk menuntut Fasilitas Drainase ke PT PELINDO I Dumai. D Maros ( Sulawesi Selatan ) Ratusan warga Desa Moncongloe Bulu, Kecamatan Moncongloe, Maros, memblokir jalan di desa. Aksi ini dilakukan setelah jalanan mereka rusak karena sering dilewati truk berukuran besar yang digunakan mengangkut tanah dan material lain.[11]

c. Dalam hal persatuan juga telah ada kemajuan di gerakan rakyat, paling tidak ditunjukan dengan terbangunnya Aliansi Buruh Menggugat (ABM)sebagai hasil dari radikalisasi kaum buruh menentang revisi UU 13/2003. Bukan hanya karena Konferensi Nasional I ABM, di hadiri oleh kurang lebih 300 delegasi dari 16 propinsi (yang mewakili puluhan serikat buruh baik nasional maupun lokal), namun yang lebih penting ABM menegaskan dirinya sebagai konsolidasi gerakan buruh yang menentang neoliberalisme dengan platform : Penghapusan Hutang Luar Negeri, Nasionalisasi Aset – Aset vital yang di kuasai asing, Industrialisasi Nasional dan pemberantasan KKN. [12] Dan sebagai langkah awal untuk mengkongkritkan persatuan kaum buruh, konferensi nasional telah membentuk struktur kepengurusan (sebagai Badan Pekerja Nasional) dan Sekretariat Bersama (Sekber). Belakangan telah terbentuk Badan Pekerja Wilayah ABM Jabodetabek.

d. Dalam bentuk persatuan yang lebih tertutup, kelompok – kelompok kiri di luar AGRA [13] (seperti jaringan PRP – termasuk KASBI - kelompok Ellly Salomo – Serikat Mahasiswa Indonesia dan Federasi Perjuangan Buruh Jabotabek - dan beberapa Eks Kader PRD sedang mencoba membangun alat baru, sekalipun masih sangat embrional.

e. Belakangan ini, kaum pergerakan di Jakarta (baik secara organisasi maupun individu) sedang mencoba membangun alat propaganda bersama (dalam bentuk terbitan) sekaligus media untuk menjembatani perdebatan – perdebatan di antara kelompok gerakan, di samping meregulerkan forum – forum diskusi.[14]

f. Dalam hal tuntutan, sekalipun masih bergerak dalam respon terhadap dampak, namun tuntutan – tuntutan yang menohok pada jantung kepentingan imperialisme juga sudah mulai muncul, terutama soal hutang luar negeri, [15] Isu Nasionalisasi Industri Tambang, [16] juga mulai di angkat, walau kebanyakan oleh elit – elit politik, [17] sementara unsur – unsur gerakan masih sangat sedikit yang mengangkat ini, demikian juga dengan Industrialisasi Nasional.

g. Dalam hal kesadaran untuk berkuasa, masih sedikit kelompok gerakan yang memiliki kesadaran itu – dengan kapasitas gerakannya masing – masing – seperti yang di tunjukan oleh kelompok tani dan didukung oleh LSM yang kemudian membentuk Partai Perserikatan Rakyat – yang awalnya diarahkan untuk bertarung dalam pemilu 2009 – atau WALHI yang juga berencana membentuk partai politik. Di lingkaran PRP cs, wacana – wacana merebut kekuasaan makin sering di munculkan, termasuk dalam slogan – slogan aksi “buruh berkuasa, rakyat sejahtera “. Bahkan dalam kongres Federasi Serikat Buruh Karya Utama (salah satu anggota KASBI yang paling signifikan) ada desakan agar membentuk partai politik.

h. Peningkatan perlawanan rakyat, sayangnya tidak terpimpin oleh gerakan revolusioner, sehingga energi yang besar dari perlawanan rakyat tidak terakumulasi menjadi kekuatan perubahan atau dengan bahasa lain, terjadi kekosongan kepemimpinan perlawanan rakyat, padahal rakyat sudah tidak percaya lagi pada kepemimpinan elit ( parpol ) yang ada di parlemen. [18]

Pertarungan Elit Politik Busuk ( Parpol ) di tengah perlawanan rakyat melawan Neoliberalisme :

SBY – JK yang sedari awal adalah Boneka Imperialis, dengan segala upaya tetap menjalankan agenda – agenda neoliberalisme di Indonesia ( Instruksi Presiden no 3 tahun 2006, tentang paket kebijakan perbaikan iklim investasi yang turunannya antara lain revisi UUK 13/2003 – walupun gagal, namun di siasati dengan Peraturan Pemerintah dan RUU Penanaman Modal – sekarang telah jadi UU semakin mempertegas posisi agen imperialis.
Tentu saja pelaksanaan neoliberlisme di Indonesia, mendapatkan perlawanan dari rakyat dalam berbagai bentuk seperti yang telah di sebutkan di atas, sehingga mau tidak mau, SBY – JK terpaksa harus memberikan konsesi/sogokan kecil dan sementara, yang sesungguhnya tidak akan mampu menjawab keresahan massa.
Disisi lain, seluruh kekuatan politik mainstream (kekuatan politik parlemen ), sedang berlomba – lomba menjadi agen imperialis, sehingga sangat nampak dalam pertarungan politik sehari – hari ( apalagi tahun – tahun kemarin, tahun ini dan hingga tahun 2009, banyak momentum pergantian kekuasaan, Pilkadal maupun Pemilu). Terbongkarnya skandal korupsi KPU, DKP, Reshufle kabinet, Interpelasi DPR adalah bukti – bukti semakin kuatnya pertarungan di antara partai – partai besar. Disisi lain, perpecahan partai juga meluas. PDIP pecah dengan muculnya PDP, PKB dengan munculnya PKNU, demikian juga partai Demokrat yang di tinggalkan banyak tokoh – tokoh pendirinya. Kemunculan Hanura yang di ketuai oleh Jendral Wiranto – yang sebelumnya adalah Capres dari Partai Golkar – juga menunjukan persaingan ini.
Di sisi lain, tekanan dari DPD untuk mengamandemen UUD 1945, agar DPD juga mempunyai fungsi yang sama dengan DPR, menunjukan bahwa borjuasai lokal sedang bergeliat dan bertarung dengan borjuasi nasional.
Pertemuan Politik PDIP dan Golkar di Medan baru – baru ini, menurut saya lebih menegaskan semakian menguatnya pertarungan politik di antara faksi – faksi borjuis.

Dengan kosongnya kepemimpinan gerakan rakyat yang sedang melawan dan sangat mungkin berkembang menjadi huru – hara , dan di tengah persaingan politik antara antek – antek imperialis, akan ada bahaya manipulasi gerakan perlawanan rakyat oleh salah satu faksi Borjuis demi memantapkan posisinya sebagai agen imperialis ( bukankah PDIP mencari muka dengan menjadi partai oposisi, [19] PKS dengan citra bersih, PKB mencoba membangun citra sebagai partai hijau – partai peduli lingkungan – Bahkan Partai Cendana, membangun citranya sebagai Partai yang mendengar Nurani Rakyat – Partai Hanura - )

Taktik intervensi pemilu :

1. Intervensi pemilu dalam banyak pengalaman, tidak hanya dalam bentuk ikut menjadi peserta pemilu, ada bentuk intervensi lain, seperti Boikot Pemilu (menggagalkan pemilu dengan gerakan massa, demi kepentingan massa rakyat luas), atau Golput Aktif (seperti yang dilakukan oleh PRD tahun 1997 dengan mengkampanyekan Mega-Bintang-Rakyat untuk melawan Orde Baru – Gokar, Tentara, Birokrasi, Soeharto – atau seperti yang dilakukan Chavez tahun 1994, dengan mendelegitimasi pemilu dengan Propaganda Bukan Pemilu, tapi Majelis Konstituante. Kedua contoh di atas, secara nyata menunjukan keberhasilannya, Soeharto Jatuh tahun 1998 termasuk mendesak Militerisme hingga terpojok. Chaves menang pemilu di tahun 1998, dan berhasil membuat UUD yang sangat demokratis.

2. Kegagalan Papernas (dianggap demikian oleh sebagaian kawan), menjadi peserta pemilu, di sebabkan oleh 3 faktor utama, yakni :
a. Syarat pemilu yang sedemikian tidak demokrataisnya
b. Upaya menghancurkan Papernas secara fisik
c. Kemampuan Papernas menghadapi 2 hal di atas.

Semua kawan tentu saja sudah tahu(harusnya), bahwa membangun Partai Orang Miskin, Partai Alternatif, Partai Perjuangan, Partai yang anti Imperialis dan Bonekanya, pasti akan dihambat sekuat-kuatnya oleh siapapun yang menjadi musuh – musuh rakyat, sehingga seharusnya sedari awal PAPERNAS disiapkan untuk sanggup menghadapi kemungkinan ini. Jikapun kemarin, tidak ada serangan, atau dalam penstrukturan, kita mampu memenuhi syarat administrasi, maka PAPERNAS pasti lolos? Belum tentu, karena sangat mudah bagi siapapun musuh rakyat untuk menggagalkan PAPERNAS. Bisa dengan menyogok satu struktur, sehingga mundur, atau menangancam satu struktur, atau menyogok intansi terkait agar tidak meloloskan papernas, dan lain – dan lain kemungkinan. Dan kemungkinan itu selalu ada, selama PAPERNAS adalah Partai Perjuangan Rakyat Miskin.

Sekalipun terlambat dalam hal menguatkan PAPERNAS, namun bukan berati tidak bisa dilakukan kedepannya, apalagi kemunculan PAPERNAS telah memberikan harapan (dilihat dari luasnya struktur yang bisa didapat PAPERNAS) bagi rakyat, sehingga justru kedepan ini penguatan PAPERNAS menjadi keharusan, agar sanggup menanggung beban harapan rakyat miskin, yang penuh dengan rintangan, penuh dengan perjuangan, penuh dengan pengorbanan. Aksi, Pendidikan, Bacaan harus menjadi kombinasi pekerjaan penguatan, yang bermuara pada perluasan struktur.

Dengan semakin menguatnya PAPERNAS – tentu dengan dukungan rakyat yang makin meluas pula – hambatan UU maupun Respresif akan semakin sanggup diatasi, bahkan bisa dikalahkan. Atau dengan kata lain, PAPERNAS bisa ikut PEMILU atau PAPERNAS malah berhasil memimpin penggulingan Rezim sebelum pemilu.

Lalu bagaimana dengan peluang koalisi yang sebenarnya peleburan/menyatu dengan partai lain :

1. Harus di invetarisir partai mana yang bisa diajak menyatu. Tentunya berbasis pada kebijakan – kebijakan mereka selama ini terhadap rakyat miskin. Apakah ada partai yang lolos pemilu 2004, membela rakyat miskin? Tidak ada. Kalau ada, tidak perlu kita bangun PAPERNAS, cukup kita masuk ke partai tersebut.
2. Jika tidak ada partai yang membela rakyat miskin, apakah ada potensi partai yang nantinya mau membela rakyat miskin. Ini tentunya mesti dibuktikan dengan adanya kesepakatan programatik yang jelas,tegas membela rakyat miskin sekalipun tidak semua program perjuangan rakyat miskin disepakati.
3. Karena tidak semua program(apalagi karena fakta-fakta sejarah partai tersebut tidak membela rakyat miskin), maka harus ada kesepakatan di intenal PAPERNAS, bahwa PAPERNAS tetap akan melakukan kritik kepada Partai-partai yang menjadi sekutu dalam koalisi atau peleburan disamping PAPERNAS bebas melakukan aktifitas Ideologi, Politik, Organisasinya di luar hal – hal yang bisa disepakati bersama. Kesepakatan Intenal PAPERNAS ini, juga di bawa ke koalisi, dan jika tidak diterima, maka PAPERNAS harus keluar dari koalisi ini.
4. Dalam hal koalisi atau peleburan, kehendak untuk menjadikan PAPERNAS sebagai Ormas harus ditolak atau di siasati kalau mungkin. Jika UU yang mengatur koalisi atau peleburan mengharuskan PAPERNAS dibubarkan, maka dicari siasatnya agar PAPERNAS tidak bubar. Jika tidak ditemukan siasat, maka PAPERNAS harus keluar dari koalisi.
5. Jikapun semua syarat ini dipenuhi, tetap saja pekerjaan koalisi bukan pekerjaan pokok, melainkan sekunder, pekerjaan pokok PAPERNAS adalah membangun Ideologinya sendiri, Politiknya Sendiri, Membangun Organisasinya sendiri yaitu IPO pembebasan rakyat miskin.

1 Mempertahankan Politik Papernas Sebagai Alternatif

- Kehendak untuk membangun PAPERNAS sebagai PARTAI POLITIK sepenuhnya di sadari sebagai jawaban atas TIDAK ADANYA PARTAI POLITIK (tentu saja ada PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK namun kekuatannya kecil, dan PAPERNAS inipun adalah salah satu upaya PRD untuk membesarkan kekuatan RAKYAT) yang mampu memberikan jalan keluar bagi rakyat miskin Indonesia yang sedang di hancurkan oleh Imperialis (dengan kebijakan neoliberalisme) melalui boneka – bonekanya, bahkan bisa di katakan SEMUA PARTAI POLITIK di PARLEMEN adalah BONEKA-BONEKA IMPERIALIS.
- Itulah yang kemudian di rumuskan dalam Plafform Anti Imperialis ( dengan TRIPANJI) dan Program Demokratisasi termasuk budaya.
- Tentu saja kehendak ini tidak mudah, karena kekuatan politik pro imperilisme dengan berbagai cara telah dan akan terus berupaya menghancurkan PAPERNAS. serangan-serangan yang dilakukan oleh milisi-milisi reaksioner menunjukan bahwa kekuatan anti rakyat tidak menghendaki adanya PAPERNAS.
- Dengan demikian, keberadaan PAPERNAS sebagai PARTAI POLITIK sekalipun nantinya TIDAK LOLOS sebagai PESERTA PEMILU, HARUS TETAP DIPERTAHANKAN, untuk memberikan JALAN TERANG BAGI PERJUANGAN RAKYAT.

2. Mendorong Pembukaan Ruang Demokrasi Dengan Melakukan Mobilisasi–Mobilisasi Massa yang simultan dengan pendidikan dan bacaan

- Karena saat ini, demokrasi yang dibangun oleh kekuatan politik anti rakyat adalah demokrasi semu, demokrasi bagi orang kaya, maka tugas PAPERNAS adalah menjadi pelopor bagi perjuangan untuk membongkar keterbatasan dari demokrasi ( termasuk mekanisme pemilu) dan menuntut pembukaan ruang demokrasi yang lebih luas.
- Pembukaan ruang demokrasi ini, tidak bisa diletakkan dengan cara – cara lobby ataupun konspirasi elit, melainkan dengan melakukan mobilisasi – mobilisasi massa yang terorganisir.
- Dengan semakin terbukanya ruang demokrasi-sebagai hasil perlawanan rakyat yang dikobarkan oleh PAPERNAS-akan semakin memudahkan rakyat dan PAPERNAS untuk mendapatkan kemenangan-kemenangannya.
- Mobilisas massa sadar, itulah kuncinya, karena mobilisasi massa rakyat sadar, adalah sejatinya kekuatan perubahan. Mobilisasi – mobilisasi yang simultan dengan pendidikan, bacaan, akan terus meningkatkan kapasitas rakyat, meluaskan struktur dan akhirnya kekuatan besar rakyat miskin yang sanggup menentukan sejarhanya sendiri

3. Mengefektifkan Kepemimpinan Organisasi-Organisasi massa yang tergabung dalam PAPERNAS dalam perjuangan di sektornya masing – masing

- Dalam hal membesarkan PAPERNAS ( sebagai PARTAI FRONT ) maka, organisasi – organisasi yang mendukung dan terlibat dalam pembangunan Papernas selama ini, harus di dorong untuk membangun gerakan dan memimpin di sektornya masing – masing sekaligus membesarkan dirinya ( melakukan perluasan struktur)
- PAPERNAS sebagai PARTAI memberikan arah bagi perjuangan sektor yang di pimpin oleh ormas-ormas pendukung papernas. Ini salah satu kelemahan yang menonjol dalam kerja – kerja kemarin. Karena ini hanya kelemahan, maka kedepan ini bisa diperbaiki, dengan membuat rumusan yang tepat mengenai perjuangan masing – masing sektor ( tentu dengan perpesktif perjuangan teritorial )
- Potensi pembangunan ormas (ataupun ormas lokal yang telah terbentuk) hasil dari kerja pembangunan Papernas segera di satukan dengan ormas nasional. Sebagai contoh, di buruh saja, ada 3 serikat buruh yang tergabung yaitu SBTPI, FNPBI dan GSPB, namun belum terpimpin dalam satu kepemimpinan ormas, yang membuat gerak masing – masing ormas ini masih fragmentasi.

4. Mendorong Persatuan Dengan Kelompok Gerakan Lain.

- PAPERNAS sebagai Front dalam Bentuk Partai, bukanlah akhir dari pembangunan persatuan, melainkan baru tahap awal untuk membangun persatuan gerakan rakyat yang lebih luas. Oleh karena itu, ke depan, titik tekan pekerjaan pembangunan persatuan menjadi kerja utama dengan membuat panggung – pangung bersama yang terus dimajukan hingga menjadi alat persatuan yang permanen ( bisa bergabung ke papernas, bisa alat persatuan lain di mana papernas menjadi salah satu unsurnya )
- Pembangunan Front Persatuan yang lebih luas, dilakukan dengan Organisasi – Organisasi yang paling banyak irisan kesamaannya dengan papernas baik irisan programatik, irisan metode, irisan struktur maupun wilayah, sekalipun semua potensi lainnya harus tetap diajak untuk bersatu.

5. Menguatkan Intenal PAPERNAS

- Meregulerkan koran Berdikari, dan membangun komite – komite berdikari
- Membuat terbitan internal (khusus pengurus papernas)
- Membuat sekolah partai dan meregulerkan pendidikan alternatif
- Membuat satgas – satgas pengaman partai- di PKS namanya kepanduan –
- Membangun budaya mandiri dalam hal pendanaan, dalam berbagai bentuk mulai dari iuran hingga pembentukan unit usaha partai.

Catatan Kaki:
[1] Koordinator Departemen Perjuangan Rakyat DPP PAPERNAS
[2] Data statistik yang di keluarkan oleh BPS bulan mei 2007 menunjukan, bahwa saat ini ada 10,55 juta orang. Namun menurut Drajad Wibowo, jumlah pengangguran di Indonesia lebih tinggi dari data yang di keluarkan BPS. Republika Online, 16 mei 2007.
[3] Dr.Ir Eddy Yusuf dalam tulisannya di Harian Pikiran Rakyat 16 januari 2007
[4] Investasi di sektor riil dalam kurun waktu 2006, hanya 2,91 % lebih rendah di bandingkan tahun 2005 yang mencapai 10,8 %. Sementara untuk pasar saham dan modal mencapai Rp 142,5 triliun. Dana tersebut terdiri dari Rp 77,2 triliun yang ditempatkan di SUN, Rp 45,3 triliun di SBI, dan sekitar Rp 20 triliun diinvestasikan di pasar modal.
[5] Kompas, 2 juni 2007.
[6] Kompas, 3 mei 2007.
[7] Secara keseluruhan proyek syarihaisasi daerah telah meliputi 6 Propinsi, 38 Kab. 12 Kotamadya dengan total aturan syariah 8 Perda Propinsi, 6 Qanun Propinsi, 1 SK Gubernur, 41 Perda Kabupaten, 8 Surat Edaran Bupati, 7 SK Bupati, 2 Renstra (Rencana Strategis) Kabupaten, 7 Perda Kota dan 2 Intruksi Walikota. (Jurnal Reform Review,Vol I, april – juni 2007).
[8] Yang paling mendapatkan perhatian dan solidaritas adalah penembakan petani di Pasuruan oleh TNI AL, yang menyebakan terbunuhnya 4 orang petani.
[9] Yang paling sering di intimidasi adalah partai persatuan kita, PAPERNAS. Juga ada kelompok – kelompok lain yang mengalami intimidasi seperti diskusi toko buku ultimus, pertemuan eks gerwani dll.
[10] Yang terakhir (22/07) adalah pembubaran Diskusi Lintas Agama di Solo “ Membangun Ketahanan Masyarakat Sipil Tanpa Kekerasan “ oleh aparat kepolisian karena desakan dari Laskar Umat Islam Solo.
[11] Ini hanya sebagian kecil dari aksi – aksi pemblokiran jalan yang di lakukan rakyat pada tahun 2007. Belum termasuk aksi – aksi pemblokiran jalan pada tahun 2006 atau sebelumnya.
[12] Dokumen hasil – hasil konferensi nasioanal ABM juli 2006. Bisa juga di baca dalam Max Lane "Bangsa yang belum selesai, Indonesia sebelum dan sesudah Soleharto"
[13] Khusus untuk jaringan AGRA, upaya persatuan yang dilakukan masih sebatas lingkaran mereka sendiri – dan cenderung sektarian -
[14] Awalnya gagasan ini muncul pada saat pertemuan Parung, yang di fasilitasi oleh ABM dan FSPI pada bulan januari 2007, namun baru terlaksana sekarang.
[15] Sebagaian gerakan buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota dan juga LSM telah mengangkat isu penghapusan hutang luar negeri dalam aksi – aksi nya.
[16] Survey LSI bulan meret 2007 menunjukan bahwa 49,2 % rakyat (responden) menghendaki pertambangan di kelola oleh negara bukan asing. Dalam survey yang sama; 76, 7 % tidak setuju penjualan perusahaan negara ke swasta (privatisasi).
[17] Bukan karena kesungguhan untuk melawan Imperialisme, melainkan sekedar menaikan bargain di depan faksi – faksi borjuis lainnya.
[18] Survey LSI di bulan maret 2007 menunjukan bahwa 65 % responden merasa kepentingan, aspirasi, dan keinginan politiknya tak terwakili oleh sikap dan perbuatan partai politik yang ada, dan hanya 23 % yang mempunyai loyalitas terhadap partai – partai parlemen sekarang ini. Popularitas SBY – JK pun menurun tajam, dari 80% dan 77 % pada awal berkuasa, menjadi 49,7% dan 46,9%.
[19] Survey LSI yang sama juga menunjukan bahwa jika pemilihan di lakukan pada saat ini (saat survey di lakukan), maka PDIP menempati urutan pertama (19,7 %) namun masih jauh di bawah rakyat (responden) yang belum menentukan pilihan (30,6%).
Read More......

[Debat-Papernas] Kita Lanjutkan Politik Alternatif dengan Papernas dan Ormas

MW Sadmoko
(tawaran untuk Presidium nasional Papernas 29/8/07)

Ini hanya point-point yang penting untuk memilih taktik kita ke depan

- Perlawanan rakyat terus bergerak, meluas, juga meningkat metode dan serangan politiknya. Aksi massa dengan blokade jalan dan pendudukan bukan jarang lagi, aksi massa untuk penggulingan kekuasaan teritorial semakin sering, aksi massa berhari-hari dan berlanjut lain hari terus berjalan. Belum lagi menghitung potensi, seperti keresahan rakyat atas kelangkaan minyak tanah yang terjadi belakangan ini yang terus mengumpulkan massa, juga kekurangan air dan sebagainya. Inilah kenyataan saat ini, gerak yang secara umum adalah spontan, ekonomis dan masih belum tersatukan (atau masih fragmentatif).

- Di kalangan organisasi gerakan pun masih belum ada bentuk persatuan yang kokoh, sehingga muncul sebagai alternatif yang diterima rakyat secara luas. Tapi bukan sama sekali diam; ada saja bentuk-bentuk persatuan (sektoral maupun multi-sektor), ada juga perluasan struktur (seberapapun), terus juga memberikan propaganda politik melawan kekuasaan dan imperialisme, dan sebagainya. Sekali lagi ini memang belum besar (politik-organisasi), selain juga ada yang mengintegrasikan diri dengan partai besar di parlemen.

- Tentu masih lebih banyak lagi massa rakyat yang belum berlawan, sekalipun dengan himpitan persoalan yang sama. Sekaligus menjelaskan bahwa kesadaran adalah basis munculnya perlawanan, bukan semata karena himpitan persoalan. Itulah kenapa gerak rakyat melawan penindasan Belanda, juga Soeharto-Orde Baru, tidak sejak adanya penindasan itu sendiri, tapi sejak kesadaran berlawan menguat dan membentuk tindakan perlawanan. Menjadi perlawanan pun, membutuhkan kesadaran baru lagi, untuk menjadi perlawanan yang politis.

- Kehendak perubahan yang disodorkan kalangan gerakan secara politik pasti lebih maju. Banyak kelemahan politik di kalangan gerakan, dalam hal program dan stratak, tidak bisa dianggap bahwa belum ada kesadaran merubah kekuasaan dan kehendak berkuasa itu sendiri. Begitu ada kesadaran dan kehendak berkuasa, memang belum sekaligus bermakna adanya kesanggupan dan ketepatan membangun kesanggupan tersebut. Upaya membangun kesanggupan memenangkan politik misalnya, terpenting bagi organisasi dan persatuan organisasi gerakan adalah memenangkan dukungan dari massa rakyat luas, dengan berbagai bentuk taktik. Namun dalam hal taktik ini, secara umum organisasi gerakan tidak memilih taktik parlementer.

- Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas) didirikan untuk menjadi partai alternatif bagi rakyat, tapi tanpa keterlibatan dan dukungan organisasi gerakan yang luas. Perluasan telah dijalankan dan menghasilkan banyak struktur, tapi belum cukup untuk memenuhi syarat dari negara, sebagai peserta pemilu. Hambatan terhadap Papernas jelas, baik berupa undang-undang yang selalu memberikan syarat yang sangat berat (dan mengarah lebih berat lagi), maupun secara khusus adanya represi terhadap Papernas, juga hambatan yang lain. Namun sejak awal kita menyadari sepenuhnya, selalu saja akan ada hambatan bagi kehendak rakyat membangun sistem kekuasaannya. Sejak awal juga kita tahu bahwa mengatasi hambatan ini utamanya adalah dari seberapa besar kekuatan Papernas, seberapa besar dukungan rakyat terhadap Papernas, tidak ada jalan lain. Sebab nanti sudah besarpun, nanti sudah berkuasa pun, hambatan dari kekuatan politik anti rakyat dan anti Papernas terus saja akan datang. Sehingga terang bagi kita, Papernas tidak sanggup menjadi peserta pemilu adalah karena kurang besarnya kekuatan kita untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Dengan kata lain, politik kita, politik rakyat miskin, politik Papernas, untuk sanggup ditampilkan sepenuhnya sebagai salah satu pilihan bagi rakyat dalam pemilu, adalah hanya dengan bekerja untuk mendapatkan dukungan rakyat. Karena untuk membangun sistem yang menguntungkan rakyat miskin harus dibangun pemerintahan rakyat miskin, yang untuk itu membutuhkan dijalankannya politik rakyat miskin dengan kekuatan utama adanya kekuatan rakyat miskin itu sendiri, yang untuk itu membutuhkan partai yang sebenar-benarnya adalah partainya rakyat miskin sendiri.

- Di tengah ketidaksanggupan Papernas menjadi peserta pemilu 2009, datang peluang koalisi dengan PBR dan Pelopor. Semakin hari semakin jelas peluang ini, dan tepatnya adalah peluang penggabungan atau merger atau fusi partai, bersama dua partai yang sekarang sudah duduk di DPR/DPRD. Peluang ini jika diambil akan memungkinkan Papernas menjadi bagian dari satu partai yang bisa mengikuti pemilu 09 tanpa harus verifikasi, Depkumham maupun KPU. Jika undang-undang pemilu nanti membolehkan bentuk penggabungan ini, dan Papernas masuk dalam fusi ini, maka dengan atas nama PBR, caleg-caleg dari Papernas memungkinkan tampil dalam pemilu dan memungkinkan duduk di DPR atau DPRD.

- Peluang penggabungan Papernas ke partai lain (baik partai yang sudah ada di parlemen maupun partai baru) mungkin saja lebih dari satu. Bahkan sejak awal sebelum mendirikan Papernas, bisa saja persatuan organisasi dan individu dalam Papernas sekarang memilih untuk masuk dan menjadi bagian dari partai lain yang lebih mungkin sebagai peserta pemilu. Jika ini dilakukan sejak awal tentu saja tidak diperlukan kerja keras penstrukturan mengejar syarat negara, mungkin juga tidak perlu mendapatkan represi dari kalompok reaksioner. Atau sejak awal kalaupun melakukan perluasan dan mobilisasi politik, secukupnya saja untuk memperbesar peluang penggabungan ke partai lain, karena semakin luas struktur semakin juga posisi dihargai.

- Namun sejak awal posisi kita adalah membangun Papernas (dengan Tri Panji dan program mendesak rakyat), mendirikan partai sendiri, meluaskan struktur dengan sekuat tenaga dari setiap massa rakyat yang mendukung partai dan program partai, dan bukan mencari-cari untuk dipilih mana partai lain yang bisa kita bergabung. Posisi ini menjelaskan sekaligus apa kepentingan politik-organisasi kita, dalam upaya membangun kekuatan alternatif bagi rakyat. Dari semua partai yang ada sekarang, yang stabil ataupun tidak stabil ataupun yang sedang ada perubahan internal, kita anggap tidak bisa menjadi kekuatan alternatif itu sendiri. Kita tidak memilih mana partai yang kalau dimasuki akan sanggup menjadi partai alternatif, tidak, tidak begitu karena memang tidak ada yang sanggup demikian. Kita mendirikan Papernas karena tidak ada partai lain yang sanggup menjawab persoalan rakyat, kita mendirikan Papernas karena tidak ada partai yang kalau kita masuk didalamnya akan menjadi partai yang sanggup memberikan jalan keluar bagi rakyat. Kualitas partai-partai lain ini tidak akan mudah berubah, bahkan situasi politik besar pun belum tentu bisa merubahnya (ingat pengalaman PDI, kemudian jadi PDIP, pengalaman politik massanya melawan kediktatoran Soeharto luar biasa besar, tapi politik PDIP tetap saja seperti sekarang, kalaupun ada Budiman hanyalah Budiman yang mengusung politik PDIP dan bukan sebaliknya). Apalagi hanya karena Papernas gagal jadi peserta pemilu, tentu jauh dari kesanggupan untuk mengubah partai lain menjadi partai rakyat, partai alternatif, partai yang ke depan akan memberikan jalan keluar bagi persoalan rakyat.

- Peluang penggabungan ke partai lain mungkin saja memberikan keuntungan politik, atau ada manfaat politik jika diambil oleh Papernas. Di sisi lain mungkin juga memberikan kerugian politik-organisasi bagi Papernas dan bagi perjuangan rakyat memenangkan kepentingannya. Dengan cermat seluruh anggota Papernas harus membuat kajian dan penilaian dalam hal ini. Bekerja sama dengan kaum borjuasi memang selalu harus dalam kajian yang mendalam, bukan karena ketakutan personal kita saja, tapi lebih penting adalah untuk memastikan bahwa politik rakyat tidak dirugikan dalam kerja sama atau persatuan tersebut. Apalagi persatuan dengan borjuasi yang dalam pengalaman sebelumnya tidak pernah menjadi bagian dari gerakan rakyat memperjuangkan kepentingan rakyat. Apalagi persatuan dengan borjuasi untuk lolos pemilu. Sebab sangat berbeda persatuan antara kekuatan rakyat dengan kekuatan borjuasi untuk menyerang musuh yang lebih besar, atau persatuan dengan berjuasi ketika sudah di parlemen atau pemerintahan untuk satu program yang juga penting bagi rakyat, dibandingkan dengan persatuan lolos pemilu, dibandingkan dengan persatuan untuk masuk parlemen.

- Partai gabungan ini, dengan Papernas di dalamnya, kalaupun dilakukan tentu saja adalah merupakan arena kompromi bagi kita, sebagai arena minimum bagi Papernas. Tentulah ini bukan persatuan demokratik dari kekuatan politik yang selama ini memperjuangkan kepentingan rakyat (di jalanan maupun di parlemen), tentu saja hanya sebagian saja politik Papernas bisa diusung dalam alat ini. Sehingga jelas tidak bisa kita meninggalkan alat perjuangan kita sendiri, menanggalkan politik kita sendiri, dan hanya menyandarkan pada partai fusi ini.

- Peluang fusi ke partai lain akan memberikan keuntungan dan bisa dilakukan hanya jika:
1. Di luar partai fusi ini, Papernas dan ormas-ormas terus bisa leluasa menjalankan politiknya sendiri. Papernas tetap sebagai partai politik dan terus mengusung politiknya secara utuh, tanpa ada pergantian/penghalusan program, juga dalam istilah-istilah. Dengan disangga oleh efektifitas politik-organisasi ormas, Papernas akan tetap mengambil propaganda di ajang-ajang radikalisasi yang besar (misalnya dalam radikalisasi 3 bulanan dari lintas ormas). Perluasan struktur dan massa Papernas tetap jalan terutama dari perluasan ormas, sekalipun tidak harus ada plang nama sekalipun. (Hati-hati dengan perubahan nama Papernas, karena kalau diumumkan ke rakyat sudah bukan sebagai Partai, sebagai partai hanya dalam hati masing-masing anggota, itu sama saja sudah membubarkan Papernas sebagai partai politik. Bahkan perubahan namapun harus dengan Kongres)
2. Fusi dilakukan dengan landasan kesepakatan program yang jelas. Seberapapun yang disepakati (kita sadar atas keterbatasan ini) oleh partai fusi, haruslah jelas atau tidak abstrak sehingga mudah dipahami rakyat (program abstrak misalnya: Perlindungan Kekayaan Alam. Biar tidak dikira organisasi lingkungan). Termasuk di dalamnya adalah program tentang demokrasi.
3. Jika ada struktur teritorial partai fusi tidak menjalankan program bersama, atau bahkan bertentangan, kita (Papernas dan ormas) di teritori tersebut berhak tidak mendukung dan bahkan mengkritik. Jika banyak struktur partai fusi bertentangan dengan program bersama, maka Papernas harus keluar dari partai fusi.
4. Keleluasaan Papernas dalam partai fusi harus tertuang dalam MoU. Dan sebelum kesepakatan tertulis dilakukan, maka fusi belum bisa dijalankan.
5. Target utama kita dalam partai fusi adalah propaganda, supaya membantu atau mendorong dan memberi keuntungan bagi politik kita di luar partai fusi. Efektifitas politik partai fusi selanjutnya akan diteruskan dan memperbesar politik Papernas atau ormas.

- Kekuatan utama organisasi Papernas dan ormas adalah mengembangkan struktur ormas, menjalankan politik ormas, sekaligus menopang perluasan politik-organisasi Papernas. Secara nasional semua ormas akan melaksanakan radikalisasi 3 bulanan (bukan semata jadwal, tapi konsep pembesaran politik dan organisasi, seperti pengalaman DKI). Efektifitas pelaksanaan radikalisasi 3 bulanan ini, dengan capaian politik dan organisasi, adalah memungkinkan sekaligus menjadi basis suara bagi caleg kita di partai fusi (bukan radikalisasi untuk caleg, tapi radikalisasi karena politik rakyat yang sebenarnya, yang bisa diambil untung untuk basis suara caleg).

- Tidak perlu dilaksanakan konsentrasi tenaga secara nasional untuk partai fusi, termasuk di dapil kita, karena akan menggangu perkembangan organisasi secara nasional, termasuk ormas yang telah sekian lama tidak melaksanakan radikalisasi dan penguatan internal.

- Penguatan politik dan organisasi ormas dan Papernas, dilakukan dengan melaksanakan radikalisasi 3 bulanan (lihat pengalaman DKI). Radikalisasi bisa dimulai dari aksi bulan Januari 2008, serentak di semua wilayah, dengan peluang di pemilu (partai fusi) sebagai salah satu mimbarnya.

Sekilas Belajar dari Pengalaman DKI Menjalankan Radikalisasi Tiga (3) Bulanan

Mari kita mulai dari bagaimana konsep radikalisasi 3 bulanan di DKI, terutama SRMK. Inilah juga penopang kampanye nasional Papernas, dengan mobilisasi ribuan. Kepentingan utama dari pelaksanaan radikalisasi 3 bulanan ini adalah terjadinya mobilisasi dan terjadi peningkatan kesadaran massa. Pertama mobilisasi, adalah wujud dari perluasan struktur dan massa yang menunjukkan kesanggupan rakyat untuk memenangkan kepentingannya. Basis mobilisasi adalah adalah dari struktur sendiri yang sudah ada, teritori perluasan, dan massa dari front. Mimbar bagi mobilisasi ini pada prinsipnya adalah setiap peluang yang paling memungkinkan, untuk membangun kekuatan revolusi. Termasuk di dalamnya, secara konsep, sebenarnya adalah mimbar dari arena elektoral. Tentu saja bukan sebaliknya, diarahkan untuk elektoral, tapi mimbar elektoral untuk memperkuat barisan revolusioner. Kedua peningkatan kesadaran, yang diolah dari kebutuhan mendesak rakyat dan selanjutnya kesanggupan rakyat melawan. Terhadap persoalan yang sedang dihadapi rakyat, sampai bentuk konkret yang menghimpit, diletakkan pada arah politik sejati. Dalam proses berlawan yang terus berlanjut, terus sampai pada program lebih maju, dengan diletakkan pada kesanggupan massa yang lebih siap (massa dilibatkan merumuskan apa persoalan yang hendak diangkat, sekaligus diberi ruang untuk berpendapat tentang kesanggupan mengusung isu).

Tahapan

Investigasi

Tahap investigasi adalah bentuk kerja bertanya kepada rakyat (dengan angket, tanya langsung, atau bahkan dengan ngobrol santai), dengan sasaran di basis sendiri, di daerah perluasan, juga di teritori geo-politik. Dari investigasi ini sekaligus adalah mematerialkan penerimaan massa tentang kesimpulan organisasi mengenai persoalan rakyat yang penting segera diangkat, dan kesanggupan perlawanan massa. Dengan kata lain, untuk bisa mengatasi persoalan rakyat dengan kekuatan rakyat sendiri.
Investigasi ini dijalankan bertingkat dalam hal isi: dari persoalan paling mendesak, persoalan yang tidak mendesak, sampai pada persoalan politik. Aksi pertama belum sebut SBY gagal, baru di aksi kedua. Dari hasil investigasi, disimpulkan arah kesanggupan mobilisasi massa, sekaligus isi politik yang harus semakin dikembangkan. Untuk kepentingan radikalisasi multisektor, investigasi dari basis sektoral baru kemudian diatur, dalam kepentingan untuk adanya . kesadaran politis dan multisektor.

Penyadaran

Tahap penyadaran ini intinya adalah mengobati kesadaran rendah (sektarian, takut dll), juga menyadarkan isu yang akan dituntut (dari hasil investigasi). Dalam tahap ini, isu yang disodorkan harus komprehensif, sekaligus menegaskan bahwa jalan keluar yang dibutuhkan bukan di elit atau pemerintah, tapi dari perjuangan rakyat sendiri. Secara umum penyadaran ini berupa penyadaran kognitif dan penyadaran metode proletariat: aksi massa. Bentuk di masa penyadaran ini bisa macam-macam (seminar, diskusi, selebaran, film dll), dari yang reformis sampai yang revolusioner (termasuk dalam bentuk aksi-aksi, selama tidak mengganggu aksi 3 bulanan itu sendiri). Dalam masa inilah arah revolusi terus dipropagandakan, sehingga misalnya membuat diskusi dengan mendatangkan elit DPR, massa akan tagihkan kepentingannya, sekaligus menyadari mana yang reformis dan mana yang revolusioner, tanpa ada lagi ketakutan untuk bertemu dengan siapapun. Inilah juga upaya menghindari jeratan arena moderat dan sogokan penguasa (BLT, Gakin, dsb, yang jelas reformis tapi efektif mewadahi massa itu). Kepada massa harus jelas, bahwa pengobatan penyakit/persoalan massa ini harus revolusioner.

Mobilisasi

Tahap mobilisasi adalah tahap yang menjadi patokan keberhasilan dukungan massa, sebelum bergerak dalam aksi. Massa sanggup/siap aksi harus jelas, ternyatakan, bahkan dengan tanda tangan. Dalam masa ini isu yang akan diangkat diperjelas, supaya seluruh peserta aksi tahu konkret sampai redaksional isu yang diangkat (setelah massa didiskusikan dalam masa penyadaran). Aksi berjalan dari massa siap aksi tersebut. Secara lengkap setting aksi disampaikan ke massa.

Selain tiga tahap di atas, ada pekerjaan yang dikerjakan simultan sejak tahap awal, yaitu front dan dana juang.

Manajemen diatur dalam bentuk waktu 3 bulan dibagi menjadi Tahap Penyadaran 75% dari 90 hari, kemudian Investigasi dan mobilisasi 25% (biasanya investigasi 10% dan mobilisasi 15% dari waktu 90 hari)

Kemudian Aksi

Paska aksi, keseluruhan hasil proses semua dilihat: Front, Perluasan, Dana juang, Pendidikan, Papernas, Mahardhika dan Jaker, Manajemen, Badan urusan kontradiksi, Unit usaha. Dan kemudian membuat dan menjadwalkan Konferensi Stratak.***
Read More......

[Papernas] Indonesia: Perjuangan Melawan Ketertinggalan*

* Satu-satunya statement terbuka PRD-PAPERNAS yang menyatakan rencananya untuk 'berkoalisi' dengan partai Islam borjuasi. Sejauh ini tidak ada pernyataan terbuka serupa di media nasional terhadap rencana tersebut.

Green Left Weekly, 7 Desember 2007
Jonathan Strauss

Dita Sari, ketua majelis pertimbangan Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas) serta anggota majelis pertimbangan Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), berbicara pada Green Left Weekly, disela-sela forum Latin America and Asia Pacific International Solidarity (LAAPIS) yang diselenggarakan di Melbourne dari tanggal 11-14 Oktober, mengenai perjuangan kaum buruh Indonesia.

Sari menjelaskan bahwa kampanye industrial yang pokok di Indonesia saat ini adalah melawan upaya pemerintah mengurangi pesangon kaum buruh yang menerima upah lebih tinggi, yang dinilai diskriminatif, serta memudahkan pemehakaan terhadap buruh. Namun, menurutnya, Papernas juga mencoba mengajak kaum buruh melakukan pendekatan yang lebih politis dan mensukseskannya pada kampanye partai yang lebih luas.

Sari mengatakan: “Salah satu kampanye utama Papernas adalah mengatasi keterbelakangan dan mendorong pembangunan ekonomi dan industri nasional, agar lebih mengandalkan pada sumber daya ekonomi nasional, daripada bergantung pada investasi asing. Kami ingin kaum buruh mendukung program ekonomi ini dan meletakkan tuntutan mendesaknya di dalam kerangka tersebut.”

Pembangunan Nasional

“Menurut kami, jika ekonomi nasional begitu besar bergantung pada investor asing, kondisi buruh akan bertambah buruk. Investor-investor (tersebut) menginginkan liberalisasi dan ‘fleksibelitas tenaga kerja’. Kami ingin kaum buruh menyadari bahwa ini bukan saja sekedar tuntutan mendesak di dalam pabrik, namun juga menyangkut bagaimana cara agar kaum buruh berkontribusi dan memainkan peran yang signifikan dalam melindungi industri nasional kami.”

Ini merupakan bagian dari program Papernas, lanjut Dita, yang menuntut agar mempertimbangkan peluang, jika akan menguntungkan kerja partai, untuk melakukan aliansi taktis terbatas dengan para pemilik bisnis skala kecil dan menengah. “Mereka juga diserang oleh investasi asing dan kebijakan pemerintah dengan kejam. Distribusi dan jaringan mereka dihancurkan untuk memberikan jalan bagi investasi asing.”

Sari menjelaskan bahwa membangun ekonomi nasional berarti membangun kontrol berskala lebih luas terhadap perusahaan-perusahaan dan menata ulang orientasi ekonomi negeri.

“Semua orang yang berada di dalam kekuasaan politik”, ia berpendapat, “harus memastikan seluruh kontrak dengan perusahaan-perusahaan pertambangan, khususnya minyak dan gas, yang merupakan sumber energi utama kita, ditinjau ulang”. Pajak-pajak terhadap perusahaan-perusahaan tersebut harus dinaikkan. “termasuk apa yang harus dilakukan perusahan-perusahaan tersebut untuk melindungi lingkungan, demikian pula tanggung jawab sosial mereka—apa yang harus mereka keluarkan untuk sekolah-sekolah dan pembangunan infrastruktur di daerah tersebut. Tanggung jawab pemerintah terhadap cost recovery, khususnya bagi perusahaan minyak, harus dikurangi, karena perusahaan-perusahaan tersebut mengambil untung lebih dari sini dan membayar royalti lebih sedikit. Juga, seharusnya tidak ada pelanggaran hak azasi manusia, khususnya terhadap masyarakat pribumi.”

Sari mengatakan: “salah satu hal terpenting adalah transfer teknologi. Perusahaan-perusaahan barat beroperasi di negeri kami selama bertahun-tahun, namun mereka tidak mau mentransfer teknologi. Mereka mambuat kami bergantung pada teknologi mereka. Dalam lima atau sepuluh tahun harus ada suatu transfer teknologi. Ini harus termasuk di dalam kontrak.”

Sari juga mengemukakan mengenai konsentrasi untuk meningkatkan pertanian. “anda harus memroduksi paling tidak makanan pokok yang anda makan. Anda tak bisa begitu saja melakukan impor.” Dampak impor barang-barang adalah satu hal, karena bertambahnya ancaman kehancuran bagi seluruh sektor, termasuk beras. Kebijakan (produksi makanan pokok) ini juga akan mengatasi pengangguran, yang menjadi persoalan utama di pedesaan.”

Sari membandingkan pembangunan pertanian dengan produksi tekstil, pakaian, dan alas kaki. “Sudah terlalu banyak (produksi yang demikian). Perubahan orientasi ekonomi semacam ini sangat penting.”

Kedudukan pemerintahan yang sangat pro-neoliberal, lanjut Sari, merupakan halangan utama untuk mengatasi persoalan-persoalan ini. “(Peremerintah ini) sangat mudah mengatakan ya terhadap banyak proposal dari berbagai institusi keuangan internasional, pemerintah-pemerintah serta perusahaan asing.”

Papernas juga menghadapi lebih banyak persoalan mendesak dalam kampanyenya. Sari mengatakan: “Banyak aktivitas kampanye, konferensi dan bahkan pertemuan internal kami diserang, terkadang secara fisik, oleh kelompok-kelompok yang menamakan diri Islam.”

Fragmentasi sosial, khususnya dalam gerakan, juga merupakan hambatan untuk berkampanye. “Semua orang terpecah-pecah. Semua orang sibuk dengan isu, pertemuan, dan aktivitas harian mereka sendiri-sendiri, seperti urusannya sehari-hari.” Sari mengatakan bahwa memecahkan persoalan ini adalah suatu tantangan. “Kami terus mengetuk pintu-pintu itu. Kami terus mengajak Ayo, Ayo, Ayo, kepada gerakan sosial.”

“Namun saat ini”, Sari melanjutkan, “kami juga memfokuskan pada pembangunan partai, dan membangun suatu koalisi dengan partai lain, yang tidak kiri, revolusioner, atau progressif, namun dalam tingkatan tertentu dapat menerima program kami, sehingga kami dapat berkampanye melalui struktur mereka; bersama basis massanya; memberikan mereka pengertian terhadap program kami; serta mengorganisir dan berkampanye diantara massa dalam kerangka itu.

“Sebelumnya kami memfokuskan kampanye diantara gerakan sosial. Namun kami lihat gerakan sosial sangat terfragmentasi dan kadang sangat sektarian serta apolitis. Apa yang hendak kami lakukan sekarang adalah mengkampanyekan program kami diantara basis massa dan struktur-struktur partai Islam ini yang hendak kami targetkan untuk suatu koalisi.

Menjangkau Massa

“Kami mencari taktik-taktik untuk menjangkau massa. Massa tak hanya di dalam gerakan sosial dan kelompok-kelompoknya. Sebagian besar massa tidak tersentuh oleh gerakan sosial. Kami sedang memikirkan bagaimana menemukan suatu cara agar dapat menjangkau massa tersebut: dengan cara apa, apa alatnya, apa medianya, apa jembatan kepada massa? Lalu kami melihat peluang bersama dengan partai Islam yang menawarkan kami suatu koalisi.

Mereka jauh lebih besar dari kami. Mereka memiliki 14 kursi di DPR, 190 kursi di DPRD, dan 2,8 juta orang yang memilih mereka. Bekerja di dalamnya akan memberi kami suatu cara untuk menjangkau massa dan membuat pesan kami didengar.”

Berbicara (dalam forum) LAAPIS, Sari mengusulkan suatu gagasan mengenai transformasi dari gerakan sosial menjadi gerakan politik. Ia menjelaskan bahwa hal ini bermakna dua hal: “Dalam gerakan sosial itu sendiri, harus ada suatu upaya yang kami lakukan sehingga mereka dapat mengubah cara pandang terhadap politik. Anda tak bisa hanya sebagai kelompok penekan yang melakukan mobilisasi setiap kali (Presiden Amerika Serikat) George Bush atau WTO datang. Anda tak bisa hanya melakukan itu, berdemonstrasi untuk setiap kebijakan pemerintahan baru. Anda harus maju menjadi gerakan yang lebih politis.

“Dan (hal lainnya) adalah bekerja untuk menemukan peluang lain dalam melakukan aliansi serta mendorongnya untuk lebih terpolitisasi. Kami ingin mengatakan bahwa gerakan sosial bukanlah satu-satunya peluang untuk melakukan aliansi dan berbicara pada massa.”

Dalam konferensi, Sari menekankan “dalam hal taktik-taktik baru yang sedang kami coba untuk membangun kiri dan membuat kiri didengar serta mendapatkan basis yang solid, kami (dapat) menjelaskan jalan dan taktik kami, serta dinamika politik dan sosial di Indonesia. Kami menerima masukan, kritisisme, dan gagasan-gagasan dari kawan-kawan di seluruh dunia mengenai taktik ‘kontroversial’ kami ini.

Sari menjelaskan bahwa taktik koalisi dengan partai Islam telah terbukti kontroversial. Sari mengatakan bahwa ia ingin “mengingatkan kawan-kawan bahwa (Partai Rakyat Demokratik—kelompok utama yang membentuk Papernas) melakukan aliansi semasa rejim borjuis Gusdur, yang memiliki karakter yang lebih demokratik. Terdapat banyak kritisisme terhadap kami di masa itu dan bahkan sekarang.

Kami memiliki jalan baru ini, yang menurut kami sesuai dengan perjuangan kami. Kami ingin kawan-kawan lainnya mendengar, memahami, dan memperdebatkan hal ini.

Dari: International News, Green Left Weekly issue No. 735, 12 Desember 2007.

Read More......

TERBITAN KPRM-PRD